Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Keputusan


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kak," Rayyan mengusap bahu Ramos. "Kakak harus kuat," Rayyan menjadi kasihan melihat Ramos yang benar-benar rapuh. "Daddy dan Mommy sebentar lagi akan datang kesini Kak," lapor Rayyan


Ramos menyeka air mata nya lalu duduk. Tidak hanya hatinya yang lelah tapi juga tubuhnya. Tubuhnya terasa rusak bersamaan dengan hatinya. Dia sekarang hanyalah lelaki rapuh yang terpaksa kuat karena keadaan.


"Duduk Kak," Rayyan memapah Ramos duduk disofa.


Ramos menurut dan duduk. Entahlah, apa yang harus dia lakukan sekarang. Kebencian anak-anak dan istrinya akan semakin bertambah dengan kejadian ini. Ramos juga tak menyangka jika pertemuannya dengan Rachel malah menyebabkan penderitaan Rachel bertambah. Jika dia tahu sejak awal semua akan berakhir seperti ini, mungkin Ramos memilih memendam semua perasaan rindunya.


Untuk sejenak Rayyan membiarkan Ramos menangis meluapkan segala perasaan nya. Pasti akan sangat sakit jika seorang anak mengatakan hal itu pada Ayah nya. Rayyan tak bisa bayangkan bagaimana terluka nya hati Ramos.


Memang awalnya Rayyan juga membenci kakak nya karena perbuatan Ramos yang diluar batas perikemanusiaan itu. Tapi melihat perubahan Ramos selama kurang lebih enam tahun ini membuat hati Rayyan terenyuh oleh belas kasihan. Namun tetap saja dia tidak bisa membantu Ramos dalam banyak hal.


Ramos memukul dadanya berulang kali. Nafasnya tersengal-sengal karena menangis. Ini adalah patah hati paling hebat yang pernah dialami sepanjang hidupnya.


"Kak,"


Rayyan menghela nafas panjang. Sebagai seorang adik dia tidak bisa tinggal diam saja melihat kakak nya seperti ini.


"Ray, Kakak lelah. Bolehkah Kakak menyerah Ray? Bolehkah Kakak pergi jauh dari sini?" Ramos menatap adiknya.


"Kak, jangan bicara seperti itu," ucap Rayuan. "Kakak masih punya kesempatan untuk kembali bersama Rachel dan anak-anak Kakak,"


Ramos menggeleng. "Tidak akan pernah bisa Rayyan. Kau tahu Rachel tak hanya membenci tapi dia juga sangat takut pada Kakak. Melihat Kakak saja dia ketakutan bukan main." Ramos menggeleng. "Kakak memang tidak pantas bahagia Ray," ucap Ramos terdengar lirih.


Rayyan kembali mengusap punggung Ramos. Rayyan turut prihatin terhadap kondisi Ramos saat ini.

__ADS_1


"Kakak masuk kamar dulu Ray," ucapnya berdiri sambil menyeka air matanya.


Rayyan mengangguk. Dia memperhatikan punggung Ramos yang menjauh darinya. Beberapa hari setelah kecelakaan Ramos terus pergi kerumah sakit secara diam-diam dan menemui Rachel. Meski pun harus dipukul babak belur oleh Sandy dan Choky tetapi laki-laki itu tak menyerah, demi menemani istri nya yang sedang koma.


"Win, ke ruangangku,"


"Baik Tuan,"


Rayyan menuju ruang kerjanya. Seperti nya memang dia harus turun tangan sendiri. Entah kenapa dia tidak terima dengan ucapan Gilbert yang begitu kasar pada Ramos. Entah dari mana anak kecil itu belajar bicara layaknya orang dewasa.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Herwin membungkuk hormat.


"Panggil Heru,"


"Baik Tuan,"


"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Heru dan Herwin masuk bersamaan kedalam ruangan kerja Rayyan. Kedua asisten ini memang bersahabat dan selalu kompak dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh tuan mereka.


"Heru, apa kau sudah menemukan pendonor untuk Rachel?" Tanya Rayyan.


Heru menggeleng. "Belum Tuan. Untuk mencari pendonor mata juga harus cocok dengan mata nya Nyonya Rachel," jawab Heru


"Ck, gunakan uang Heru. Jangan lupakan kalau everything is money," cibir Rayya memutar bola matanya malas.


"Sudah saya lakukan Tuan. Tapi tetap tidak ada orang yang mau mendonorkan matanya. Ada pun tapi kita harus mencari yang pendonornya cocok Tuan," sahut Heru.


Rayyan menghela nafas panjang. Kalau begini akan sulit membantu Ramos untuk menemukan pendonor mata yang mau mendonorkan matanya. Tidak ada manusia yang mau buta demi orang lain sekali pun itu dibeli dengan uang.

__ADS_1


.


.


.


.


Ramos meringkuk diatas ranjangnya. Masih seperti enam tahun yang lalu, dia akan memeluk baju-baju Rachel yang tertinggal agar bisa tertidur.


"Rachel." Gumamnya. "Apa kabarmu Sayang. Pasti kau sangat terluka ketika tahu kau tak bisa melihat dunia seperti biasa. Maafkan. Ini semua salahku. Andai aku tak memaksa untuk berbicara denganmu. Semua pasti takkan seperti ini. Maafkan aku Rachel," lirih Ramos meringguk sambil memeluk baju Rachel.


"Sayang, kau jangan khawatir ya. Kau akan tetap bisa melihat. Kau pasti bisa melihat anak-anak mu tumbuh nanti. Jangan khawatir Sayang, aku akan selalu ada untukmu. Meski pun kau membenciku tapi aku tidak akan berhenti mencintai mu Sayang."


'Sayang, setelah aku membuatmu melihat lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin dari hidupmu. Aku titip anak-anak. Jaga mereka. Rawat mereka. Sebenarnya aku tidak tega menyuruh mu merawat mereka seorang diri, hanya saja aku memang tidak pantas merawat mereka dengan mu. Semoga kau bahagia Sayang. Semoga kau sehat-sehat setelah ini. Aku berjanji, senyum mu yang dulu akan kembali lagi. Mungkin tugas ku mencintai mu memang sudah selesai. Aku tidak menyerah. Hanya saja aku sadar, cintaku tidak bisa menggapai mu Sayang. Terima kasih sudah pernah hadir. Terima kasih sudah menjadi Ibu dari anak-anak ku. Meski akhirnya kita berpisah. Selamat tinggal cinta. Aku mencintai mu, hari ini, nanti dan selamanya.'


Ramos terlelap dalam tangisnya. Matanya bengkak. Padahal tadi siang dia baru merasa puas karena berhasil menyiksa Agnes dan membuat wanita itu kritis. Tapi malamnya dia harus di sakiti oleh sebuah kenyataan yang membuat jiwanya remuk redam.


Ramos memutuskan menyerah. Memutuskan pergi dari kehidupan Rachel karena dia tahu jika cinta tidak akan bisa dipaksakan.


Melepaskan bukan karena dia menyerah memperjuangkan cintanya. Hanya saja terkadang melepaskan lebih baik dari pada mempertahankan sesuatu yang tidak akan bisa digenggam oleh tangan.


Ramos adalah lelaki yang pernah bersalah dimasa lalu. Ramos adalah lelaki bejat pada masanya. Ramos adalah suami terkejam yang pernah ada. Ramos adalah suami yang hidup dalam penyesalan karena telah menyakiti dan membuat istrinya menderita. Ramos menyesal. Ramos sangat-sangat menyesal. Jika bisa kembali ke masa lalu, Ramos takkan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan Rachel.


Namun penyesalan takkan membuat yang pergi datang kembali. Yang hilang muncul lagi. Sekali pun jungkir balik takkan membuat semua seperti sediakala.


Ramos takkan merenggek lagi untuk kembali pada Rachel. Detik terakhir dalam hidupnya dia hanya ingin melihat istrinya itu melihat seperti semua. Ramos ingin Rachel melihat lagi walau kemungkinan dia lah yang tidak akan bisa melihat Rachel untuk terakhir kali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2