
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Mom hati-hati," Rachel memberikan pelukan hangat pada Maria.
"Iya Sayang. Kalian kesehatan disini. Kalau ada waktu pulang lah ke Indonesia sesekali," Maria membalas pelukan membatu kesayangan nya itu.
"Akan kami usahakan Mom," sahut Rachel.
Setelah berpamitan, Ozawa, Maria dan Rayyan berangkat dengan jet pribadi milik mereka.
"Sayang, ayo," Ramos menggandeng tangan Rachel.
"Iya Mas,"
Keduanya berjalan keluar dari bandara. Tatapan kekaguman terlontarkan pada mereka berdua. Terutama pada Rachel yang semakin hari semakin cantik dan menarik hati. Wajahnya halus seperti kulit bayi dan putih seperti susu. Senyumannya manis, semanis madu.
Ramos menatap orang yang melihat istri dengan tajam. Apalagi tatapan mereka terlihat damba dan ingin.
"Mas, jangan begitu," Rachel geleng-geleng kepala sambil masuk kedalam mobil saat Ramos membuka pintu mobil untuknya.
"Ck, aku tidak terima Sayang. Mereka menatapmu dengan lapar dan damba," protes Ramos. "Besok-besok, jika kau mau keluar pakai topeng saja biar tidak ada yang melihat wajah cantikmu itu selain aku," ujarnya.
Rachel terkekeh pelan. Ada-ada saja suami nya itu. Bucin dan posesif parah. Namun Rachel memaklumi karena mereka memang terpisah cukup lama, jadi wajar saja jika Ramos posesif karena dia takut kehilangan yang kedua kalinya.
"Mas, kau ini ada-ada saja," Rachel geleng-geleng kepala.
Sedangkan Heru yang didepan hanya tersenyum saja. Dalam hati memang mengakui jika kecantikan Rachel semakin bertambah, sementara Ramos makin tua. Jelas saja banyak yang melirik Rachel dari pada Ramos.
Sepanjang perjalanan Ramos masih menggerutu kesal. Ingin rasanya dia mengajak orang-orang tadi baku hantam karena sudah berani menatap istrinya dengan damba.
__ADS_1
"Mas, jangan marah-marah. Nanti cepat tua," celetuk Rachel.
"Ck, jangan disinggung tua Sayang. Aku memang sudah tua," ujar Ramos.
Rache ngakak. Sedangkan Heru menahan tawanya sekuat tenaga, tak berani mengeluarkan tawanya takut singa jantan itu nanti mengamuk padanya.
"Mas," Rachel memeluk lengan lelaki itu dengan mesra.
Sontak saja emosi Ramos seketika mereda. Dia tersenyum hangat lalu mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Maafkan aku yang cemburuan Sayang. Aku sungguh takut ada yang merebutmu dari aku. Apalagi kau masih muda dan aku sudah tua," ucap Ramos setengah kesal ketika mengetahui dirinya sudah 41 tahun, beda 9 tahun dari Rachel. Jauh sekali bedanya. Dan istrinya semakij cantik. Sementara dia semakin tua.
"Tidak apa-apa Mas," senyum Rachel. "Aku senang Mas," tuturnya kemudian masih memeluk lengan pria itu.
"Terima kasih Sayang," Ramos bersyukur karena Rachel memaklumi dirinya yang begitu sensitif dan mudah sekali cemburuan ini. Dia juga tidak tahu kenapa, bahkan pada kedua anak lelakinya saja dia sering cemburu jika Rachel lebih perhatian pada anak nya dari pada dirinya.
.
.
.
"Ak-ku ha-mil?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca dan tak menyangka.
"Ya, Tuhan. Aku hamil," wanita itu tersenyum kesenangan.
"Aku hamil," dia mengusap perut ratanya. "Selamat datang Nak. Selamat datang dikehidupan Daddy dan Mommy, selamat datang dikehidupan ketiga Kakak kembarmu. Semoga Tuhan menyertai perjalanan mu datang ke dunia," air mata bahagia nya menetes.
Kebahagiaan Rachel akan semakin bertambah jika anaknya lahir nanti. Dia tak sabar. Dia ingin waktus segera berlalu dan dia juga tak sabar untuk memberitahu suami dan anak-anak nya tentang kabar bahagia ini.
__ADS_1
"Mas, Mas, Mas," teriak Rachel.
Ramos sontak berhambur kearah kamar mandi dengan wajah panik nya. Padahal dia tengah nyaman memasang pakaian kerjanya.
"Sayang ada apa?" wajah lelaki itu tak hanya panik tapi juga pucat bukan main, dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Sayang katakan padaku, kenapa kau menangis?" bagaimana tak panik, Rachel terduduk dilantai kamar mandi dengan posisi terduduk dan sambil menangis.
"Mas, hiks hiks aku," Rachel tak mampu melanjutkan kata-kata nya saking bahagia.
Ramos mengangkat bahu wanita itu. Badannya sampai bergetar ketakutan. Takut jika istri nya jatuh dan terpeleset dan membuat bagian area perut istrinya sakit. Meski luka bekas operasi itu sudah sembuh karena diobati denga obat-obat mahal oleh Sandy.
"Sayang kenapa, ayo katakan padaku?" Ramos menyeka pipi istrinya yang basah karena air mata.
Rachel tak menjawab dia hanya menunjukkan benda ditangannya.
Mata Ramos membulat sempurna sambil mengambil benda itu dari tangan Rachel.
"S-sayang k-kau hamil?" tanya Ramos tak percaya.
"Iya Mas, aku hamil.. hiks hiks," saking bahagia nya Rachel tak bisa berhenti menangis.
Ramos dan Rachel memang tak berencana memiliki beberapa anak tapi jika Tuhan kasih maka mereka akan dengan senang hati menyambut anggota baru dikeluarga kecil mereka.
"Hiks hiks hiks Mas,"
"Sayang, terima kasih," Ramos memeluk Rachel dengan erat. "Terima kasih. Terima kasih. Aku mencintaimu," ucapnya dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.
Ramos tak bisa ungkapkan betapa bahagia nya dia saat ini. Keluarga kecilnya akan kedatangan anggota baru yang akan membuat suasana rumah semakin ramai dengan suara riuh dan kenakalan mereka nantinya.
__ADS_1
Bersambung.....