
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Choky dan Sandy tampak saling melihat ketika mendengar pertanyaan polos Gerra. Mau jawab apa? Ana-anak jiwa keinginan tahuannya sangat lah besar.
"Papa, dimana Daddy?" Gerra menatap Sandy. Gadis bermata biru itu ingin sekali tahu dimana Ayahnya.
"Hem, Ayah. Kau bilang tidak boleh berbohong bukan? Ayo cepat katakan dimana Daddy kami, sebelum Mommy bangun?" Ucap Gilbert menyambung. Dia paling dewasa antara kedua saudara nya.
Choky langsung kikuk. Dirinya di interogasi oleh anak-anak.
"Hem, atau kami cari tahu sendiri dimana Daddy?" Ancam Gerald.
"Jangan." Cegah Sandy dan Choky bersamaan.
"Baiklah Papa, akan katakan dimana Daddy kalian." Sandy menghela nafas panjang.
Sementara Choky geleng-geleng kepala. Anak-anak Rachel memang memiliki jiwa ingin tahu yang besar kalau keinginan mereka belum terpenuhi dan pertanyaan mereka belum terjawab maka mereka akan merenggek sampai apa yang mereka cari ditemukan.
"Tapi apapun yang Papa katakan, kalian bertiga harus janji untuk tidak memotong dulu. Paham?"
"Paham Pa?"
Ketiga anak kembar itu duduk berjejer kompak melipat kaki mereka dan tak sabar menanti jawaban dan penjelasan Sandy. Wajah mereka tampak imut dan menggemaskan. Apalagi putri kecil bernama Gerra itu, wajahnya di buat sepolos mungkin.
"Jadi begini......."
Sandy menceritakan masa lalu Rachel seadanya. Anak-anak sekecil ini belum pantas mengetahui masa lalu orangtuanya yang begitu menyakitkan. Mental mereka akan terganggu nantinya. Biarlah ketika mereka sudah dewasa nanti mereka akan menyadari semuanya.
Dan tentang kekejaman Ramos yang menyiksa Rachel, Sandy dan Choky tak bisa katakan. Anak-anak tidak boleh tahu tentang kekerasan itu. Biarlah Rachel sendiri yang mengatakan langsung pada anak-anak nya kelak ketika mereka sudah dewasa.
"Jadi Daddy olang kaya? Sekaya apa Ayah, apa lebih kaya dali Ayah dan Papa?" Tanya Gerra penasaran.
Sedangkan Gerald dan Gilbert tampak diam dan berpikir. Kedua nya tampak seperti orang dewasa diusia mereka yang masih menginjak lima tahun.
__ADS_1
"Hem, ya Daddy kalian sangat kaya." Sahut Sandy. Dalam hati sudah berdoa semoga anak-anak ini tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Kenapa Daddy dan Momny bisa berpisah? Bukankah kata Papa mereka dijodohkan? Harusnya tidak boleh berpisah." Ujar Gilbert
"Iya. Apakah mereka bercerai? Atau Mommy diusir oleh Daddy? Tapi apa Daddy tidak tahu jika memiliki anak-anak yang menggemaskan seperti kami?" Cecar Gerald.
"Atau Daddy tidak menginginkan kehadiran kami? Bisa jadi Daddy tidak tahu dengan kehadiran kami." Ucap Gerald sendu
"Kenapa Mommy ketakutan saat kami menanyakan Daddy? Ada apa sebenarnya? Apa sebenarnya yang terjadi sebelum kami ada? Apa Daddy dan Mommy bertengkar? Lalu Daddy mengusir Mommy saat sedang hamil? Atau Mommy kabur sendiri?" Cecar Gilbert menyambung.
Choky dan Sandy mendelik mendengar pertanyaan kedua anak itu. Memang kedua anak itu sudah dewasa sebelum waktunya. Baik dari cara berbicara mau pun tingkah laku. Tapi tetap saja mereka anak-anak yang bahkan belum paham arti pergi, kehilangan dan meninggalkan.
"Hem, tidak begitu." Sandy menelan salivanya susah payah.
'Ck, kenapa duplikat Ramos melekat pada Gerald dan Gilbert? Apa yang harus aku jawab?' Batin Sandy.
"Lalu bagaimana Papa, Ayah?" Gilbert menatap kedua pria dewasa itu saling bergantian.
"Iya Pa, jelaskan." Desak Gilbert.
"Ky, apakah harus kita jelaskan? Bagaimana kalau Rachel nanti mendemo kita? Kau tahu kan Rachel trauma berat. Mendengar nama Ramos saja dia bisa sampai drop seperti tadi." Bisik Sandy.
"Aku juga tidak tahu. Kau tahu kan ketiga anak ini tidak akan berhenti mencecar kita. Tapi jika kita katakan ini tidak baik untuk kesehatan mental mereka. Mereka masih anak-anak." Jawab Choky yang juga bingung apalagi wajah anak-anak Rachel begitu lucu dan menggemaskan.
"Hem, Son begini. Ini kan sudah malam ja_"
"Yang bilang masih siang siapa Ayah?" Ujar Gerra bingung memang sudah malam bukan dari tadi malah.
"Tidak ada Girl." Choky memaksakan senyum geram nya "Sebaiknya kalian tidur saja ya? Besok saja bertanya nya. Kalian besok harus ke sekolah." Tukas Choky berharap ketiga anak ini menurut dan tidak membuat kepalanya pusing dengan pertanyaan yang dia tidak bisa jawab.
"Tapi Ayah_"
"Besok Ayah jelaskan ya." Potong Choky
__ADS_1
Gilbert menghela nafas panjang, dia menatap kecewa Sandy dan Choky yang bohong. Katanya mau jelaskan tapi malah menyuruh nya untuk tidur.
Walau membantah karena mereka masih ingin tahu keberadaan Ayah mereka namun akhirnya mereka menurut dan tak lagi membantah. Apalagi Rachel selalu mengajarkan mereka agar menghormati yang lebih tua darinya.
"Selamat tidur anak Ayah." Choky mencium kening ketiga anak itu secara bergantian.
"Selamat tidur jagoannya Papa dan cantik Papa." Sandy melakukan hal yang sama.
"Selamat tidur Ayah. Selamat tidur Papa." Balas Gerra mencium pipi Sandy dan Choky bergantian.
"Son kalian tidak ingin balas ciuman Ayah?" Choky menatap Gerald dan Gilbert yang malah memeluk bantal dan memejamkan mata. Keduanya merajuk.
Sandy dan Choky terkekeh. Kedua pria kecil ini memang suka merajuk dan membuat gemes saja.
Sandy dan Choky keluar dari kamar si kembar. Keduanya bernafas lega karena tidak harus menjelaskan keberadaan Ayah ketiga kembar itu.
"Mereka membuat kepala ku pusing saja." Choky menghempaskan tubuhnya di sofa sambil memijit pelipisnya.
"Mereka benar-benar mengingatkan ku pada pria kejam itu! Huffh." Sandy menghela nafas panjang.
"Besok mereka pasti akan bertanya lagi. Aku tidak tahu harus jawab apa. Mereka bisa membenci Ayahnya jika tahu yang sebenarnya." Sambung Sandy.
"Iya. Dan kita tidak bisa membicarakan ini dengan Rachel. Jangankan membicarakan nya menyebut nama Ramos saja dia langsung histeris ketakutan." Ucap Choky "Kapan Rachel akan sembuh dari trauma berat nya? Ini sudah lebih dari enam tahun." Choky menyenderkan kepalanya "Kita juga tidak bisa terus bersembunyi disini selama nya. Aku takut lama-lama Ozawa menemukan kita." Timpal Choky.
"Apa sebaiknya kita terima tawaran orangtuamu untuk membawa Rachel dan ketiga kembar ke istana?" Saran Sandy
"Aku juga sudah memikirkan itu, hanya saja dari dulu sampai sekarang Rachel masih menolak. Dia tidak mau merepotkan padahal Daddy dan Mommy sudah menganggap Rachel anaknya sendiri." Ujar Choky.
"Kita bicarakan lagi dengan Rachel. Aku yakin jika menyangkut masalah anak-anak nya Rachel pasti akan menurut." Lontar Sandy.
Choky mengangguk "Besok kita bicarakan. Anak-anak bisa homeschooling untuk sementara waktu sampai keadaan aman. Aku baru mendapat informasi bahwa ada yang diam-diam mengirim pengawal bayangan untuk mengawasi kita." Ujar Choky.
"Baik." Sahut Sandy "Apakah Nia sudah kembali ke Indonesia?" Tanya Sandy
__ADS_1
"Sudah. Tenang saja, aku sudah mengirim orang untuk menjaga Nia dan Alvan." Jawab Choky.
Bersambung.....