Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 1. Love Me Please


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Choky Andriano Alexander, pria dewasa berusia 39 tahun. Diusia transisi yang sudah tak muda lagi. Dia belum menikah. Jika ditanya, apakah Choky ingin menikah? Jelas ia ingin! Lalu kenapa belum menikah? Karena ia belum wanita yang tepat. Rachel, masih menjadi satu-satunya wanita yang pernah hadir di kehidupan Choky, meski kini wanita itu telah bahagia bersama pria lain.


Choky merupakan pewaris utama perusahaan Alexander group yang bergerak dibidang furniture dan pariwisata. Perusahaan terbesarnya terletak di Sidney, Australia. Tak hanya kaya raya dan tampan, ia juga memiliki garis keturunan bangsawan dari kerjaan Inggris. Nenek buyut Choky salah satu menantu dari ratu Elizabeth.


Hidupnya bergelimangan harta. Ia juga terlahir dari kedua orang tua yang begitu menyanyangi nya. Keluarga yang hangat dan selalu memotivasi Choky untuk berkarya.


Ia anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya bernama Chicha, yang saat ini memilih ikut dengannya di Indonesia. Adik nya itu manja, maklum anak bungsu dan hidupnya juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang tak miliki semua orang. Choky tahu alasan adiknya datang ke Indonesia, apalagi kalau bukan demi Sandy. Sayangnya ia langsung dipatahkan dengan kenyataan bahwa Sandy sudah menikah.


"Berhenti menangis Chicha," ketus Choky. Ia kesal sendiri mendengar isakkan tangis adiknya itu. "Kakak sudah katakan dari awal jangan berharap lebih," omel nya.


"Hiks hiks. Kak. Sakitnya itu disini Kak," dia menunjuk dadanya. "Kakak tahu kan kalau Kak Sandy itu pria paling sempurna yang pernah aku temui. Hiks, kenapa dia tidak memilih ku Kak," ungkap Chicha sambil mengusap ingusnya sehingga terdengar bunyi srot sret,


Choky memutar bola matanya malas. Seharian dia hanya mendengar tangisan gadis itu. Sudah sering Choky mengingatkan untuk tidak berharap lebih pada Sandy. Sebab Chicha bukan tipe Sandy.


"Ini cepat kerjakan tugasmu," sambil meletakkan berkas didepan Chicha. "Selesaikan hari ini juga dan segera laporkan pada Kakak," suruhnya.


Walau menangis gadis itu tetap mengambil berkas yang di berikan sang kakak. Tujuan utamanya datang ke Indonesia adalah belajar bisnis dan Sandy tentunya. Namun sayang Chicha harus patah hati.


Chicha keluar dari ruangan Choky. Ia bertugas menjadi sekretaris Choky untuk sementara sebelum choky menemukan sekretaris baru.


"Hufhhh, anak itu membuat kepalaku pusing saja," ia memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. "Hallo, Josh. Segera keruanganku," setelah selesai berbicara ia menutup intercom nya.


"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Josh sambil membungkuk hormat.

__ADS_1


"Ehem, bagaimana? Apakah kau sudah menemukan sekretaris seperti yang aku mau?" ujar Choky bernafas panjang. Chicha sama sekali tidak membantu pekerjaan. Justru adiknya itu malah membuat kepalanya pusing.


"Sudah ada beberapa kandidat Tuan. Sesuai dengan kriteria yang anda butuhkan," jelas Josh


Choky mengangguk. "Kapan interview?" ia benar-benar sudah tak sabar mengganti adik ya itu.


"Siang ini Tuan," sahut Josh.


"Baik. Biar aku yang interview," pintanya. Ia harus turun tangan untuk memastikan apakah sesuai dengan yang dia mau?


"Baik Tuan. Saya akan siapkan ruangan dan meminta HRD untuk menyiapkan data," Choky mengangguk.


Lelaki itu tampak berpikir keras. Kira-kira Chicha akan dia letakkan diposisi apa supaya dia bisa belajar lebih cepat. Adik nya itu lamban, bukan karena kurang pintar tapi sibuk menatap wajah nya didepan cermin.


"Ehem, baiklah. Chicha aku suruh dibagian keuangan saja," finalnya.


Seorang gadis berdiri didepan gedung pencakar langit. Ia mendengus kesal. Akibat semua fasilitas yang diberikan kedua orang tua nya habis di sita, mengharuskan dia untuk mencari pekerjaan.


"Ck, Daddy dan Mommy benar-benar keterlaluan. Lihat saja nanti, kalau aku sukses. Aku akan coret nama mereka di kartu keluarga," gerutunya. "Semoga aku tidak jadi tukang pel lantai," ia menghembuskan nafas kasar.


Gadis manja, bar-bar dan liar. Ia kuliah disalah satu universitas ternama di Indonesia. Namun karena sifat nakalnya, setiap hari kedua orang nya mendapat surat panggilan dari kampus. Ia sebenarnya pintar, hanya saja nakal, boros dan dia preman. Gadis tomboy yang hobby nya tawuran bersama teman laki-laki nya. Hidupnya akan bahagia jika diluar. Tapi kalau dirumah, ia akan stress mendengar omelan dan ocehan sang Ibu.


"Gajian pertamaku nanti, akan aku gunakan buat shopping," seru nya. Ia juga menyukai fashion meski penampilan nya lebih tomboy.


Gadis itu melangkah masuk menelusuri koridor perusahaan. Rok span selutut. Baju kemeja berwarna putih serta sepatu pantofel hag tinggi menghiasi kakinya.

__ADS_1


Alasan ia diusir dari rumah karena menolak perjodohan yang direncanakan oleh kedua orang tua nya. Huh, ia tidak mau dijodohkan. Ia bisa memilih jodoh sendirian. Lagian ia masih muda. Dikampus banyak pria-pria tampan yang mengantri untuk menjadi kekasihnya. Dan lagi, ia di jodohkan dengan pria tua yang tidak laku-laku, jelas ia tidak mau.


Alhasil ia memilih keluar dari rumah dan melepaskan semua fasilitas dan kemewahan yang orang tua nya berikan.


"Waduh, banyak sekali yang ikut interview," gadis itu menghitung beberapa wanita yang duduk dikursi tunggu menunggu giliran. "Hem, tidak. Pokoknya aku harus diterima bekerja disini. Aku akan buktikan pada Daddy, kalau bisa hidup tanpa uangnya," serunya sambil duduk. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra, dan ia menjadi pusat perhatian. Banyak yang menganggap ia gila karena berbicara sendiri.


"Bisakah kamu tidak berisik?" singgung wanita yang duduk disampingnya. Mulai jenggah mendengar ia yang komat-kamit tidak jelas.


"Memang kenapa, tutup saja telinga mu?" ketus nya santai sambil memeluk tas munggilnya.


Yang lain geleng-geleng kepala saja. Jika dilihat ia cantik dan terlihat dari keluarga kaya karena pakaian dan tas yang ia pakai bermerk semua. Katanya ingin melepaskan semua fasilitas dari kedua orang tuanya. Tapi tidak mau mengembalikan tas-tas mahal yang dia beli menggunakan uang sang Ayah.


Satu persatu masuk untuk di interview. Sekitar ada tiga puluh orang dan gadis itu urutan terakhir karena dia datang paling lambat dari yang lainnya.


"Hem, gila CEO nya tampan sekali. Jantungku berdebar-debar melihat wajah nya,"


"Iya, ahh dia benar-benar membuatku terbang melayang. Aku sudah membayangkan meraba dada nya dan menoel-noel roti sobek diperutnya," jelas yang satu nya.


"Apakah dia sudah menikah? Kalau pun dia sudah menikah aku rela menjadi istri keduanya," seru yang lainnya.


Gadis itu mendelik. Ia memutar bola matanya malas. Mendengar kata menikah, ia mulai jenggah dan malas. Mengingat dirinya yang kabur karena tidak mau dipaksa menikah.


"Hufhhh, semangat Chika," gumamnya menyemangati diri sendiri. "Kamu pasti bisa. Kamu harus lolos. Kamu belum bayar uang kost," serunya.


"Nona Chika Putri Atmaja, silahkan masuk,"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2