
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel berdiri dari duduknya. Seperti biasa dia akan langsung memantau para karyawan nya bekerja.
Wanita cantik dengan rok span dan baju rajut berwarna nila itu keluar dari ruangannya. Wajahnya tampak tegas dan datar. Terlalu banyak nya hal yang di alami Rachel membuat dia menjadi sosok yang dingin seperti tak tersentuh.
Rachel berjalan menuju dapur. Tampak pengunjung restourant sudah berdatangan memenuhi tempat. Kalau jam-jam makan siang restourant ini selalu banyak pengunjung nya.
"Selamat siang Nyonya," sapw para koki yang ada di dapur.
"Siang," balas Rachel tersenyum hangat.
Wanita itu tampak memperhatikan para karyawan nya bekerja. Rachel mengangguk bangga dengan kerja keras pera karyawan nya. Tak sia-sia dia mengajari mereka menu-menu terbaru yang selalu dia luncurkan setiap bulan. Setiap bulan akan ada menu baru yang masuk dalam daftar list masakkan direstourant ini.
"Jun ini tolong antarkan menu makanan ke ruangan VVIP. Hati-hati," seorang pria hendak memberikan nampannya pada seorang wanita yang juga tengah membawa nampan.
"Ck, kau tidak lihat jika aku sedang bawa apa?" Ketus gadis berambut pendek itu.
"Letakkan dulu itu. Tolonglah. Masakkan ku belum selesai," lelaki itu masih memohon.
"Kau ini, bagaimana bisa?" Ketus nya. "Tinggalkan dulu masakkan mu," sarannya.
Rachel berjalan kearah dua orang yang tengah berdebat itu.
"Ehem ada apa?" Rachel berdehem.
Sontak kedua orang itu langsung gugup saat melihat kedatangan Rachel.
"Maaf Nyonya," kedua nya menunduk.
"Biar saya yang antar," pinta Rachel sambil tersenyum menampilkan dua lesung pipinya.
"Tapi Nyonya_"
"Tidak apa. Lanjutkan saja pekerjaan kalian." Rachel mengambil nampan ditangan lelaki itu.
"Terima kasih Nyonya. Maaf merepotkan," ucapnya tak enak hati dia menyenggol lengan gadis disisi nya yang juga tampak menunduk.
"Tidak apa-apa," Rachel tersenyum.
Wanita cantik ini memang terkenal baik hati dan suka membantu para pelayan disini. Tak ubahnya kadang Rachel juga menjadi koki disela-sela ketidaksibukkannya.
Rachel berjalan membawa nampan itu menuju ruangan VVIP, khusus tamu-tamu terhormat yang sering menyewa tempat nya.
__ADS_1
"Permisi Tuan," Rachel masuk dengan senyuman manis.
Rachel sudah biasa melayani para pelanggan seperti ini. Penampilan nya sederhana dan tidak neko-neko seperti wanita sosialita pada umumnya.
"Silahkan Tu_"
"Terima ka_"
Deg deg deg deg deg deg deg deg deg
Waktu seolah berhenti. Rachel mematung ditempatnya. Jiwa seolah meninggalkan raga. Jiwa seolah terbang pergi dan berkelana. Tubuhnya lemas seketika. Jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Begitu juga dengan lelaki itu. Lelaki itu sampai berdiri menatap Rachel tak berkedip. Sama seperti yang Rachel rasakan bahwa lelaki itu pun diam ditempatnya. Jantungnya tak kalah berdebar. Matanya berkaca-kaca. Tidak menyangka jika wanita yang dia rindukan ini ada didepan matanya sekarang.
"Nyonya Rachel anda baik-baik saja?" Tanya salah satu pria yang berada diruangan itu yang kebetulan sedang menyelesaikan meetingnya dan dilanjutkan dengan makan siang.
"Rachel," ucap lelaki itu menatap Rachel dengan mata berkaca-kaca. Rasanya dia ingin berlari memeluk wanita itu.
Rachel memejamkan matanya. Dia berusaha menetralisir emosi yang mengendap didalam sana. Dia langsung membayangkan wajah anak nya Gilbert. Mengingat apa yang bocah lima tahun itu katakan padanya. Harus kuat. Harus bisa. Rachel tak bisa terus-terusan hidup dalam rasa trauma panjang ini. Dia harus bisa melewati ini.
"Nyonya Rachel," panggil salah satu pria itu sekali lagi.
Rachel mengangguk dan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.
"Tunggu," lelaki itu langsung mencengkram tangan Rachel.
Tubuh Rachel seketika seperti disengat listrik. Bayangan kejadian itu kembali ditayangkan dikepalanya. Tidak. Tidak. Dia harus bisa menguasai emosinya dia tidak bisa seperti ini. Tidak bisa dibiarkan. Dia harus keluar dari zona ini. Zona rasa trauma yang mendalam.
Rachel terdiam. Pipinya panas dan terasa basah. Apakah air mata nya sudah mengering.
"Rachel aku ingin bicara," ucap lelaki itu menatap Rachel.
Rachel menggeleng tidak mau. Dia tidak mau melihat wajah pria itu. Dia tidak bisa. Tidak bisa. Rachel ingin pergi. Pergi sejauh mungkin. Pergi meninggalkan lelaki ini dan pergi tanpa ada satu orang pun yang bisa melihat ke keberadaan dirinya.
"Rachel dengarkan aku sebentar saja. Sebentar saja Rachel. Aku mohon," lelaki itu menangkup kedua tangan didadanya memohon agar Rachel memberikan dia kesempatan padanya untuk menjelaskan semua yang terjadi.
Sedangkan teman-teman lelaki itu saling melihat satu sama lain. Dari mana teman mereka ini bisa mengenal Rachel? Apakah sebelumnya pernah bertemu? Rachel memang dikenal karena restourant nya yang tenar saat ini.
"Rachel maafkan aku Rachel. Maafkan aku. Aku menyesal Rachel," lelaki itu menangis hebat didepan Rachel sambil berlutut dikaki wanita anak tiga itu.
Sedangkan Rachel memejamkan matanya sambil menggeleng tidak mau. Tidak mau melihat lelaki ini. Tangannya terkepal begitu kuat. Sangat kuat hingga buku-buku tangannya terlihat memutih disana.
"Hiks hiks Rachel. Aku menyesal. Aku sangat-sangat menyesal Rachel. Kumohon maafkan aku Rachel. Maafkan aku. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tolong dengarkan aku sekali ini saja." Dia memegang tangan Rachel sambil memohon agar diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Tidak mau. Pergi. Pergi. Pergi." Rachel menggeleng sambil menutup telinganya.
Wanita itu melenggang keluar sambil setengah berlari dengan menutup telinganya seperti orang ketakutan saat bom akan meledak.
Sedangkan sang lelaki menyusul dengan langkah lebar. Dia ingin menjelaskan semuanya. Dia ingin wanita itu memberikan dia kesempatan satu kali saja.
"Rachel, tunggu Rachel,"
Mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi Rachel yang setengah berlari sambil menangis. Diikuti oleh lelaki itu yang juga tampak menangis
"Rachel,"
Rachel keluar dari restourant masih menutup telinganya sambil menggeleng.
"Rachel tunggu Rachel. Rachel tunggu," lelaki itu masih berteriak.
Dari arah berlawanan terlihat satu buah mobil yang sedari tadi sudah mengintai didepan restourant. Entah kebetulan atau memang takdir, dia tak menyangka wanita incarannya keluar dari restorant
"Rachel awas,"
"Aaaaaaaaaaaa,"
BRAKKKKKKKKKKKKKK
BRUKKKKKKKKKKKKKK
Dia terpental diaspal. Darah mengalir dibagian kepalanya. Benturan keras itu berhasil menghempaskan tubuh nya sangat jauh.
Tubuhnya terasa hancur berkeping-keping. Tatapannya mulai kabur. Bunyi klakson mobil yang saling menggema serta beberapa orang yang menghampiri nya terlihat tak jelas. Pandangan nya mulai kabur dan akhirnya dia terpejam dengan darah yang masih mengalir dibeberapa bagian tubuhnya yang lain.
Bersambung.....
Selamat berbuka puasa para kesayangan....
Lancar-lancar ya puasanya...
Makasih buat yang masih setia nungguin ceritanya Rachel sampai sekarang...
Jangan lupa jaga kesehatan kalian.
Jangan lupa juga dukungan kalian ya...
Love U banyak-banyak....
__ADS_1