
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel merayap di lantai dengan kondisi yang seperti handuk. Rambut panjangnya habis tak tersisa bahkan kepalanya hampir botak karena dipotong oleh sang suami. Tatapannya seperti zombie dan di beberapa bagian wajahnya terdapat bekas tamparan Ramos. Kulitnya luka-luka akibat tarikan dan cakaran sang suami. Serta kakinya yang tergores akibat diseret oleh pria itu.
Rachel berpegang pada kaki kursi meja makan untuk berdiri. Kaki dan tangannya serasa lumpuh dan mati rasa. Gadis itu bahkan hanya mengenakan bra dan ****** *****. Perban di bagian perutnya terlepas hingga membuat luka operasi itu terlihat jelas. Untung saja jahitannya sudah kering jika tidak kemungkinan akan mengangga seperti baru pertama kali di sayat dengan pisau.
Wanita itu duduk di kursi meja makan dengan tatapan kosong. Sudut bibirnya membengkak. Mata juga membengkak akibat tamparan dari Ramos yang begitu keras di bagian wajah dan matanya.
"I-ibu." Bahkan suaranya seolah tercekat di kerongkongan. "M-maaf-kan Rac-hel. B-bolehkah Rachel meny-erah?" ucapnya suaranya seperti tak tembus. "T-tubuhku mulai terasa aneh jika dia tidak me-memukulnya. Ak-ku menci-ntainya, Bu."
Rachel menatap pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.
Ramos berjalan kearah istrinya dengan tatapan mengejek dan benci. Suka sekali melihat gadis ini menderita. Dia akan buat Rachel menyesal karena telah menikahinya.
"Hem."
Mendengar deheman suaminya, Rachel menoleh dengan tatapan terlihat sendu dan seolah meminta belas kasihan. Keadaannya terlihat sekarang bahkan dia hanya mampu duduk sambil bersandar.
Ramos berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Rachel. Dia menatap wanita itu tanpa rasa kasihan. Bahkan rasanya belum puas melihat penderitaan Rachel.
"M-Mas." Bibir Rachel bergetar.
"Apa, Sayang? Kau mau lagi? Kau belum merasa jera dengan yang aku lakukan? Atau kau mau yang lebih sakit dari ini? Aku bisa buat lebih dan lebih lagi. Aku akan membuatmu tak bisa melupakan segala rasa sakit ini. Sama seperti rasa sakit yang aku rasakan ketika aku di paksa menikahi gadis pelacur sepertimu," bisiknya sambil membelai wajah lebam sang istri.
"M-mas."
Sungguh jantung Rachel bergetar menatap wajah Ramos. Mungkin saking takutnya atau memang ada perasaan lain untuk suaminya.
"B-bisakah Mas men-cintaiku?" pinta Rachel dengan suara pelannya.
Ramos tertawa dan merasa lucu dengan permintaan istrinya ini.
"Hahaha.... Jangan bercanda wanita ******. Kau tahu bukan sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintaimu? Bagiku kau hanyalah bayangan semu yang tak ingin kulihat ada di sekitarku."
__ADS_1
Hati Rachel semakin teriris sakit. Sakit di hatinya lebih sakit dari pada sakit di bagian tubuhnya yang luka-luka akibat kekerasan Ramos.
"A-aku men-cintaimu, M-mas." Tatapan Rachel begitu menyedihkan. Disisa hidupnya seolah dia sedang meminta dilepaskan dari neraka kejam itu.
Ramos menatap Rachel dengan jijik. Kenapa dia sedikit terganggu dengan ucapan cinta gadis itu?
Ramos menggeleng mengenyahkan pikirannya yang mulai tak beres.
"Hem, itu salahmu sendiri karena mencintaiku dan aku tidak pernah meminta. Ku sarankan, berhenti mencintaiku karena aku tidak akan pernah mencintaimu."
Ramos menatap tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian dalam dan bra saja. Dia terpusat pada bekas luka dibagian perut Rachel?
"Apa itu operasi pengangkatan rahim? Supaya kau benar bebas berhubungan dengan pria mana saja agar tidak hamil?" tudingnya.
Ramos berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.
"Kembali ke kamar dan pakai, pakaian mu karena Agnes akan datang dan menginap disini. Bereskan semua kekacauan ini." Setelah berbicara pria itu melenggang pergi.
Padahal niat hati Ramos tadi dia ingin menyiksa istrinya lebih lagi. Dan dia tidak tahu kenapa dia bisa kasihan melihat Rachel yang seperti mayat hidup.
Rachel mengumpulkan sejuta kekuatannya lalu beranjak dan berdiri dengan pelan sambil menyeret kakinya yang tergores dan luka-luka.
Gadis itu berjalan pelan dengan langkah terseok-seok sambil memeluk lengan dan tubuhnya. Dia sudah tak bisa menangis air mata seolah kering dan diserap begitu saja.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar mereka. Dia menatap rambut panjangnya yang berserakan di lantai kamar.
Rachel sekuat tenaga untuk tidak menangis. Sumpah dia sangat menyanyangi rambutnya bahkan dia merawat rambut itu dengan susah payah tapi dengan begitu teganya sang suami memangkas nya tanpa sisa.
"Aku menyerah, Mas," ujarnya menyeka air mata
Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dengan pelan sekali. Bahkan dia sudah tak malu lagi saat telanjang seperti itu didepan suaminya. Yang ada di hatinya, dia ingin lepas dan pergi selamanya dari sisi Ramos.
Rachel membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Berguyur di bawah air shower, meski seluruh tubuhnya serasa perih namun dia seolah tak peduli. Hatinya jauh lebih sakit dari pada luka di bagian tubuhnya.
__ADS_1
Rachel menggosok tubuhnya. Tak peduli dengan luka yang terlukis jelas dibeberapa bagian tubuhnya.
Gadis itu meringgis merasakan perih di bagian perutnya. Tak bisa dia bayangkan bagaimana luka didalam operasinya ini. Harusnya cuci darah setiap seminggu dua kali. Tetapi bagaimana bisa dia cuci darah sedangkan dia saja tak pernah melihat dunia luar? Dia terkurung dalam sangkar Ramos. Bahkan untuk melihat cahaya matahari dia harus bertarung nyawa.
Rachel keluar dari kamar mandi dengan kimono yang membungkus tubuhnya. Tak ada lagi rambut yang menjadi kebanggaannya.
"Jangan salahkan aku, Mas. Jika aku pergi dan menyerah. Kuharap setelah ini kita takkan bertemu lagi di dalam takdir yang tak ku inginkan." Rachel memakai pakaian lnya dengan susah payah. Sebab dia harus pelan-pelan supaya tidak terkena luka di bagian kaki dan tangannya.
Gadis itu menatap pantulan dirinya didepan cermin. Wajahnya menyedihkan. Tatapannya seolah tak memiliki makna hidup. Setiap hari terasa mati. Mungkin, luka yang ditorehkan Ramos di hatinya takkan bisa diobati oleh apapun.
"Rambutku." Dia memegang kepalanya yang hampa plontos itu.
Rachel membersihkan rambut-rambutnya yang berserakan. Dia bahkan sudah tak bisa lagi menangis. Kenapa air matanya juga tak mau lagi mengalir? Mungkinkah hatinya sudah mati akibat sakit yang menyayat hati?
Dia juga membersihkan pecahan piring dan gelas di bawah meja makan dengan kaki yang masih diseret. Dia tidak kuat, hanya saja dia tidak menyerah untuk hidupnya. Entahlah setelah ini, mungkin dia akan berubah menjadi wanita menyeramkan yang pernah ada.
**Bersambung.....
Hai guys....
Hai semua....
Ehem, cerita ini gak hanya mengandung bawang ya guys. Tapi akan ada adengan-adengan yang membuat hati tersayat habis.....
Kalau kalian mau liat yang manis-manis. No pelakor. No pembinor. No air mata..
Yuk mampir ke karya yang bikin hati kalian gemes...
Cinta Manis sang Presdir...
Sesuai dengan judul nya cinta manis... Jadi manis banget kayak kecap Malika yang dirawat dengan sepenuh hati... Hihihihihi
Jangan lupa follow akun author gaesss...
__ADS_1
Yang mau gabung di group, sile yaaaaaa**...