
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ada apa dengan wajahmu?" Kening Sandy berkerut heran saat Ramos datang dengan wajah ditekuk kesal.
"Biasalah," ketus pria itu duduk dikursi meja makan restaurant.
"Kau tampak bahagia sejak menikah? Bahkan bertemu denganku saja susah-susah. Sedang mencetak banyak anak ya?" goda Sandy sambil terkekeh pelan. Memang setelah menikah Ramos tak pernah lagi menemuinya.
Ramos mendengus kesal, "Ck, kalau menikah dengan Agnes mungkin aku akan bahagia. Dan ini, aku malah menikah dengan gadis yang sama sekali tidak aku cintai," ucap Ramos memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut
"Jangan bicara begitu. Siapa tahu dia memang jodohmu," sahut Sandy membuka buku menu makanan.
"Lalu Agnes bukan jodohku begitu?" tanya Ramos setengah kesal.
"Aku tidak bicara begitu." Sandy menutup buku menu makanan.
"Hem, ceritakan tentang pernikahanmu padaku! Aku sungguh penasaran karena kau tak mau mengundang ku!" seru Sandy tersenyum menggoda sahabatnya
"Ck, kenapa kau ingin tahu sekali masalah pernikahanku! Sudahlah, aku tidak mau bahas itu karena aku membenci gadis yang menjadi istriku itu dan kau tahu aku sudah membuatnya hidup dalam neraka. Rasakan saja dia," ucap Ramos dengan menggebu-gebu
"Neraka?" ulang Sandy tak mengerti. "Jangan bilang kau menyiksa istrimu sendiri?" ujar Sandy menasihati seraya geleng-geleng tak percaya. Sifat Ramos ini tak berubah sama sekali.
"Yup, yang kau katakan memang benar," sahut Ramos santai. "Aku akan buat dia menyesal seumur hidup karena sudah menikah denganku," sambungnya lagi.
Sandy menggelengkan kepalanya, "Aku hanya takut kau yang menyesal setelah dia memilih menyerah nanti," sahut Sandy.
"Hahaha, aku takkan menyesal kehilangan gadis sepertinya. Apa yang perlu aku sesali?" tukas Ramos sambil tertawa garing.
"Ya ya baiklah kau memang hobby-nya menyiksa orang," ketus Sandy. Ramos ngakak lagi.
Sandy memang mengenal Ramos. Ramos bisa dibilang adalah seorang psikopat, dia paling tidak mampu menahan emosinya. Dia akan menyiksa orang-orang yang di anggapnya tidak penting.
Pesanan mereka datang. Sandy menatap ayam goreng yang terletak di atas piring dan dihiasi secantik mungkin. Pria itu menghela nafas panjang, lagi-lagi dia teringat pada Rachel. Menu ini adalah masakan dari gadis yang begitu mirip dengan mantan tunangan nya itu.
"Kau kenapa?" tanya Ramos. Kali ini dia yang heran dengan Sandy.
Sandy menghela nafas panjang. Entahlah hampir seluruh dunia dia telusuri mencari keberadaan gadis itu namun hasilnya tetap nihil.
"Masih memikirkan gadis yang mirip dengan Rebecca?" tebak Ramos sambil memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya
Sandy mengangguk, "Dia tiba-tiba hilang setelah operasi dan sampai sekarang aku mencari namun tak menemukannya." Terdengar helaan nafas panjang dari mulut dokter tampan itu.
"Sudah kau tanya pada teman dekatnya?" Kenapa Ramos jadi penasaran?
__ADS_1
"Sudah! Namun, keluarganya pun seperti menghilang," sahut Sandy lemah.
"Aku penasaran sehebat apa wanita itu? Sehingga mampu meluluhkan gunung es sepertimu?" Ramos tertawa lebar lagi.
Sandy memutar bola matanya malas. Lalu dia lanjut makan. Membicarakan tentang gadis itu membuatnya semakin terluka karena hingga kini dia tidak menemukan dimana keberadaan Rachel.
.
.
.
.
"Dad, apa kau yakin Ramos sudah menerima istrinya?" tanya Maria setengah ragu. Sebenarnya dia sedikit ragu meninggalkan Ramos dan Rachel yang ada di Indonesia.
"Aku yakin, Mom." Ozawa memeluk istrinya dari belakang. "Jangan khawatir mereka pasti baik-baik saja," sambungnya menyesap bau harum tubuh sang istri.
Maria berbalik dan melihat kearah suaminya, "Aku ragu, Dad. Kau tahu bukan Ramos sangat mencintai wanita murahan itu? Aku sangat takut jika dia malah menyakiti istrinya sendiri."
"Apa yang di katakan Heru?" Ozawa menyelipkan anak rambut istrinya. Meski usia tak muda lagi tapi pasangan ini selalu terlihat romantis dan manis.
"Heru tidak bilang apa-apa! Dia hanya curiga kenapa menantu kita kurus?" Maria bersandar di dada suaminya.
Maria mengangguk walau sebenarnya ada keraguan didalam dirinya. Sebagai seorang Ibu tentu dia kenal bagaimana putra sulungnya itu.
"Ayo bantu aku hidangkan makanan." Maria melepaskan diri dari dada suaminya.
"Iya Honey."
Keduanya bekerja sama dalam segala hal. Ozawa sebagai seorang suami mengayomi istrinya dengan baik serta mencintai wanita itu tanpa rasa lelah.
"Opa, Oma." Dua bocah tampan berlari kearah mereka.
"Hai hai cucu Oma. Sudah bangun?" Maria berjongkok menyamakan tingginya dengan dua pria kembar itu.
"Iya Oma," sahut keduanya.
Tampak seorang wanita cantik dan pria tampan yang juga menghampiri meja makan untuk ikut sarapan pagi bersama keluarga besar dan kebetulan ayah dan ibunya baru datang dari Indonesia.
"Pagi Mom. Pagi Dad," sapa Rhaina dan Vincent.
"Pagi juga, Nak. Ayo sarapan," ajak Maria.
__ADS_1
Rhaina adalah kembaran Rayyan, dia dinikahi oleh pengusaha kaya berdarah Indonesia Belgia. Setelah menikah menetap di Belgia serta melanjutkan bisnis dan perusahaan yang ada disana.
.
.
.
.
"Makan, Mas." Ayunia meletakkan beberapa mangkuk makanan di atas meja.
"Mas tidak nafsu makan," tolak Choky.
"Mas ayolah makan." Paksa Ayunia.
"Kalau Mas tidak makan lalu sakit bagaimana? Kita tidak akan bisa mencari keberadaan Rachel jika Mas sakit," ucap Ayunia. Rasanya dia sudah ingin menyerah dengan sikap Choky.
"Iya Mas. Makanlah setidaknya sedikit," sambung Alvan. "Nanti kalau Mas sakit kami berdua bisa direbus Bibi Lewi," celetuk Alvan.
"Iya Mas benar," tutur Ayunia.
Choky mengangguk. Jujur saja sejak kehilangan Rachel dia merasa segalanya hampa.
Ayunia hanya bisa menghela nafas panjang. Sebagai sahabat dan adik dia bisa memahami perasaan Choky. Memang yang namanya patah hati tidak bisa di remehkan, ada luka mendalam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Alvan, bagaimana apa kau sudah menemukan dimana keberadaan Rachel?" Choky melirik pria yang makan dengan lahap itu.
Alvan mengangguk, "Rachel tidak jauh dari kita. Dia tinggal di sebuah apartemen elit. Tapi untuk masuk kesana sangat susah karena aksesnya dijaga ketat," jelas Alvan dengan mulut penuh makanan.
"Makan dulu, Van. Nanti baru jelaskan," tegur Ayunia.
Hati Choky sedikit tenang. Setidaknya sudah ada petunjuk dimana keberadaan Rachel. Dia hanya ingin bertemu Rachel dan memastikan jika Rachel baik-baik saja.
'Hel, Mas rindu. Mas ingin bertemu denganmu. Semoga kau baik-baik saja. Jika dia benar-benar menyia-nyiakan mu maka Mas akan membawa mu pergi dari sini. Mas akan menjaga mu.' batin Choky.
Bersambung.....
Malam para kekasih hati...
Terima kasih sudah menemani ku sejauh ini...
Semoga kalian baik-baik saja disana sesuai dengan harapan hati.......
__ADS_1
Love U banyak2...