
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Rachel ada apa?" Maria mengusap pipi menantu nya itu. "Ayo duduk Nak," ajaknya.
Sedangkan Rayyan terdiam. Dia bukan marah pada Rachel tapi sedikit kecewa. Sudah banyak yang Ramos lakukan hanya untuk mendapatkan maaf dari Rachel tapi tetap saja wanita itu masih mengeras hatinya.
"Ayo duduk Sandy, Choky," ucap Ozawa mempersilahkan sambil menggendong Gilbert.
"Terima kasih Dad," Sandy dan Choky duduk didekat Rayyan.
"Dad. Mom. Aku ingin meminta maaf pada kalian. Gara-gara aku Mas Ramos harus menderita dan kehilangan penglihatan nya. Maafkan aku," Rachel menunduk kedua tangannya saling meremas namun jauh didalam lubuk hatinya dia ingin menemui sang suami.
Maria tersenyum. Di awal-awal saat Ramos mengatakan keinginan nya mendonorkan matanya untuk Rachel, Maria memang merasa begitu berat dan tidak terima. Namun, akhirnya dia memahami perasaan putranya yang begitu mencintai Rachel. Sehingga Maria mengizinkan hal keinginan Ramos itu.
"Tidak apa-apa Nak. Kau layak diperjuangkan. Mommy tidak marah apalagi kecewa. Ramos telah melakukan tugasnya sebagai seorang suami," sahut Maria.
"Tapi aku merasa bersalah Mom. Aku merasa telah membuat Mas Ramos dalam keadaan sulit seperti ini," ucap Rachel.
"Tidak Nak. Jangan merasa seperti itu. Ramos sangat mencintai mu. Biarkan dia mengorbankan hidupnya untuk mu dan anak-anak," ujar Maria lagi.
"Mom, dimana Mas Ramos? Aku ingin bertemu dengannya Mom," Rachel menatap Maria dengan tatapan permohonan agar Maria mengatakan dimana suaminya.
"Kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Maria setengah tak percaya karena dia tahu jika menantunya ini memiliki trauma berat pada sang suami.
Rachel mengangguk. "Iya Mom, aku ingin bertemu Mas Ramos," jawab Rachel
"Apa karena dia mendonorkan mata untukmu?" tanya Maria sekali lagi.
Rachel menggeleng. "Bukan Mom. Tapi aku ingin bertemu dengannya. Aku merindukan Mas Ramos. Aku, aku ingin memeluk nya Mom. Aku, hanya trauma dan takut jika kejadian itu terjadi lagi makanya aku takut pada Mas Ramos. Tapi sejujurnya aku merindukan dia Mom. Izinkan aku bertemu dengannya, sekali saja. Aku berjanji tidak akan meminta lebih jika Mas Ramos tidak mau memaafkan aku," jelas Rachel.
__ADS_1
Maria tersenyum hangat. Tidak sia-sia Ramos mengorbankan dirinya untuk Rachel dan sekarang wanita ini mau bertemu suaminya.
Secara hukum dan agama Ramos dan Rachel memang masih sah pasangan suami istri. Tidak ada ucapan cerai atau pun surat cerai saat mereka berpisah. Keduanya berpisah karena keegoisan Ramos dan ketidakpekaan nya terhadap perasaan Rachel.
"Kita akan menemui Ramos. Kau siap?"
Rachel mengangguk cepat. Tentu saja dia siap, Rachel memang ingin bertemu dengan suaminya itu.
"Ya sudah siap-siap ya. Bawa anak-anak," ujar Maria.
"Terima kasih Mom, telah memberiku kesempatan," Rachel kembali memeluk Maria.
"Sama-sama Nak. Mommy berharap ini awal yang baik untuk kalian berdua," Maria mengusap punggung Rachel. "Tapi apa kau siap menerima Ramos yang tidak bisa melihat?" Maria menatap menantunya. Rachel adalah wanita cantik dan menarik tentu diluar sana akan banyak lelaki yang berlomba-lomba untuk mendekati Rachel yang jauh lebih sempurna dari Ramos.
"Mom, Mas Ramos buta gara-gara aku. Aku tidak masalah dengan kondisi nya. Aku menerima dia apa adanya. Tidak peduli bagaimana dirinya. Aku menerima dia Mom. Aku akan menjaga Mas Ramos. Aku berjanji," ungkap Rachel tulus dari hatinya yang paling dalam. Dari dulu dia memang mencintai suaminya itu tulus apa adanya, bahkan tetap bertahan meski disiksa dan disakiti ribuan kali. Andai, waktu itu Ramos tidak merenggut kesucian istrinya pastilah Rachel akan tetap bertahan hingga sekarang.
"Terima kasih sudah mengintai putra Mommy dengan tulus Nak. Kau memang wanita luar biasa,"
Sedangkan Choky dan Sandy hanya menatap Rachel dengan sendu. Setelah ini mereka berdua akan melepaskan Rachel dan mengikhlaskan Rachel menjemput kebahagiaan. Meski kedua nya harus membunuh rasa yang sudah tumbuh sejak lama. Tidak apa, asal Rachel dan anak-anak nya bahagia Choky dan Sandy pun akan bahagia juga.
Rachel bersiap-siap bersama anak-anak nya. Tak lupa dia menyiapkan keperluan anak-anak nya selama disana nanti.
"Rachel," Choky masuk kedalam kamar Rachel yang tengah sibuk menyiapkan barang anak-anak nya.
"Iya Mas," Rachel tersenyum.
Choky duduk dibibir ranjang sambil memperhatikan wanita anak tiga itu yang tengah sibuk menyiapkan barang-barang mereka.
"Apa aku bahagia?" tanya Choky.
__ADS_1
Rachel langsung melihat kearah Choky. Pertanyaan Choky terdengar aneh.
"Mas, kenapa?" wanita itu meninggalkan kopernya dan duduk disamping Choky.
"Apa kau bahagia Rachel akan bertemu Ramos?" tanya Choky dengan mata berkaca-kaca. Sakit sekali ketika harus merelakan orang yang begitu disayangi.
Rachel mengangguk. "Aku bahagia Mas. Sangat bahagia. Aku mencintai Mas Ramos dan perasaan ku padanya tidak berubah dari dulu. Aku hanya membohongi diriku sendiri agar aku melupakan dia," jawab Rachel.
"Mas bahagia kalau kau bahagia. Jemputlah kebahagiaan mu. Semoga setelah ini tidak ada lagi air mata yang menetes dipipimu," ucap Choky tersenyum kecut.
"Mas," Rachel menggenggam tangan Choky. "Terima kasih sudah menemani aku dalam suka dan duka. Terima kasih, Mas juga sudah banyak berkorban demi aku dan anak-anak. Aku tidak akan bisa membalas kebaikan Mas padaku. Sekali lagi terima kasih Mas. Aku menyanyangi mu,"
Namun sayang, Rachel menyanyangi Choky hanya sebatas kasih sayang seorang adik pada Kakak nya dan tidak lebih. Selebihnya Choky harus tahu diri untuk tidak mengharapkan perasaan yang tidak kan berlabuh padanya.
"Mas juga menyanyangi mu," Choky menarik Rachel kedalam pelukannya sambil memejamkan matanya.
Cinta Choky berakhir cukup sampai disini. Dia harus merelakan Rachel kembali pada Ramos. Rachel memang tidak tercipta untuknya.
'Mas melepaskanmu Rachel bersama seseorang yang bisa lebih bisa membuatmu bahagia. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan Mas. Meski hanya mencintai dalam diam tapi Mas bahagia karena bisa selalu bersamamu meski hanya sebatas saudara saja,'
Rachel melepaskan pelukan Choky. "Mas, aku berharap Mas juga bahagia dan menemukan seseorang yang akan menemani Mas tua Mas," senyum Rachel.
"Terima kasih,"
Cinta terbaik adalah merelakan seseorang yang kau cintai untuk bahagia bersama orang lain. Tak apa hati tersiksa. Asal dia bahagia.
Choky, lelaki yang sudah mencintai Rachel selama belasan tahun. Namun cintanya harus bertepuk sebelah tangan karena wanita yang dia cintai sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tidak apa, Choky sudah bahagia karena selama ini bisa menjadi tempat Rachel bersandar. Meski cinta nya berakhir kecewa tapi dia puasa melihat Rachel bahagia.
**Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like. komen. vote. dan giftnya buat author gaesss**..