Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Dia


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ozawa menutup mulutnya tak percaya saat melihat foto yang terpasang didalam frame itu. Air matanya hampir saja menetes.


Begitu juga dengan Heru, beberapa kali assiten Ramos itu mengucek matanya. Tak menyangka jika informasi yang dia dapatkan selama ini ternyata berdasarkan fakta yang ada.


"I-ini putrimu?" Tanya Ozawa terbata


"Iya. Namanya Rebecca. Dia meninggal dalam kecelakaan lima tahun lalu bersama kedua orangtua kekasihnya." Jelas Benedicto sendu


"Apakah nama calon menantu mu Sandy? Sandy Sanjaya?" Tanya Ozawa.


"Iya Sandy Sanjaya. Dia seorang dokter. Kau mengenalnya?"


Ozawa mengangguk. Bagaimana dia tidak kenal Sandy? Sandy adalah sahabat baik Ramos yang sudah Ozawa anggap anaknya sendiri. Saat kedua orangtua Sandy meninggal kala itu Ozawa masih tinggal diluar negeri jadi dia tidak mengenal dekat orangtua Sandy meski pernah bertemu beberapa kali.


"Ada apa Ozawa? Kenapa wajahmu tampak terkejut?" Benedicto menatap wajah sahabat nya itu.


Ozawa menarik nafasnya dalam. Dia mengusap sudut matanya yang sedikit basah akibat lelehan bening yang menetes dipipinya.


"Benedicto sebenarnya......" Dunia begitu sempit. Bagaimana Ozawa tak menyadari jika Rachel adalah putri dari sahabatnya?


"Sebenarnya apa Ozawa?" Ujar Benedicto menatap sahabatnya heran.


"Benedicto, aku.. Aku minta maaf." Mata Ozawa berkaca-kaca. Bagaimana cara dia menjelaskan pada sahabat nya apa yang sudah dilakukan oleh putranya pada Rachel.


Kening Benedicto berkerut heran. Minta maaf untuk apa? Memang nya kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh Ozawa?


"Kenapa kau minta maaf?"


Sementara Heru juga terdiam. Dia berusaha menormalkan detak jantung nya yang terkejut melihat foto itu.

__ADS_1


Ozawa menarik nafas dalam. Sangat dalam. Dia menatap sahabatnya dengan intens.


"Sebelum mengatakan yang sebenarnya, aku ingin meminta maaf padamu. Kau boleh marah. Kau juga boleh beranggapan apapun pada putraku. Tapi tolong dengarkan aku sebentar." Ozawa menangkup kedua tangannya didada.


Benedicto semakin tak paham. Apa maksud Ozawa ini?


"Ozawa aku tidak mengerti maksud mu. Bisakah kau jelaskan dengan benar sebenarnya ada apa?" Ujar Benedicto dia terkekeh pelan.


Ozawa mengangguk. Pria itu berusaha menguatkan dirinya. Sebenarnya dia tak sanggup menceritakan tentang kejahatan Ramos pada istrinya. Tapi bagaimana pun Benedicto harus tahu.


Ozawa menceritakan semuanya. Tanpa ada satu pun yang ditutupi oleh Ozawa. Dia tidak bisa membela putranya karena Ramos memang bersalah.


Meskipun Ozawa tahu jika Benedicto belum tahu dimana keberadaan putri nya namun Ozawa ingin menjelaskan bahwa Rachel adalah menantunya.


Seluruh tubuh Benedicto terasa membeku ketika mendengar penjelasan Ozawa. Dia menatap sahabatnya dengan tatapan mengintimidasi.


"K-kau me-nemukan putriku?" Tanyanya tak percaya "Bagaimana bisa Ozawa? Dimana kau menemukan nya? Apa yang sudah dilakukan putramu? Kenapa dia bisa hilang?" Tanya Benedicto bertubi-tubi.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Ozawa "Maafkan putraku." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.


"Ozawa pulanglah. Aku sedang tidak ingin bicara dengan mu. Tolong beri aku waktu. Yang dilakukan oleh putramu sudah keterlaluan. Dan maaf Ozawa aku akan menuntut putramu ke pengadilan atas kasus kekerasan dalam rumah tangga." Tukas Benedicto "Sekarang kau boleh pulang dan bersiap-siap supaya putramu mempertanggung jawabkan perbuatannya."


Ozawa mematung ditempatnya. Dia begitu mengenal Benedicto namun baru kali ini dia melihat wajah marah sahabat nya itu. Benedicto ini juga pria yang sabar dan tidak gegabah, tidak suka bertele-tele dan terkesan tegas. Namun saat dia marah dia akan seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


Ozawa menatap kosong kearah jendela mobil nya. Sebagai seorang Ayah tentu dia kasihan melihat kondisi Ramos yang sekarang apalagi nanti Ramos akan dipenjara. Ozawa tak bisa bayangkan akan jadi apa putra sulungnya itu.


'Ramos, maafkan Daddy. Daddy tidak bisa membela mu untuk kali ini. Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk mu. Semoga kau bisa sadar atas perbuatanmu. Semoga dengan hukuman ini kau bisa menyadari apa yang sudah kau lakukan.' Batin Ozawa menyeka air matanya


"Heru kita ke Apartement."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Mobil Heru terparkir di basement Apartement. Segera dia turun membuka pintu untuk Tuan-nya itu.


Kedua nya berjalan masuk kedalam Apartement Ramos. Apartement ini tampak bersih dan terawat karena Heru memang menyeka asisten rumah tangga untuk membersihkan Apartement besar ini.


"Ramos."


Hati Ozawa terenyuh oleh belas kasihan. Apalagi melihat Ramos yang tampak tertidur diatas meja makan dengan tangannya sebagai bantal.


Dia memang marah. Dia memang kecewa. Di memang membenci semua perbuatan Ramos. Tapi sungguh jauh didalam lubuk hatinya dia begitu menyanyangi putra sulungnya itu.


"Ramos."


Namun Ramos bergeming dia malah tampak terlelap. Rambutnya sudah acak-acakan dan gondrong. Tubuhnya bau karena tidak mandi. Beberapa hari ini dia kembali seperti orang gila yang tidak mengurus dirinya. Lalu bagaimana nanti jika Ramos harus tinggal didalam jeruji besi yang begitu mengerikan itu? Apakah Ramos akan seperti mayat hidup.


Ozawa memeluk tubuh putranya sambil menangis. Menangisi keadaan Ramos seperti ini. Hati Ayah mana yang takkan remuk ketika melihat putranya hancur seperti ini?


"Ramos maafkan Daddy Son. Maafkan Daddy. Daddy sudah gagal menjadi orangtua. Daddy sudah gagal membawa mu ke jalan yang benar. Maaf. Maaf Ramos." Dia terisak memeluk putranya yang terduduk sambil tertidur.


Namun Ramos sama sekali tak terganggu. Dia tampak semakin lelap tertidur seperti itu. Kelelahan menangis. Kelelahan memanggil istrinya hingga matanya pun ikutan lelah.


Heru juga tak bisa menahan air matanya. Ramos tak hanya majikan tapi juga seperti saudara dan sahabat untuk bagi Heru.


'Semoga Tuhan memberikan anda kesempatan Tuan. Saya berharap Nona Rachel kembali meskipun itu tidak mungkin karena hanya Nona Rachel yang bisa membuat anda hidup kembali.' Heru menyeka air matanya


Sementara Ozawa masih memeluk putranya dengan menangis. Disini dia juga salah karena dia mengontrol putranya dan membiarkan Ramos hidup dalam kebebasan. hingga mengubah karakter nya menjadi kasar.


Awal-awal kepergian Rachel, Ozawa selalu menyalahkan Ramos dan memojokkan putranya itu, mungkin ini yang membuat jiwa dan batin Ramos tertekan ditambah lagi dengan rasa bersalah serta tidak adanya dukungan dari orang-orang didekatnya. Keluarga nya sibuk mencari keberadaan Rachel serta terus memojokkan nya tanpa ada yang tahu bahwa dengan tekanan tersebut dapat menguncang jiwa Ramos.


Percayalah menyesal jauh lebih sakit dari pada patah hati. Begitulah perasaan yang sekarang dirasakan oleh Ramos. Meski berusaha sekuat tenaga melupakan kekejaman yang dia lakukan pada istrinya. Tetap saja bayangan itu terus menghantuinya.


**Bersambung.........

__ADS_1


Jangan lupa dukungan gysss...


Sehat sehat buat kalian**.....


__ADS_2