
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ramos keluar dari apartemennya. Setiap kali melihat Rachel. Dia selalu tak bisa menahan emosinya. Gadis itu adalah penghancur segala impiannya. Gadis yang membuat jalan cintanya semakin rumit.
"Argh, siall." Dia memukul stir mobil dengan kuat. "Ini masih belum seberapa aku akan buat dia menderita lebih lagi, aku akan tunjukkan bagaimana susahnya bernafas." Dia mencengkram kuat stir mobil. Rahangnya mengeras kuat. "Dasar wanita ******," pekiknya menggema.
Ramos menyalakan mesin mobil dan meninggalkan apartemen. Bahkan dia belum berganti pakaian. Padahal dia sangat lapar. Dia tidak tahu apa alasannya, melihat Rachel yang berbaring di ranjang membuatnya membayangkan bagaimana gadis itu mendesah dibawah pria lain? Hal itu membuat Ramos gelap mata dan jijik pada istrinya sendiri. Kebenaran yang tidak Ramos ketahui malah dia jadikan sebagai alasan untuk menyiksa Rachel.
Mobil Ramos terparkir di depan rumah Agnes. Tampak wanita itu sudah menyambutnya dengan senyuman manja.
"Sayang, akhirnya kau datang." Wanita itu main sosor-sosor langsung mengecup bibir Ramos.
Ramos membalas dengan ciuman agresif tak peduli mereka tengah berada di depan rumah. Dia sedang butuh pelampiasan untuk meredakan emosinya.
"Kau baik-baik saja?" Agnes mengusap bibir basah Ramos akibat ciuman mereka. "Kau tampak kacau?" sambungnya lagi.
"Aku lelah, Sayang. Aku tidak bisa hidup dengan gadis itu." Tangan Ramos melingkar di pinggang Agnes sambil memeluk wanita itu dengan posesif.
"Baiklah. Izinkan aku meredakan rasa lelah mu malam ini." Dia mengelus dada Ramos "Ayo, masuk kamar, kau pasti sudah tidak sabar bukan?" godanya berbisik sambil mengigit telinga pria itu dengan gemas
Ramos mengangguk. Tentu saja dia mau. Karena hanya berhubungan seperti ini yang bisa meredakan emosinya.
Keduanya masuk ke dalam kamar. Dan melakukan lagi hubungan terlarang itu. Ramos tak peduli. Baginya hanya Agnes yang paling penting dalam hidupnya. Dia akan buat Rachel menderita seumur hidup karena perempuan itu adalah salah satu wanita yang membuat hidupnya hancur dan berantakan.
Ramos melakukannya beberapa kali. Dia seolah tak memberi Agnes jeda untuk beristirahat. Dia melampiaskan semua emosinya.
__ADS_1
"Ramos, pelan-pelan." tegur Agnes dengan suara *******. Dia sampai mencengkram kuat sprei kasurnya karena hentakkan Ramos yang begitu kuat.
Namun, sepertinya pria itu tak peduli. Tidak tahu kenapa dia seperti kesetanan sendiri?
Hingga akhirnya Ramos pun ambruk di samping Agnes dengan nafas memburu dan keringat yang membasahi keningnya.
"Maafkan aku." Dia menarik Agnes kebdalam pelukannya dengan penuh penyesalan.
Agnes mencebik kesal, "Jangan melampiaskan kemarahan mu padaku Ramos," ucap Agnes. "Dari awal aku sudah katakan jangan menikah dengan gadis itu. Kau malah menerima perjodohan gila ini." wanita itu tampak kesal.
"Aku mau kita melakukannya tanpa pengaman biar aku hamil dan orang tua mu tak bisa mengelak selain merestui hubungan kita," ucap Agnes dengan bibir mengerucut kesal.
Ramos menggeleng, "Tidak bisa, Sayang. Kau tahu itu akan menjadi masalah besar untuk kita. Aku tidak hanya akan diusir oleh kedua orang tua ku tapi aku juga akan didepak dari keluarga dan perusahaan. Aku belum siap kehilangan perusahaan ku. Ku mohon mengertilah." Ramos mengeratkan pelukan nya. Sedangkan Agnes membelakangi pria itu sambil komat-kamit kesal.
"Katamu perusahaan itu sudah jadi milikmu kenapa kau malah takut mereka mengambilnya?
"Aku berjanji setelah semua harta itu sah menjadi milikku. Aku akan menendang wanita itu dan kita akan menikah serta hidup bahagia selamanya. Untuk saat ini aku tidak bisa melawan kedua orang tua ku. Tapi aku yakin suatu saat, ketika harta itu sudah jatuh ke tanganku mereka takkan bisa memaksaku lagi," tuturnya kemudian.
"Aku hanya mencintaimu dan ingin menikahimu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis itu," imbuhnya kemudian sambil mencium punggung Agnes yang tanpa memakai sehelai benang pun.
Agnes berbalik dan menatap kekasihnya itu dengan penuh cinta.
"Benarkah?" Wajah Agnes berubah sumringah.
"Iya, Sayang," nalas Ramos tersenyum hangat.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Agnes langsung menyambar bibir seksi Ramos dan ******* bibir pria itu dengan agresif.
.
.
.
.
.
Rachel meringguk di lantai beralasan selimut. Gadis itu seperti menggigil kedinginan. Seluruh tubuhnya remuk redam.
"Ibu," gumamnya air mata sudah tak mampu menetes. "Badan Rachel sakit, Bu," adunya sambil dengan badan bergetar.
"Ayah," lirihnya
"Bolehkah Rachel menyerah, Ayah? Bolehkah Rachel pergi dan bertemu Ayah? Rachel lelah. Rachel capek. Rachel tidak kuat." Sambil mengeratkan selimut itu ke tubuhnya
Tak pernah Rachel bayangkan jika hidupnya akan seperti ini. Sebelum menikah sudah banyak penderitaan. Ketika menikah pun dia harus diperlakukan kejam oleh suaminya sendiri.
"Ayah, kenapa aku bisa jatuh cinta pada suamiku sendiri? Sedangkan suamiku tak pernah menganggap aku ada! Tubuhku sakit dipukulnya. Luka-luka di tubuh ini tak sebanding dengan luka yang dia turihkan di hatiku. Tapi kenapa aku tidak bisa membencinya, justru perasaan yang tak seharusnya ada ini malah terus tumbuh di dadaku," gumamnya sambil menangis dikeheningan malam
Lama gadis itu bermonolog dan bergumam sambil merintih kesakitan. Tubuh dan hatinya disiksa secara bersamaan. Ingin menyerah tetapi tidak bisa, hidupnya masih panjang. Ada orang-orang yang harus dia perjuangkan setelah ini.
__ADS_1
Setelah lama berdialog sendiri akhirnya gadis itu terlelap dengan air mata yang membasahi pipi manisnya.
Bersambung.....