
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Bagaimana Hel?" Tanya Sandy sekali lagi
"Aku takut merepotkan Mas Choky dan keluarga nya Mas. Apalagi hidup di istana itu tidak seperti tinggal dirumah biasa pasti banyak aturan nya. Anak-anak juga nakal aku tidak mau nanti mereka malah merusak barang-barang Daddy dan Mommy." Jelas Rachel.
Sandy tersimpul sambil menyetir mendengar jawaban Rachel. Anak-anak Rachel memang nakal tapi tidak seperti anak-anak pada umumnya. Mereka tidak nakal dan merusak barang, mereka hanya penasaran dan ingin tahu. Itu saja.
"Tidak perlu berpikir begitu. Anak-anak mu itu bukan anak-anak biasa. Mas yakin mereka takkan merusak barang-barang disana," ucap Sandy.
"Nanti aku pikirkan lagi Mas." Sahut Rachel
"Hel."
"Iya Mas."
"Bagaimana dengan pertanyaan anak-anak mu? Kau masih takut?" Sandy melirik wanita cantik itu "Kau tak bisa menyembunyikan fakta ini dari mereka. Nanti juga mereka pasti akan tahu sendiri, siapa Ayah mereka," ucap Sandy.
Rachel menghela nafas panjang "Aku tidak tahu Mas. Setiap kali mengingat dan menyebut nama pria itu aku selalu teringat dengan apa yang sudah aku alami enam tahun yang lalu. Aku takut. Aku benar-benar takut Mas. Aku, aku tidak bisa..." Rachel mencengangkan kuat ujung bajunya. Dia melirik kekiri dan ke kanan seolah hendak menghindari seseorang. Air matanya luruh.
Dengan cepat Sandy menepikan mobilnya.
"Aku, aku. Aku takut Mas."
"Hiks hiks hiks hiks hiks. Aku benar-benar takut padanya." Rachel kembali histeris.
Sandy merengkuh tubuh wanita ini. Dia mengusap punggung Rachel dan berusaha menenangkan Ibu tiga anak itu.
"Hiks hiks, Mas aku takut." Rachel mencengkeram ujung bajunya dengan.
"Iya Mas paham. Tenang ya! Semua akan baik-baik saja. Sekarang kita sudah jauh dari ya. Dia tidak akan berani menyakiti mu lagi." Sandy menepuk-nepuk punggung wanita itu dan menenangkan Rachel.
Sandy dan Choky sudah beberapa kali membawa Rachel ke psikiater dan benar jiwanya memang terganggu karena kejadian di masa lalunya. Rasa takut yang menyerangnya membuat dia mengalami serangan panik. Seolah takut jika kejadian itu akan terulang kembali.
Rachel butuh waktu untuk bisa sebut. Memang sebisa mungkin jangan pernah membahas suaminya atau sekedar menyebut namanya. Rachel tak bisa melepaskan bayang-bayang kejadian itu, sehingga hal itu membuat nya ketakutan bukan main.
"Jangan menangis lagi." Sandy melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Rachel.
"Mas aku takut. Aku takut Mas."
"Iya. Iya Mas tahu. Dia tidak ada disini. Jadi jangan takut oke."
Tangis Rachel perlahan mereda. Dia tak bisa mengontrol emosinya setiap kali mengingat wajah sang suami. Ketakutan selalu menyerang dirinya.
"Sudah tenang?" Rachel mengangguk "Tidak usah ke restourant hari ini. Temani Mas dirumah sakit sekalian menunggu anak-anak."
Biasanya kalau Rachel sudah mengalami serangan panik seperti ini. Sandy dan Choky tak berani meninggalkan Rachel seorang diri karena itu akan bahaya.
"Iya Mas." Rachel menurut.
__ADS_1
"Jangan melamun." Sandy menggenggam tangan Rachel
"Mas." Mata Rachel berkaca-kaca.
"Mau es cream atau permen?" Choky tersenyum menggoda. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Mas, aku serius." Wanita itu merenggut kesal.
"Mas juga serius." Sandy terkekeh.
"Tahu ahhh." Rachel melipat kedua tangannya didada.
Sandy tersenyum menggeleng. Rachel memang harus digoda seperti ini agar dia berhenti merenggek. Jurus seperti inilah yang dilakukan oleh Choky dan Sandy jika Rachel mengalami serangan panik.
"Masih merajuk?" Sandy menahan senyum.
"Tahu ahh aku tidak mau bicara dengan Mas."
Rachel kalau merajuk sangat mirip dengan putri kecilnya Gerra. Namun sisi inilah yang menunjukkan bahwa dirinya bukan wanita yang dingin, hanya saja terlalu banyak kejadian yang dia alami hingga membuat nya tertekan seperti ini.
Sampai dirumah sakit. Kedua nya turun. Sandy tak berani mengizinkan Rachel pulang sendirian.
"Tunggu, kenapa itu seperti Rachel?" Gumam seorang pria tampan yang hendak keluar dari mobilnya.
"Benar itu Rachel dan aku tidak salah lihat dia bersama Kak Sandy," ujar pria itu.
"Benar dugaan ku mereka selama ini bersembunyi disini." Gumamnya
"Hem, lama tak bertemu dengan Rachel dia semakin cantik. Tapi dimana anak-anak nya? Apa dia sudah menikah dengan Kak Sandy?"
Pria itu bersembunyi ketika melihat Sandy dan Rachel masuk kedalam lift.
"Hem, perjuangan ku tidak sia-sia. Selama enam tahun tinggal di negara ini. Akhirnya aku menemukan wanita yang dicari banyak orang." Dia mengambil ponselnya lalu memotret Sandy dan Rachel yang sedang mengobrol.
.
.
.
.
.
"Kakak kenapa?" Gerald duduk disamping Kakak nya sambil menunggu Gerra yang sedang bermain dengan teman-temannya.
"Kakak memikirkan Mommy." Jawab Gilbert "Kasihan Mommy. Kakak menyesal karena sudah bertanya tentang Daddy pada Mommy. Pasti Mommy sedih dan tidak sanggup mengingat kejadian itu," ucap Gilbert.
"Iya Kak. Kasihan Mommy." Sahut Gerald "Tapi tadi pagi Mommy tampak baik-baik saja Kak?"
__ADS_1
"Mommy tidak mau kita tahu kalau dia sedih," ujar Gilbert
Kedua anak kembar itu terdiam sambil melihat anak-anak yang tampak bermain dengan yang lainnya. Mereka berdua berdua tak pernah ikut bermain, mereka hanya duduk kadang sambil membaca buku dan melihat Gerra dengan teman-temannya.
"Kak, aku masih penasaran sebenarnya apa salah Mommy sampai Daddy tega menyakiti Mommy seperti itu?"
"Entahlah, Kakak juga tidak tahu." Terdengar helaan nafas panjang dari mulut anak kecil itu.
"Apa menurut Kakak Daddy mencari kita?"
"Tidak mungkin dia mencari kita. Dia saja tidak tahu kalau kita hadir diperut Mommy." Jawab Gilbert "Sudahlah jangan berharap dicari olehnya. Kita tidak butuh dia. Tugas kita sekarang adalah bagaimana caranya kita membahagiakan Mommy." Jelas Gilbert pada adiknya.
"Iya Kak." Gerald mengangguk. Meski dia masih penasaran apa sebenarnya yang membuat sang Ayah menyiksa Ibu nya dengan tak berperikemanusiaan.
"Gilbert. Gerald. Gerra berdarah." Lapor salah satu anak kecil menghampiri mereka berdua.
"APA?"
Kedua anak kecil itu langsung berlari menghampiri adik nya.
"Gerra."
Kedua nya berhambur kearah Gerra yang sudah menangis sambil memegang hidungnya.
"Hiks Kakak, hidung Gella beldalah." Adu nya.
"Gerald ambil kapas didalam tas Kakak."
"Baik Kak."
"Astaga Gerra, kau kenapa?" Seorang wanita cantik ikutan panik, salah satu guru yang mengaja dikelas anak kembar tiga itu.
"Hidung Gella beldalah Ibu gulu." Adunya merenggek sambil menangis.
"Gilbert ayo bantu Ibu, kita bawa adikmu ke UKS."
"Iya Bu."
Bersambung........
Selamat malam para pencinta dunia halu...
Apa kabar kalian hari ini?
Jangan lupa jaga kesehatan ya guys...
Jangan lupa juga masukkin cerita ini ke rak favorite kalian agar selalu dapat notifikasi saat author update...
Makasih para kesayangan....
__ADS_1