
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
“Tuan, saya minta maaf saya tidak bisa membawa anda ke istana saya. Anda sudah tahu alasannya kenapa,” ucap Choky saat mereka mengantar Ramos di apartement milik Ramos yang ada di Sidney.
Ramos mengangguk paham meski sebenarnya dia begitu ingin bertemu dengan istrinya itu namun dia sadar jika hal itu hanya akan melukai banyak orang.
“Tidak apa-apa Daddy. Nanti Gerald datang lagi menemani Daddy disini,” ucap Gerald menghibur Ramos.
Ramos tersenyum dan mengangguk. Setidaknya ketika seluruh dunia menghakimi dan memojokkannya masih ada putranya yang masih menyanyangi dirinya dan mendukung dia untuk tetap bertahan.
“Terima kasih Son.” Ramos mengusap kepala Gerald yang hanya setinggi pinggangnya saja.
Ramos melirik kearah mobil Choky yang berada didepan apartment, disana Gibert tampak duduk dengan tenang tanpa mau melihat kearah dirinya. Ramos tersenyum kecut memikirkan takdir hidupnya, dia tak bisa menyalahkan Tuhan karena ini adalah kesalahan dan kemaunannya sendiri untuk berbuat jahat pada istrinya sendiri.
“Iya Tuan saya mengerti,” sahut Ramos
“Nanti akan saya hubungi kapan anda cek untuk pendonoran tulang sumsum itu.” Jelas Choky
“Iya Tuan.” Ramos memaksakan senyum
“Ayo Son.” Ajak Choky pada Gerald
Gerald mengangguk. Dia mendongkakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Ramos yang tinggi badannya jauh lebih tinggi dari dirinya.
“Daddy.”
“Iya Son.” Ramos langsung mengangkat tubuh putranya “Kenapa Nak?” DIa tersenyum
__ADS_1
“Gerald pulang yaaa. Daddy jaga diri baik-baik disini,” ucap Gerald.
Sejujurnya dia masih ingin lebih lama dengan sang Ayah. Namun Gerald tak mau Ibu nya tahu dan nanti malah membuat Ibu nya itu kembali merasakan sakit yang membuatnya terluka.
“Terima kasih Son. Jaga diri baik-baik juga. Jangan lupa hubungi Daddy jika kau rindu. Daddy menunggumu disini,” ucap Ramos. Begitu beratnya berpisah dengan putranya kembali. Seandainya saja dia bisa menahan Gerald untuk tinggal bersamanya pasti dia akan sangat bahagia, tapi itu tidak mungkin.
Heru menatap Ramos kasihan. Betapa tersiksa nya Ramos saat diabaikan oleh anaknya sendiri. Heru tak bisa membantu banyak selain selalu menemani Ramos saat ini.
Begitu juga dengan Choky. Jauh didalam lubuk hatinya dia juga begitu membenci Ramos, sangat membenci Ramos. Namun saat melihat betapa rapuhnya Ramos menyesali segala perbuatannya membuat hati Choky sedikit terenyuh, pasti tidak mudah menjadi Ramos.
“Titip salam untuk adikmu yaaa.” Pesannya tersenyum getir.
"Iya Dad. Nanti juga Daddy bertemu Gerra. Dia sangat cantik Daddy. Tapi sayang dia cerewet sekali dan suka membuat ku kesal Daddy!" Seru Gerald menceritakan tentang adiknya yang lucu dan menggemaskan itu.
Ramos terkekeh, demi Tuhan dia benar-benar ingin bertemu putri kecilnya itu. Ingin memeluknya dan mengatakan betapa dia menyanyangi putrinya itu. Ramos harus menikam hatinya sendiri untuk menahan rindu yang sekarang mulai tak bersahabat dengan nya.
Hati Ramos rasanya sangat sakit ketika Choky mengambil Gerald dari gendongan nya tapi sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa, masih bisa bertemu anak-anak nya saja dia merasa bersyukur.
Ramos melambaikan tangannya saat Gerald juga melambaikan tangannya bersama mobil Choky yang berjalan meninggalkan apartemennya.
Ramos menyeka air matanya. Bagaimana pun dia berusaha kuat dan tegar menerima hukuman ini, tetaplah dia pria yang lemah jika berhubungan dengan istri dan anak-anak nya.
Ramos masuk kedalam apartemen nya. Sebelum berangkat ke Sidney dia sudah memerintahkan Heru untuk menyiapkan tempat tinggal dirinya disana selama dia berada di tempat ini.
Ramos duduk disoffa tubuhnya terasa lemah dan jiwanya dihantam hebat oleh kenyataan yang kini malah berbalik menyiksanya. Jika dulu dia menciptakan neraka untuk Rachel didalam pernikahan mereka dan sekarang dia lah yang terjebak didalam neraka itu yang membuat tubuh dan hatinya dibakar habis-habisan.
"Minum Tuan." Heru meletakkan segelas air putih diatas meja depan Ramos.
__ADS_1
Ramos menunggak air itu hingga tandas karena memang dia begitu haus. Berpura-pura kuat itu butuh energi agar tetap bertahan meski dalam keadaan tak baik seperti ini.
"Anda baik-baik saja Tuan?" Tanya Heru prihatin dengan keadaan Ramos saat ini.
"Apa aku terlihat baik-baik saja Heru?" Dia memejamkan matanya sambil menyenderkan punggungnya disofa, "Apa orang berdosa seperti ku tak layak bahagia Heru? Apa orang seperti ku tak memiliki kesempatan untuk menebus semua kesalahanku dimasa lalu?"
"Anda punya kesempatan Tuan dan anda berhak bahagia." Jawab Heru.
"Itu katamu Heru tapi tidak bagi istri dan anak-anak ku. Kau lihat betapa dinginnya Gilbert padaku, menatapku saja dia tidak mau. Ini patah hati paling berat yang pernah aku alami." Ramos tak bisa menahan air matanya. Baginya menangis bukan karena dia lemah tapi dia ingin mengungkapkan betapa dia terluka saat ini melalui tangisan.
"Aku merindukan Rachel. Aku rindu senyumnya yang selalu menyambutku didepan pintu. Aku rindu masakkannya. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa merasakan itu lagi, Heru." Ramos tersenyum getir.
Ramos berdiri sambil menyeka air matanya. Baru saja berangan-angan ingin bahagia bersama anak-anak dan istrinya tapi dia justru dihadapkan dengan sebuah kenyataan pahit yang membuat semua harapan itu hilang dan sirna entah kemana.
Ramos masuk kedalam kamarnya. Apartemen ini memang sudah difasilitasi dengan lengkap oleh Heru sesuai dengan perintah Ramos.
Ramos berbaring dikasur king size miliknya. Dia memejamkan matanya membayangkan kehidupan bahagia yang ingin dia rasakan.
"Aku tak ingin menyerah Rachel. Tak ingin menyerah. Tapi bagaimana aku bisa bergerak maju jika melihat wajahku saja membuat mu ketakutan bukan main?"
"Rachel, aku selalu menangis merindukan bayanganmu. Kau pergi tanpa berpamitan padaku. Meninggalkan luka yang membuat ku menyesal seumur hidup. Apakah sungguh, aku, aku....."
Ramos menutup wajahnya dengan lengannya. Menangis lagi, hidupnya kini memang penuh dengan air mata. Tak pernah Ramos bayangkan jika dia akan merasakan penyesalan yang tak berujung seperti ini. Dia pikir setelah kehilangan Rachel hidupnya akan baik-baik saja. Tapi pada kenyataannya setelah kepergian istrinya itu dia hancur berkeping-keping ketika semua kebenaran terkuak yang membuat penyesalan nya semakin bertambah.
"Gerra." Ramos segera duduk setelah mengingat nama putrinya itu, "Gerra, Daddy ingin melihat mu Nak. Daddy berjanji akan melakukan apapun untuk kesembuhan putri Daddy, tunggu Daddy Sayang." Ramos bangkit dari duduknya.
Ramos segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia pencinta kebersihan. Ramos juga sudah memperbaiki penampilan nya, rambut nya dia pangkas rapi dan brewok nya juga tidak terlalu banyak setelah dirapi kan. Kini wajahnya kembali bersih dan tampan.
__ADS_1
Bersambung....