
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ramos melangkah masuk kedalam apartemennya dengan wajah lelah. Dia memang tinggal sendirian selama ini. Sedangkan asistennya Heru memiliki apartemen sendiri. Ramos sengaja tak mengajak Heru tinggal bersamanya karena dia tidak mau kesenangannya bersama Agnes di bocorkan oleh asistennya itu.
Ramos melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Dia membuka pintu dan masuk.
Dia tersenyum tipis saat melihat apartemen yang sudah bersih dan rapi. Sebenarnya dia sengaja membuat partemennya itu berantakan agar Rachel membersihkannya.
"Rachel."
"Rachel."
"Rachel," teriaknya.
Namun, tak ada sahutan dari istrinya itu.
"Di mana dia? Atau jangan-jangan dia kabur? Awas saja kalau dia berani lari dariku. Akan ku kejar sampai kemana pun?" Ramos melemparkan tas kerja dan jasnya di atas sofa ruang tamu.
Pria itu melangkah masuk ke dapur dan mencari keberadaan istrinya.
"Rachel," teriaknya terdengar menggema.
"Rachel," teriaknya sekali lagi.
Ramos berjalan masuk kedalam kamarnya. Tangannya terkepal kuat ketika melihat Rachel yang tertidur nyaman di atas ranjang. Entah kenapa mengingat kata-kata Agnes kalau Rachel adalah wanita yang menjajakan tubuhnya pada pria hidung belang membuat Ramos marah dan benci akan hal itu?
Dia masuk ke dalam kamar mandi lalu mengambil segayung air dibtangannya. Ramos menatap istrinya yang terlelap dengan benci. Tak bisa dia pungkiri jika saat tidur wajah Rachel tampak teduh dan tenang.
Byuurrrrrrrrrrrrrrrr
Dia menyiramkan air itu ke wajah sang istri yang tengah terlelap dengan nyaman.
"Hujan... Hujan... Hujan...." Gadis itu sontak turun dari ranjang dan langsung memasang kuda-kuda seperti orang yang sedang bersilat.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" bentak Ramos
"Ma-maaf, Mas." Rachel menunduk ketakutan.
Prang!
Ramos melempar gayung itu di lantai hingga mengeluarkan bunyi yang terdengar menggema di dalam kamarnya. Rachel berjingkrak kaget sambil gadis itu mengelus dadanya dengan menunduk.
Rachel berjalan menghampiri istrinya dan menatap wanita itu dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"******." Dia mencengkram dagu gadis itu hingga mata Rachel menatapnya. "Sudah berapa kali ku katakan. Jangan pernah sentuh barang-barang ku. Aku tidak mau tangan kotor mu itu membawa kesialan dalam hidupku." Dia menghempaskan dagu Rachel dengan kasar.
Lalu Ramos membuka ikat pinggangnya. Dia menatap Rachel dengan senyuman smrik.
"Berbalik!" sentak nya.
"Mas, mau apa?" tanya Rachel ketakutan. Dagunya memerah akibatnya cengkeram keras Ramos.
"Berbalik pelacur!" bentak Ramos ditelinga istrinya.
"B-baik Mas." Rachel menurut dan berbalik membelakangi suaminya.
"Membungkuk!" titahnya dengan bentakan yang hampir memecahkan gendang telinga Rachel.
"Tapi Mas_"
"Alah, kelamaan." Pria itu mendorong istrinya hingga terjerembab ke lantai.
"Argh." Rachel menjerit ketika merasakan perih di bekas operasinya.
Bugh bugh bugh
"Arghhhhhhhhh."
"Argh."
"Argh."
"Sakit, Mas. Ampun, Mas. Ampun," teriaknya beberapa kali meminta belas kasihan dengan jeritan kesakitan.
"Dasar perempuan ******. Aku tidak sudi tubuhmu itu menyentuh tempat tidurku. Tubuh bekas pria lain."
Bugh bugh bugh bugh
"Ampun." Rachel menahan sakit dari pukulan sambil merintih dengan air mata. Tubuhnya pasti luka-luka akibat pukulan keras dari Ramos.
Nafas Ramos memburu dia membuang ikat pinggangnya begitu saja.
Lalu dia kembali menatap Rachel yang tersungkur di atas lantai. Dia berjongkok dengan satu kaki sebagai tumpuannya.
Dia kembali mencengkram dagu Rachel dengan keras, "Seperti yang sudah aku katakan padamu. Bahkan aku akan tunjukkan neraka sesungguhnya padamu. Dan selamat menikmati, Sayang. Selama kau hidup, kau takkan tenang karena aku akan membuatmu terus menderita sepanjang hidupmu."
Plak!
__ADS_1
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Rachel dengan keras hingga membuat gambar jari-jari Ramos terlihat menempel di pipi gadis sampai sudut bibirnya pun ikut mengeluarkan darah segar.
Brak!
Ramos keluar dari kamar dengan membanting pintu sangat kuat dan keras. Amarah selalu memuncak padanya. Entahlah, setiap kali melihat sang istri dia selalu tak bisa mengontrol emosinya. Membayangkan Rachel sudah tak perawan dan entah sudah berapa banyak pria yang menjamah tubuh istrinya itu membuatnya semakin jijik pada Rachel.
Rachel terduduk sambil memeluk kedua lengannya. Baju bagian belakangnya sobek akibat pukulan keras dari sang suami. Tangan dan kakinya terdapat luka-luka yang bila di sentuh pasti akan menimbulkan rasa perih.
Gadis itu mengumpulkan kekuatannya agar bisa berdiri. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tulangnya seperti patah-patah. Kaki dan tangan terdapat bekas tali ikat pinggang. Entah bagaimana dengan punggungnya mungkin seperti lukisan orang amatir?
Gadis itu berjalan menyangga tubuhnya di di dinding agar tidak terjatuh dan terjerembab ke lantai. Kenapa seluruh tubuhnya serasa lumpuh? Kakinya berat.
Dia menyeret kakinya dengan langkah tertatih menuju kamar mandi. Air mata sudah tak bisa lagi di bendung keluar dengan deras. Rambut nya berantakkan seperti kuntilanak.
Sudut bibirnya merah bekas darah yang sudah membeku dan mengering. Sedangkan dagunya juga memerah akibat cengkraman kuat tangan sang suami.
Rachel masuk ke dalam kamar mandi. Seluruh tubuhnya perih. Gadis itu menghidupkan shower dan membiarkan tubuhnya yang luka di guyur oleh air yang keluar.
Dia menangis dengan badan bergetar sambil melepaskan pakaiannya. Perih. Sakit. Tak bisa Rachel jelaskan dengan kata-kata. Namun, ada yang lebih sakit yaitu tuduhan dari Ramos yang mengatakan jika dirinya adalah wanita bekas banyak pria. Padahal jangankan bekas disentuh oleh pria lain selain pelukan Choky saja dia tidak pernah.
"Argh." Rachel menjerit. Segera dia mematikan air shower dan melihat luka di bekas operasinya.
"Argh perih sekali." Dia terduduk di lantai sambil memegang perutnya yang masih dibungkus oleh perban. Akibat infeksi kemarin membuat luka Rachel harus dijahit kembali.
"Bu," lirihnya terisak.
Rachel memukul dadanya berulang kali. Berusaha menghilangkan segala sesak yang menghambat di sana. Namun, sekalipun dipukul dengan palu dadanya akan tetap sesak.
"Aku pikir setelah menikah kau akan berubah, Mas. Tapi kenapa justru kau menyakiti ku seperti ini? Apa salahku, Mas?" Isakkannya terdengar di kamar mandi.
Rachel menyeka air matanya. Gadis itu kembali berdiri dan menggosok tubuh lukanya. Meski perih dan sakit tapi dia tak peduli.
Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit sampai dada. Handuk itu membuat bagian punggungnya terlihat jelas hingga bekas ikat pinggang itu pun terlihat jelas disana.
Rachel mengambil pakaian di dalam almari kecil yang disediakan suaminya. apartemen ini hanya memiliki satu kamar. Andai saja ada dua kamar sudah pasti dia akan berpindah kamar saja.
**Bersambung...
Follow akun ku.
FB : Fitriani Yuri.
IG; futrianiyurikwon**_
__ADS_1