
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Sandy menatap rantang nasi yang diberikan oleh Sandra. Lelaki itu tersenyum menggeleng. Setelah hatinya lama mati, apakah kali ini akan hidup kembali? Oleh gadis yang berprofesi sebagai perawat dirumah sakit nya.
Sandy membuka rantang nasi itu. Lagi-lagi ia tersenyum melihat tatapan tapi sayur didalam nya. Walau makanan ini bukan untuk nya tapi sekarang akan berdiam nyaman didalam perutnya.
"Ehem, enak sekali. Tidak kalah dengan masakkan Rachel," Sandy makan dengan lahap. Padahal tadi dia sudah sarapan dirumah bersama keluarga nya.
"Tidak sia-sia aku mengambil makanan ini," ia terkekeh pelan sambil tersenyum.
Drt drt drt drt drt
Ponselnya berdering. Lelaki itu mendengus kesal. Ia sedang asyik makan tapi ada-ada saja yang menganggunya.
Keningnya berkerut heran saat melihat nama Choky tertera disana.
"Ada apa?"
Lama Sandy berbicara dengan Choky di telpon sambil melanjutkan makannya. Choky akan kembali ke Indonesia bersama Chicha untuk melanjutkan perusahaan mereka yang ada disini, sedangkan Chicha akan bekerja di perusahaan Choky sebagai karyawan magang sementara. Jika kinerja nya bagus maka akan diangkat oleh Choky sebagai salah satu karyawan tetap dikantornya. Tapi jika pekerjaan Chicha jalan ditempat maka ia akan membawa adiknya kembali pulang ke Sidney.
"Huffh," Sandy menghela nafas panjang dan menyudahi makannya. Makanan yang diberikan Sandra habis tak bersisa.
"Kak,"
"Astaga," Sandy mengelus dadanya pelan saat Rayyan masuk. "Kau ini," gerutunya.
Kalau Rayyan sudah datang ke rumah sakit sudah pasti lelaki itu ada mau nya.
"Ada apa kau kesini?" tanya Sandy ketus.
Rayyan langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruangan Sandy. Sebagai seorang direktur rumah sakit, Sandy memiliki ruangan yang mewah dan lengkap dengan segala fasilitas.
"Putus cinta?" tebak Sandy sambil duduk di sofa.
"Ehh Kakak bawa bekal?" tanya Rayyan melihat rantang nasi dimeja Sandy.
__ADS_1
"Yup," Sandy menjawab singkat. "Ada apa?" tanya nya lagi.
Rayyan menghembuskan nafas nya kasar. "Kak rasanya aku ingin pindah planet saja. Aku malas ditanya kapan menikah terus oleh Daddy dan Mommy? Padahal mereka tahu bahwa aku tak ingin menikah dan takkan menikah. Aku tidak mau terikat," curhat Rayyan. "Ahh semua wanita itu saja," keluh Rayyan kembali membaringkan tubuhnya.
Sandy mendelik. Dia pun sama seperti Rayyan yang malas sekali ditanya kapan menikah? Pertanyaan-pertanyaan tak bermutu yang membosankan, menjengkelkan dan menyebalkan. Pokoknya pertanyaan itu adalah horor bagi para jomblo seperti mereka.
"Jadi tujuanmu datang kesini?" ujar Sandy sambil sibuk dengan ponsel nya. Ia sedang berbalas pesan dengan asistennya yang sekarang berada di perusahaan, masalah laporan bulan ini.
"Ya tidak. Aku malas saja ke kantor melihat wajah wanita-wanita yang seperti cacing kepanasan itu," jelas Rayyan masih seloyoran disoffa.
"Kenapa tidak pilih salah satu nya saja menjadi istrimu," sambil memasukkan kembali ponselnya ke jas kebesarannya. "Chicha, akan datang ke Indonesia. Apa kau tahu?" sambung Sandy.
Rayyan langsung duduk. Chicha adalah rival nya dan wanita yang sudah berani menolak tawarannya. Ia ingat wanita itu. Tapi lihatlah nanti ia akan balas dendam.
"Serius Kak?" tanya Rayyan langsung sumringah. Seperti nya ia menemukan mangsa yang baru. Ia akan taklukkan Chicha lalu menghamili wanita itu dan meninggalkan Chicha sebagai balas dendam karena sudah menolak pesonanya.
"Choky akan pindah disini bersama Chicha," jelas Sandy lagi.
Rayyan tersenyum devil. Saat nya balas dendam dimulai. Ia pastikan kali ini ia akan buat Chicha bertekuk lutut padanya. Takkan ia biarkan wanita yang sudah menolak nya hidup dengan tenang.
Bukan Sandy tidak tahu jika Chicha memiliki perasaan padanya. Tapi ia sama sekali tak memiliki rasa apapun pada gadis itu. Chicha sudah seperti adiknya. Apalagi dulu ketika mereka sama-sama di Sidney sudah begitu akrab. Bagaimana bisa ia memiliki rasa pada adik sahabat nya itu?
"Jangan menuduh Kak," kilah Rayyan.
"Kakak tahu apa yang kau pikirkan Rayyan," ucap Sandy penuh penekanan. Rayyan adalah penjahat kelamin sudah banyak wanita yang patah hati gara-gara kenakalan lelaki playboy itu.
"Ehem," Rayyan gugup. Ini semua gara-gara si kembar, sampai saat ini ia terus diawasi oleh kedua orang tua nya agar tak berulah lagi.
Untuk sejenak kedua pria jomblo itu terdiam dan sama-sama memikirkan nasib kejombloan mereka. Usia sudah tak muda lagi tapi masih betah dalam kesendirian.
"Kak," panggil Rayyan. Ia seperti kurang pekerjaan. Padahal masih banyak urusan meeting dikantor yang harus dia selesaikan.
"Kenapa?" Sandy menatap lurus kedepan.
"Ehem, kau pernah bosan tidak dalam kesendirian?" tanya Rayyan penasaran.
__ADS_1
Sandy adalah pria dingin dan cuek. Ia selalu sendiri. Apalagi setelah semua orang yang dia sayangi pergi meninggalkan nya. Membuat jiwanya semakin betah dan tak berniat mencari teman hidup.
"Pernah," jawab Sandy.
Bohong jika ia tak bosan. Ia sangat bosan. Jauh didalam lubuk hatinya. Ia ingin sekali menemukan kebahagiaan seperti Ramos. Namun, entahlah sampai kini hatinya masih saja belum berpenghuni setelah mengalami kehilangan yang hebat.
"Lalu?" sambung Rayyan.
"Kakak menikmati nya," jawab sandy.
Rayyan menghela nafas panjang. Menemui Sandy tak juga mengurangi rasa galaunya. Untung nya ketiga keponakan nakal nya itu tidak lagi suka jahil, lebih tepat nya belum karena misi mereka sekarang untuk sandy bukan untuk Rayyan. Akan tiba saatnya nanti, Rayyan merasakan hal yang dirasakan oleh Sandy.
"Ya sudah Kak, aku kembali ke kantor dulu," Rayyan berdiri sambil memperbaiki jas nya.
Sandy mengangguk. Bukankah sudah bisa Rayyan seperti ini? Datang tak undang pulang tak diantar, seperti jalangkung.
Rayyan keluar dari ruangan Sandy. Ia berjalan dengan langkah lebar sambil bersiul. Meski ia playboy dan penjahat kelamin tapi Rayyan tetap berhati-hati memilih patner ranjangnya dan ia tak sembarangan jatuh cinta pada wanita.
BRAKKKK
Tak sengaja Rayyan menabrak seorang perawat yang tengah membawa beberapa peralatan medis diatas nampan.
"Ehhh maaf-maaf," Rayyan membantu gadis itu mengambil barang-barang nya yang berserakan dilantai.
"Tidak apa-apa Tuan," sahut gadis tersebut memunggut alat medis nya lalu memasukkan nya kembali keatas nampan.
"Terima kasih Tuan,"
Rayyan langsung terpesona menatap kecantikan gadis yang berprofesi sebagai perawat itu. Apakgi seragam putih yang pas ditubuhnya ditambah dengan topi yang menutupi rambut panjangnya.
"Saya permisi Tuan," pamitnya meninggalkan Rayyan yang menatap nya sambil tersenyum seperti orang gila.
Rayyan mengangguk. Ia seperti sedang melihat bidadari yang turun dari khayangan. Cantik, manis dan sederhana. Senyumnya kalem dan lembut. Jarang sekali ia melihat gadis seperti itu.
"Semoga kita bertemu lagi cantik," gumam Rayyan
__ADS_1
**Bersambung... **