Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Pelukkan Daddy


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Gilbert berdiri dari duduknya. Dia melirik kearah sang adik yang tampak menunduk.


"Jika kau ingin memeluknya. Peluklah," ucapnya "Ayah, ayo." Pria kecil itu melenggang keluar dari ruangan Ramos tanpa peduli dengan Ozawa yang menatapnya dengan sendu.


"Gerald Ayah tunggu dimobil." Choky mengusap kepala Gerald.


Mata Gerald berkaca-kaca "Ayah, apa Kakak marah? Salahkan kalau Gerald ingin peluk Daddy?" Tanya Gerald menatap Choky.


"Peluklah. Ayah tunggu di mobil ya Son." Choky tak bisa menjawab apakah Gilbert marah atau tidak, dia sendiri saja tidak bisa membaca apa yang dipikirkan oleh anak kecil itu.


"Tuan saya permisi." Pamit Choky pada Ozawa dan Ramos, lalu dia melenggang pergi.


"Son." Ramos menatap Gerald.


"Daddy."


Gerald berhambur memeluk Ramos dengan isak tangis yang menggema. Dia anak kecil yang jujur dengan perasaan nya. Dia tidak bisa bohong bahwa dia rindu pelukkan hangat ini. Pelukkan ternyaman.


"Maafkan Daddy Son. Maafkan Daddy. Maafkan Daddy. Daddy sangat menyanyangimu, Nak. Sangat. Maafkan Daddy." Ramos mengecup kepala anaknya sambil menangis.


"Gerald rindu Daddy," ucap Gerald juga.


Ayah dan anak itu saling memeluk melepaskan segala kerinduan yang menghantam dada. Saling bertangisan meluapkan segala emosi dan amarah yang selama ini.


Tangis keduanya saling menggema didalam ruangan Ramos. Untung saja ruangan itu dilengkapi dengan kedap suara sehingga suara tangis keduanya tak sampai terdengar dari luar.


"Daddy." Renggek Gerald.


Gerald tak bisa benci Ayah nya. Dia tidak bisa benci. Dia marah. Dia kecewa. Tapi tak bisa benci. Ketika melihat wajah Ramos yang rapuh, apalagi dengan penampilan gondrong dan brewok dibagian wajahnya terlihat tak terurus membuatnya begitu ingin memeluk Daddy ini.


"Daddy."

__ADS_1


Keduanya masih saling berpelukan satu sama lain. Seolah tak ingin terlepas. Ini adalah pertemuan pertama mereka, sejak lahir tidak pernah melihat sosok seorang Ayah. Sekarang, Gerald merasakan pelukan ternyaman yang sudah lama dia rindukan. Beda, beda dengan pelukkan Choky atau pun Sandy. Ini nyaman. Ini hangat. Terasa terlindungi.


Ozawa ikut terharu. Dia tahu bagaimana perjuangan Ramos untuk menjalani hidupnya setelah berpisah dari Rachel. Dia dihukum sejadi-jadinya oleh perasaan bersalah nya sendiri, dia dihantam oleh segala intimidasi dari orang-orang didekatnya. Dia tak terlihat seperti makhluk hidup, apalagi saat Ramos mengalami ngidam berat kala itu dia seperti alien dengan mata panda yang menyeramkan.


"Son." Ramos melepaskan pelukannya.


"Daddy."


"Kau sudah besar Nak? Kau tampan sekali! Maafkan Daddy. Sungguh Daddy bahagia bisa bertemu denganmu." Pria itu mengusap kepala Gerald. Dia berjongkok agar tinggi mereka sama.


"Gerald rindu Daddy. Gerald sayang Daddy. Gerald sudah lama menunggu Daddy dan ingin bertemu Daddy. Sekarang Gerald bisa lihat Daddy. Gerald pikir, Gerald tak ada Daddy. Gerald pikir Gerald takkan bertemu Daddy," ucapnya sambil menangis segugukan.


Ramos kembali menarik putra kecilnya itu kedalam pelukannya. Meresapi hangatnya hatinya saat memeluk anaknya sendiri. Pertama kalinya dalam hidup Ramos, panggilan Daddy itu sungguh membuatnya seolah lupa pada masalah-masalah yang menyerangnya.


"Son." Ramos kembali melepaskan pelukannya.


Tangan kekar Ramos mengusap pipi basah putranya. Setidaknya walau yang lain menolak dirinya, putra kecilnya ini tetap menerima nya.


"Daddy." Gerald juga menyeka air mata Ramos dengan jari-jari munggil yang tampak lucu dan imut itu.


"Son, ini Grandfa kalian." Ramos menunjuk Ozawa.


"Grandfa."


"Nak."


Ozawa merasakan pelukan cucu nya, meski ini bukan cucu pertama nya tapi dia merasa senang dan bahagia. Penantian selama kurang lebih enam tahun untuk menunggu kehadiran buah hati dari putranya Ramos.


Ayah dan anak itu saling bercerita satu sama lain. Gerald menceritakan kehidupan nya di Sidney. Menceritakan hari-hari nya disekolah. Menceritakan hari-hari nya dirumah. Dan masih banyak lagi. Dia terus berceloteh, membuat Ramos dan Ozawa terkekeh lucu dengan ucapannya.


Seorang anak akan menceritakan segala keluh kesahnya pada seorang Ayah karena dia merasa Ayah adalah tempat ternyaman untuknya pulang. Begitulah Gerald dia menceritakan apa yang tidak pernah dia ceritakan pada Choky dan Sandy. Menceritakan betapa sulitnya hidup tanpa seorang Ayah.


"Dad, Gerald pulang ya. Ayah dan Kakak pasti sudah menunggu," ucap Gerald.

__ADS_1


"Biar Daddy antar sampai mobil. Sini gendong sama Daddy." Ramos mengulurkan tangannya.


"Gerald bisa jalan sendiri Dad. Gerald bukan anak kecil." Sahutnya kesal


Ramos tertawa lebar. Sudah lama dia tidak tertawa. Sudah lama tawa dan senyum itu meredup. Meski ini akan butuh perjuangan tapi Ramos takkan menyerah pada keadaan.


"Ck, kau itu masih kecil." Ramos mengangkat tubuh putranya dan memainkan kepalanya diperut Gerald.


"Hahah Daddy geli Daddy geli. Hahahah." Dia tertawa lebar seolah melupakan kesedihan yang dia rasakan.


Ozawa ikutan tersenyum melihat Ayah dan anak itu. Seandainya dia bisa membawa cucu nya pulang ke rumah, pasti Maria akan sangat bahagia menyambut kedatangan cucu nya itu. Namun Ozawa harus menahan itu semua demi kebaikan cucu-cucu nya, ini bukan saatnya untuk dia bertindak gegabah. Ozawa tak mau egois dengan memaksa anak-anak itu untuk jatuh kedalam pelukannya. Dia harus memikirkan perasaan Rachel dan dia juga akan bicarakan ini kembali dengan Benedicto besannya.


"Ayo Son."


Ayah dan anak itu keluar dari ruangan dengan Ramos yang menggendong gelar. Keduanya tampak bercanda dan berbincang-bincang dengan tawa satu sama lain.


Heru yang kebetulan meja kerjanya berada diluar ruangan Ramos ikutan tersenyum simpul. Meski sedikit tercenggang karena anak itu mau digendong Daddy nya. Heru berharap ini awal dari kehidupan baik Ramos. Meski setelah ini akan lebih banyak lagi masalah yang harus dihadapi oleh Tuan-nya itu.


Semua karya membungkuk hormat saat Ramos dan Gerald melewati mereka.


Di lobby tampak mobil Choky masih terparkir nyaman. Didalamnya ada Choky dan Gilbert yang menunggu Gerald. Keduanya tampak diam tak ada yang bersuara begitu juga dengan supir yang bertugas dibangku kemudi.


"Daddy, Gerald pamit ya. Daddy jaga kesehatan."


Mata Ramos kembali berkaca-kaca. Perhatian sekecil ini sudah mampu mengobrak-abrik hatinya.


"Terima kasih Son. Kau juga jaga kesehatan nya. Jaga diri baik-baik. Tunggu Daddy disana kita akan bersama selamanya." Dia mengecup kening Gerald dengan sayang.


Gerald masuk kedalam mobil dan sesekali menoleh kearah Ramos. Dia masih rindu. Dia masih belum puas bertemu dengan Ayah nya itu. Dia masih ingin bermain dengan sang Ayah seperti tadi, digendong Ayah sambil bercanda riang adalah impian setiap anak.


"Tuan Choky terima kasih waktunya. Saya titip anak-anak," ucap Ramos.


Choky mengangguk.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2