Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 15. Sandy Story's


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Saya antar pulang," tawar Sandy.


"Jika tidak keberatan. Boleh Tuan Dokter," goda Sandy.


"Tentu,"


Keduanya keluar dari restourant sambil berbincang-bincang hangat dan diselingi candaan serta tawa pelan. Ternyata Sandra adalah gadis yang memiliki jika humor yang tinggi.


"Silahkan Tuan Putri," Sandy membuka pintu untuk Sandra.


"Terima kasih Dokter Tampan," balas Sandra sambil masuk.


Sandy menutup pintu dan masuk kedalam mobil. Ia menjalankan mobilnya dengan pelan.


"Kapan-kapan saya undang makan malam dirumah bersama anak-anak. Bagaimana?" tawar Sandy. Entah kenapa Sandy sudah yakin menaruh hatinya pada Sandra. Dan ia ingin mengenalkan gadis itu pada Ayah dan keluarga lainnya.


"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Sandra sedikit takut. Ia takut seperti di film-film serial rumah tangga, calon menantu di tolak oleh Ibu mertua karena berasal dari kalangan miskin. Dan Sandra tidak mau menjadi salah satunya.


"Anak-anak ingin bertemu dengan mu," jawab Sandy tersenyum melirik Sandra yang duduk disampingnya.


Sandra tampak menghela nafas panjang. Rasanya seperti sedang berada didunia novel. Di mana gadis miskin di persunting pria kaya. Ia pikir itu hanya cerita fiksi namun nyata nya ia sedang mengalami hal tersebut. Semoga saja tidak sepenuhnya cerita novel itu terjadi pada kehidupan nya, di mana keberadaan nya ditolak oleh keluarga sang calon suami.


Sandra mengangguk. "Iya Dok," jawab Sandra.


"Jangan panggil Dokter. Mulai sekarang kita adalah pasangan, meski masih tanda kutip," sergah Sandy.


"Saya harus panggil apa?" Sandra tampak bingung. Rasanya tidak sopan jika memangil nama. Sandy jelas jauh lebih tua dari dirinya.


"Terserah asal jangan Dokter," cakap Sandy.


Sandra tampak terdiam dan berpikir. Ia melirik Sandy sambil menimbang-nimbang. Kira-kira panggilan apa yang cocok untuk lelaki disamping nya itu.


"Bagaimana kalau saya panggil Mas Sandy saja?" saran Sandra sambil tersenyum dengan menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Sandy menghembuskan nafasnya gugup. Ahh ia tidak tahu kenapa bisa gugup hanya karena Sandra memanggilnya dengan panggilan Mas.


"Tidak terlalu buruk," sahut Sandy. Padahal hatinya sudah ketar-ketir kesenangan. Ia seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. "Jangan terlalu formal. Panggil aku kamu saja," rasanya tidak menyambung jika berbicara dengan pasangan menggunakan kata saya dan anda.


"Iya Mas," Sandra menahan senyum. Ia membuang pandangan nya kearah jendela menikmati permandangan di jalanan yang padat dengan kendaraan.


"Siapa Bima?" dari awal Sandy penasaran siapa Bima karena lelaki itu tampak lengket sekali padanya.


"Just my friend," jawab Sandra. "Kebetulan bertemu kemudian menjadi teman," sambungnya.


"I see, he like's you?" Sandy melirik Sandra.


Sandra menggeleng. "Tidak mungkin Mas. Aku dan Mas Bima hanya sahabat saja. Sudah banyak membantuku merawat Ibu," sanggah Sandra. Ia sama sekali tak memiliki rasa apapun pada Bima.


"Semoga saja," Sandy tersenyum kecut. Jangan sampai ia sama seperti Ramos, belum apa-apa sudah posesif duluan. Tapi Sandy yakin, Sandra bukan tipe wanita yang suka mempermainkan perasaan lelaki.


Sampai dirumah sederhana milik Sandra. Sandy turun duluan membuka pintu untuk Sandra.


"Terima kasih Mas," ucapnya


"Mas Bima,"


"Sandra kamu kemana saja? Mas mencarimu," cecar Bima panik. Setelah pulang dinas orang pertama yang dia cari adalah Sandra. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Sandra.


"Tadi aku jalan sama Mas Sandy, Mas," jawab Sandra tersenyum.


Sandy dan Bima saling melihat tak suka. Sandy melihat Bima dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dilihat dari sisi mana pun, Bima tak ada apa-apa dibanding dirinya.


"Sayang, aku pulang ya," Sandra terkejut saat Sandy memanggilnya sayang. Sandy mengelus lembut kening Sandra. Lelaki itu menatap lekat maya Sandra. Ada sesuatu yang berdegup kencang di dada Sandra. Perasaan yang sudah lama tak ia rasakan.


"Mas," lidah Sandra terasa kelu menatap tatapan lembut Sandy padanya.


"Kamu langsung istirahat jangan begadang tidak baik untuk kesehatan mu. Mulai besok aku yang jemput kamu kerja, cup," Sandra membulatkan matanya sempurna saat Sandy mengecup keningnya dengan lembut. Ada rasa hangat yang menjalar dihati gadis cantik itu.


Sandy mengusap kening Sandra dengan lembut dan cinta.

__ADS_1


"Aku pamit," ucapnya kemudian.


Rahang Bima mengeras. Tanpa sadar tangannya pun ikut terkepal kuat ketika melihat wanita yang sudah diam-diam menempati hatinya di cium oleh pria lain di depan matanya.


"Iya Mas hati-hati," ucap Sandra kaku sambil melambaikan tangan nya. Apa ini tidak terlalu cepat? Entahlah Sandra hanya mengikuti alur dalam hidupnya.


Sandy tersenyum pada Bima sebagai bahasa pamitan. Padahal senyum itu mengejek. Seperti nya ia memang butuh bantuan si kembar. Jangan sampai ia di tikung oleh Bima. Lelaki itu masuk kedalam mobilnya, lalu melambaikan tangan dan berlalu pergi.


Sandra membalas dengan senyuman tangannya melambai bersama mobil Sandy yang menjauh dari rumahnya. Dipastikan malam ini ia tak bisa tidur karena terbayang ciuman hangat Sandy di keningnya.


"Siapa?"


Sandra baru tersadar kalau ada Bima di belakang nya. Gadis itu membalikkan badannya.


"Dia siapa Sandra?" tanya Bima sekali lagi menatap lekat gadis yang ada didepannya ini.


"Kami sedang mencoba Mas," jawab Sandra sambil tersenyum. Ia tidak tahu jika jawaban nya mematahkan hati pria yang ada didepannya ini.


"Mencoba?" kening Bima berkerut heran. Meski ia tahu artinya, ia hanya memastikan sebelum benar-benar terluka.


"Mencoba membuka hati untuk orang yang baru Mas. Aku dan Mas Sandy sedang mencoba saling menyembuhkan luka. Mengumpulkan kembali kepingan hati yang sempat hancur berkeping-keping," jelas Sandra. "Kapan Mas datang?" tanyanya sambil tersenyum. "Masuk dulu Mas. Aku buatin teh hangat,"


Bima tak berbicara. Jawaban Sandra barusan seolah perlahan menariknya mundur untuk berharap lebih. Ia pikir Sandra menyukai nya atau bahkan menyukai dirinya. Tapi nyatanya, ia dipatahkan sebelum mengungkapkan perasaan nya.


"Tidak. Mas langsung pulang saja. Langsung istirahat yaaa," Bima membelai rambut gadis itu. "Mas pamit," ia tersenyum sambil naik keatas motor nya.


"Iya Mas hati-hati,"


Ada yang bahagia. Ada yang patah hati. Ada yang menemukan cinta. Ada juga yang dipertemukan dengan luka.


Angin dingin menerpa kulit-kulit tangan Bima. Ia membawa motor pelan sambil meresapi rasa sakit yang seperti membunuh dadanya. Rasa yang ia pikir akan terbalas nyatanya hanya membawa luka bagi dirinya.


Bima, tanpa sadar lelehan bening lolos dipelupuk mata lelaki itu. Wajahnya yang sanggar dan tegas penuh wibawa kini menunjukkan betapa ia rapuh saat ini. Sandra, adalah alasan ia tetap mampu menjalani hidup. Sandra, adalah gadis yang ia jadikan sebagai salah satu jiwa yang ingin ia miliki seutuhnya. Namun, ia sudah kalah oleh orang yang baru saja datang di kehidupan Sandra.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2