
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Sandy Wijaya, berusia 38 tahun. Pria dewasa yang sudah memiliki pemikiran matang. Pria dewasa yang tidak memiliki orang tua lagi. Namun dia masih memiliki seseorang yang sudah dianggap sebagai Ayah kandung nya sendiri, Benedicto adalah calon Ayah mertua Sandy yang sempat gagal karena kekasih nya meninggal dunia.
"Hufhhhhhh," lelaki itu menghela nafas panjang.
"Rebecca,"
Masih dan masih saja dia mengingat nama wanita yang begitu dia rindukan itu. Sudah sepuluh tahun kepergian Rebecca dan kedua orang tua nya tapi dia masih belum bisa melupakan wanita itu.
"Permisi Dok," ucap seorang perawat.
"Ada apa?" tanya Sandy tanpa melihat gadis itu masuk.
"Dok, ini data pasien yang anda minta," dia meletakkan berkas itu di meja Sandy.
Sandy mengangguk dan mengambil berkas itu lalu memeriksa nya.
"Kalau begitu saya permisi Dok," ucap gadis itu sopan. Mungkin hanya dia yang tidak tergila-gila dengan Sandy.
"Tunggu," cegat Sandy.
"Iya Dok, ada yang bisa saya bantu?" Gadis itu tersenyum manis.
"Siapa pasien yang bernama Nyonya Fatmala?" tanya Sandy. Nama pasien asing dan dia belum mengetahui tentang pasien tersebut.
Gadis itu menunduk. "Maaf Dok, itu Ibu saya," jawab nya sopan sambil membungkuk hormat.
"Gagal jantung?" ujar Sandy.
"Iya Dok," gadis itu tampak memaksakan senyum.
"Lalu apa kata medis?" tanya Sandy.
Sandy adalah direktur rumah sakit milik Ramos. Selama menjabat jadi direktur dia jarang lagi menangani pasien dia lebih sering mengontrol perkembangan berjalannya rumah sakit yang dia pimpin.
"Antagonis aldosteron. Angiotensin II receptor blockers. Enzim angiotensin-converting inhibitor. Beta blockers, Dok," sahut gadis itu.
"Sudah?"
Gadis itu menggeleng sambil menunduk.
"Kenapa?" kening Sandy berkerut heran. Gadis ini adalah salah satu perawat bagian farmasi bedah yang sudah lama bekerja dengannya.
"Belum ada biaya Sok. Saya sedang menabung untuk biaya berobat Ibu. Untuk sekarang saya lunasi dulu biaya-biaya yang kemarin," jelas nya.
__ADS_1
Sandy terdiam. Dia menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Gadis ini memang terlihat ceria dan sedikit berisik. Namun beberapa waktu terakhir dia terlihat murung seperti ada masalah dan ternyata memang sedang memikirkan Ibu nya.
"Kalau begitu saya permisi Dok,"
Sandy mengangguk dan tak menanggapi lagi. Dia menatap punggung gadis itu.
Sandy mengambil intercom nya lalu menekan salah satu tombol disana.
"Keruangan ku," lalu kembali menutup intercom itu.
Sandy menghela nafas panjang. Dia memijit-mijit pelipisnya yang terasah berdenyut sakit. Hidupnya selalu begini sekilas pekerjaan dan rumah. Dan dia pun sekarang disibukan mengelola perusahaan Benedicto tentunya dibantu oleh Rayyan. Sandy belum berpengalaman dalam hal bisnis, dia adalah seorang dokter yang tidak terlalu paham dunia bisnis yang sedalam-dalamnya. Namun untungnya Rayyan mau mengajari dirinya.
"Permisi Dok,"
"Masuk George," suruhnya.
"Ada yang bisa saya bantu Dok?" tanya George
"Urus semua biaya administrasi pasien bernama Fatmala. Pastikan dia langsung ditangani oleh medis untuk melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut. Jika perlu pemasangan cincin, segera lakukan," tintah Sandy. Entah kenapa hati nya tergerak menolong gadis itu.
"Baik Dok," sahut George.
"Kau boleh keluar," usir nya.
"Saya permisi Dok,"
Drt drt drt drt drt drt drt
"Ada John?"
"Maaf Tuan. Dua jam lagi kita meeting. Anda di minta untuk segera datang ke kantor mempersalahkan materi," lapor suara diseberang sana.
"Baik,"
Sandy menghembuskan nafasnya kasar. Jika ditanya apakah dia lelah dengan pekerjaan nya? Jelas dia lelah, sangat malah. Namun apa yang bisa dia lakukan selain menikmati pekerjaan itu. Lagian mau minta bantu pada siapa, ini sudah tugasnya untuk mengabdi pada Benedicto yang sudah banyak membantunya selama ini.
.
.
.
.
"Bu, bangun," lirih seorang gadis menggenggam tangan sang Ibu. "Sandra, butuh Ibu," ucapnya lelehan bening itu kembali lolos dipelupuk matanya.
__ADS_1
"Hanya Ibu yang Sandra punya. Sandra tidak memiliki siapa-siapa lagi," ujarnya sendu.
Sandra, gadis berusia 28 tahun. Anak tunggal. Dia hanya tinggal bersama sang Ibu, sedangkan sang Ayah sudah menghadap sang pencipta.
Kehidupan mereka sangat sederhana. Sandra bisa sekolah perawat karena dulu Ayah nya menjual kebun mereka demi agar anak nya bisa menempuh bangku pendidikan. Setelah lulus kuliah keperawatan Sandra bekerja di rumah sakit Ozawa Hospital's milik keluarga Ozawa. Disini lah gadis itu mengadu nasib.
Namun gaji seorang perawat tidak lah besar jika dibandingkan dengan besarnya biaya hidup. Apalagi Sandra masih tinggal di kontrakan karena rumah miliknya disita oleh rentenir lantaran almarhum sang Ayah yang memiliki banyak hutang.
"Bangun Bu," lirihnya sekali lagi. "Jangan tinggalkan aku. Aku hanya memiliki Ibu dan hanya Ibu yang selalu menemani ku," ucapnya.
Hutang biaya berobat Sandra telah menumpuk. Dia meminjam uang pada seorang rentenir dikampung nya, demi membiayai rumah sakit sang Ibu.
Selama ini Sandra tinggal sendirian di Jakarta. Sedangkan Ibu nya tinggal dikampung untuk melanjutkan beberapa usaha almarhum sang suami yang masih ada. Namun sejak dia jatuh sakit dan dinyatakan gagal jantung, dia akhirnya tinggal di Ibukota bersama anak semata wayangnya itu.
Sandra menyeka air matanya. Gadis itu memperbaiki selimut sang Ibu. Kebetulan dia ship siang jadi malam ini dia bisa menjaga Ibunya. Apalagi letak farmasi dia jauh dari ruangan sang Ibu, karena Sandra dibagian bedah.
Gadis itu keluar dari ruangan Ibu nya. Malam ini udara sangat dingin sekali hingga membuat bulu-bulu kulitnya berdiri.
"Sandra,"
"Mas Bima,"
Gadis itu berhambur memeluk sang pria.
"Hiks hiks Mas, Ibu," renggeknya.
Pria itu membalas pelukan Sandra dan membiarkan wanita itu menangis didalam pelukkan nya. Terkadang saat seseorang sedang patah hati seperti ini, mereka tak butuh kata-kata penguat mereka hanya butuh dipeluk dengan erat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tenang ya, Mas disini. Semua akan baik-baik saja," ucapnya menyakinkan wanita itu sambil mengecup ujung kepalanya.
"Bagaimana keadaan Ibu?" lelaki itu melepaskan pelukan Sandra lalu mengusap air mata wanita cantik ini.
"Ibu masih diperiksa Mas. Kemungkinan akan dipasang ring cincin. Aku, aku takut_"
"Stttttttttttttt," lelaki itu langsung meletakkan tangannya di bibir Sandra. "Ibu, pasti baik-baik saja. Ayo masuk. Mas bawa makanan untukmu. Kebetulan Mas tadi baru gajian dan ini," dia mengeluarkan amplop disaku celaannya. "Ini, semoga bisa membantu," sambil meletakkan amplop coklat berukuran kecil itu ditelapak tangan Sandra.
"Tapi Mas juga butuh unt_"
"Pakailah, Mas masih ada uang. Mas dapat bonus jadi Mas bisa bantu sedikit," ucapnya memotong ucapan Sandra.
"Terima kasih Mas,"
"Ayo masuk,"
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang tampak mengawasi mereka. Ya dia adalah Sandy, Sandy hendak pulang setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan nya dan tidak sengaja dia melihat Sandra dan lelaki itu.
__ADS_1
"Apa mungkin itu suaminya?" gumam Sandy.
**Bersambung... **