
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Gerald duduk dalam diam di dekat Kakak nya. Sedangkan Choky duduk disamping kiri Gerald sehingga Gerald dihimpit oleh kedua orang itu.
Sesekali Gerald mengintip wajah dingin Kakak nya. Jarinya saling meremas satu sama lain. Keringat keluar dari dahinya karena gugup dan takut kalau sampai Kakak nya marah melihat dia berpelukan dengan Daddy nya dan bahkan sampai digendong sampai mobil.
"Apa kau marah Kak?" Tanya nya takut-takut. Choky ikut melihat kearah Gilbert yang dari tadi memang diam. Entah apa yang dipikirkan bocah lima tahun itu.
"Marah untuk apa?" Tanya balik Gilbert tanpa melihat adiknya.
"Marah karena melihatku memeluk Daddy."
Gilbert malah terdiam tak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh lelaki bertubuh kecil itu. Tatapannya tajam kedepan olah mampu menembus indra penciuman bagi siapa saja yang melihatnya.
"Kak." Panggil Gerald.
"Itu bukan urusanku. Selama tidak menganggu ketenangan Mommy aku tak memiliki hak untuk marah," jawabnya dingin.
"Son." Choky menghela nafas panjang "Jangan bicara begitu. Tidak sopan." Tegur Choky.
"Aku tidak bisa sopan pada orang yang sudah menyakiti Mommy ku. Aku bisa sopan kalau dia bisa menyembuhkan luka yang sudah dia buat sendiri." Tutur nya.
Choky dan Gerald saling melihat. Gilbert lebih keras dan sulit ditaklukkan. Pria berusia belia ini memiliki jiwa pendendam yang kuat. Persis seperti Ayah nya, gen sang Ayah mengalir seratus persen ditubuh nya.
"Kenapa begitu Kak? Bukankah dia tetap Daddy kita? Kenapa Kakak begitu membenci Daddy?" Tanya Gerald terlihat kecewa dengan sikap Kakaknya.
Gilbert tertawa sinis. Dia tahu jika lelaki itu Daddy nya. Tapi apakah lelaki itu tahu bahwa dia adalah anak yang terbuang? Anak yang lahir dari rahim seorang wanita yang tak diinginkan.
"Aku tidak lupa jika dia Ayahku. Aku mengingat itu karena wajah kami mirip. Jika kau bertanya kenapa aku membencinya? Karena dia sudah menyakiti wanita yang sudah melahirkanku. Itu saja," jawab Gilbert tersenyum mengejek.
Gerald menunduk seperti nya harapan dia untuk bisa hidup bahagia bersama sang Ayah akan sirna. Sebagai seorang anak yang menyanyangi sang Ayah. Dia sangat ingin hidup lengkap seperti anak-anak lainnya yang tumbuh bersama kedua orang tua mereka.
Sementara Choky menghela nafas panjang. Sama seperti Gilbert dia juga membenci pria itu. Tapi posisi Choky disini adalah orang asing dia tidak bisa melakukan banyak untuk mengatakan betapa terluka nya Rachel dengan perlakuan sang suami yang sudah menyiksa nya dengan sedemikian rupa.
Gilbert tak lagi menanggapi pertanyaan adiknya. Dia bahkan tak peduli dengan wajah sendu Gerald ketika mendengar jawaban nya. Sebenarnya dia juga rindu sosok Ayah kandung tapi jika sang Mommy bisa memberikan segalanya lantas untuk apa seorang Daddy. Bukankah tanpa seorang Ayah kandung dia hidup baik-baik saja? Apalagi ada Ayah dan Papa-nya yang selalu menyanyangi dia seperti anak kandung sendiri.
__ADS_1
Sampai disebuah rumah mewah milik Choky, ketiga orang itu turun. Gilbert turun duluan tanpa menunggu sang Ayah dan sang adik dia berjalan dengan langkah lebar.
"Gilbert." Panggil Choky melangkah lebar.
Langkah Gilbert terhenti tampak pria kecil itu menghela nafas panjang.
"Ada apa Ayah?" Dia berbalik menatap Choky.
"Hem, bersiap-siaplah kita akan kembali ke Sidney dan...."
"Apa Ayah?" Dia tampak tak sabar menunggu lanjutan dari ucapan Choky.
"Kita akan pulang dengan jet pribadi milik Daddy kalian." Lanjut Choky.
Kening Gilbert berkerut heran "Jet punya Ayah kenapa?" Tanya nya heran.
"Tidak apa-apa. Tapi Tuan Ozawa meminta_"
"Aku menolak Ayah. Jika Ayah dan Gerald ingin berangkat dengan mereka silahkan. Aku tetap pulang dengan jet pribadi milik Ayah." Setelah berkata Gilbert melenggang masuk kedalam rumah besar itu.
"Ayah." Mata Gerald berkaca-kaca.
"Kenapa Son?"Choky mengangkat tubuh kecil Gerald dan menggendong anak kecil itu, "Kenapa hemm?" Tanyanya lembut.
"Gerald ingin berangkat bersama Daddy, Ayah," ucapnya, lelehan bening itu tak bisa ditahan lagi "Gerald ingin main sama Daddy lagi. Ingin digendong Daddy, Ayah," ungkapnya. Perasaan anak kecil terlalu polos dia tidak bisa sembunyikan perasaan nya sendiri. Dia selalu ucapkan apa yang dia inginkan.
Choky mengusap kepala Gerald "Sabar ya Son. Kan Daddy mau ikut kita. Nanti juga Gerald bisa main sepuasnya dengan Daddy," ucap Choky menenangkan
"Hikksss Ayah." Pria kecil itu menangis didalam pelukkan Choky.
Choky mengusap punggung Gerald dan merasakan kemejanya basah akibat air mata Gerald yang menetes dibajunya. Gerald terlihat begitu menyanyangi sang Ayah.
"Gerald ingin main sama Ayah," ungkap nya.
Gerald belum melepaskan semua rindunya. Dia masih ingin bermain dengan Ayah nya tersebut.
__ADS_1
.
.
.
.
Gilbert masuk kedalam kamarnya. Dia mengunci pintu kamarnya. Dia sedang tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Choky dan Gerald.
Anak kecil itu bersandar dipintu lalu terduduk dengan kedua lutut yang dia peluk.
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Jauh didalam lubuk hatinya dia adalah anak yang sedang patah hati. Patah hati karena perbuatan sang Ayah. Patah hati karena melihat penderitaan sang Ibu. Dia adalah korban. Perasaan nya. Hatinya tersakiti dan terluka.
"Mommy, hiksss. Gilbert memahami perasaan takut mu, Mom. Mom, kenapa saat melihat wajah nya, Gilbert merasakan sakit yang sama seperti mu?" Anak kecil itu memukul dadanya berulang kali berharap sesak yang menyerang didalam sana bisa segera terlepas dari dadanya.
Tangis Gilbert menggema untung saja kamar ini kedap suara sehingga tangisnya tak terdengar dari luar. Dia menangis segugukan didalam kamarnya. Menangisi takdir dan nasib yang dialami oleh sang Ibu.
"Gilbert takkan biarkan lelaki itu menyakiti mu lagi Mom. Gilbert berjanji akan menjaga mu," ucapnya sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Bukan Gilbert tak rindu akan sosok sang Ayah. Dia rindu. Sangat rindu. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Ayah kandung nya itu.
Anak lelaki itu patah hati hebat. Menangis memang bukan solusi untuk masalah yang dia hadapi. Tapi menangis memberi kelonggaran dalam dadanya.
Gilbert menangis hingga tertidur dilantai, mungkin karena kelelahan menangis serta terlalu banyaknya emosi yang dia pendam dalam hatinya. Pertemuan nya dengan sang Ayah tadi sungguh menguras emosi anak kecil itu. Berusaha kuat ternyata tak segampang itu, ada pengorbanan serta sakit yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata.
**Bersambung.....
Selamat sore para kesayangan...
Makasih buat yang udah ikutin kisah dan perjuangan Ramos untuk mendapatkan hati istrinya kembali....
Jangan lupa dukungan buat author**....
__ADS_1