Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Kehidupan baru


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Lima tahun kemudian......


"Mommy."


Tiga bocah kembar berjalan masuk kedalam rumah. Dibelakangnya seorang pria mengekor sambil meneteng tas kerjanya dan menggeleng melihat ketiga bocah kembar itu yang tampak tak sabar bertemu sang Ibu.


"Hai anak-anak Mommy. Peluk."


Sang wanita menyambut keempat orang itu dan berjongkok agar ketiga anaknya memeluknya.


"Mommy."


Ketiganya memeluk sang Ibu dengan manjanya.


"Sayang Mommy dulu."


Cup cup cup cup cup


Ketiganya menciumi wajah sang Ibu hingga membuat wanita itu terkekeh geli ketika benda kenyal milik anak-anak nya menempel di wajahnya.


"Mas." Sapanya menyalami pria itu dengan senyum.


"Ya sudah. Kau masak saja, biar Mas yang memandikan mereka." Ucapnya tersenyum.


"Iya Mas."


"Anak-anak mandi dan ganti baju sama Ayah ya. Mommy masak dulu." Dia mengusap kepala ketiga anaknya secara bergantian.


"Iya Mommy." Ketiganya menurut.


"Ayo Ayah." Bocah-bocah itu menggandeng tangan sang Ayah.


Dia tersenyum ketika melihat anak-anak nya begitu antusias mandi bersama sang Ayah tanpa harus dia yang turun tangan memandikan ketiga anaknya.


Wanita itu menuju dapur rambutnya dia jempol asal. Aura kecantikan terpancar jelas diwajah ayu nya. Dia masih tetap cantik meski sudah memiliki tiga anak.


Dia berkutat didapur dengan alat-alat masak. Ketiga anaknya itu menyukai masakan Indonesia. Jadi dia harus memasak menu yang sesuai kesukaan anak-anak nya.


"Mommy."


"Hei Sayang." Dia tersenyum sambil memotong sayuran.


"Bial Gella bantu ya Mommy." Ucap gadis kecil itu.


"Memang Gerra bisa?" Dia tersenyum menggoda putri kecilnya.


"Bisa kan Gella biasa bantu Mommy." Jawabnya


"Ya sudah sini, Mommy pasang klemek dulu, biar baju Gerra tidak kotor."


"Iya Mommy."


Wanita itu memasang klemek ditubuh putri kecilnya. Putrinya itu memang hobby memasak dan penurut. Perasaan nya sensitif tapi lemah lembut. Diusia lima tahun saja kedewasaan nya sudah terlihat. Dia seperti wanita berkelas jika sedang serius.

__ADS_1


"Mommy." Kedua putra tampannya pun ikut menghampiri Mommy dan adiknya.


"Mommy Gerald juga mau bantu."


"Gilbert juga Mommy."


Wanita itu tersenyum hangat. Anak-anak nya walaupun masih kecil tapi terdidik. Mereka biasa mandiri dan membantu sang Mommy mengerjakan pekerjaan rumah. Apalagi sang Mommy memiliki beberapa restoraurant, tentu anak-anak nya membantu kesibukan sang Ibu.


"Ayah juga mau bantu." Ucap seorang laki-laki ikut menghampiri mereka.


"Sini Ayah bantu Gella."


Wanita itu tersenyum hangat. Di saat rasa lelahnya menyerang dia akan kembali pulih ketika melihat senyuman keempat anaknya. Apalagi anak-anak nya begitu paham pada kesibukan nya yang mengurus beberapa restourant dan harus bolak-balik untuk mengontrol berkembang nya restourant tersebut.


"Biar Ayah saja Sayang takut tanganmu terluka." Dia langsung mengambil pisau ditangan putri kecilnya.


"Kan Gella sudah besal Ayah. Gella bisa pegang pisau kok." Bibirnya mengerucut kesal.


"Siapa bilang Gerra sudah besar? Masih kecil." Celetuk sang Ayah menggoda putrinya.


"Ayah." Dia merenggek.


"Kau memang masih kecil Gerra, akui saja." Ucap Gerald.


"Ck, Kakak juga masih kecil. Kan kita kembal." Balasnya.


"Kakak sudah besar. Buktinya Kakak beda menyebut huruf R, sedang kau sebut huruf R saja tidak bisa." Sindir sang Kakak.


"Hiks hiks hiks Kakak jahat." Dia langsung menangis, dia memang sensitif.


Sementara sang Ibu dan sang Ayah tersenyum simpul dan hangat. Tak heran melihat Gerra yang begitu sensitif hatinya memang lembut.


"Son, sini." Sang Ibu berjongkok "Minta maaf sama Gerra."


"Tapi kan Gerald tidak salah Bu. Gerra memang masih kecil." Dia membela diri.


"Kalau Gerra masih kecil, berarti Gerald juga kecil dong?" Ucap sang Ibu tersenyum simpul "Sekarang minta maaf ya Son." Dia mengusap kepala anaknya.


Gerald mengangguk patuh "Gerra Kakak minta maaf ya." Dia memeluk adiknya.


"Hiks hiks hiks. Iya Kak." Sahut Gerra.


Sedangkan Ayahnya geleng-geleng saja sambil melanjutkan masakkannya. Dia memang suka memasak apalagi dulu pernah bekerja cukup lama direstourant.


Satu jam kemudian setelah mereka bergotong royong memasak bersama. Pria dan wanita itu menyusun makanan diatas meja dan dibantu oleh bocah-bocah kecil yang dewasa dari usia mereka.


"Malam semua."


Seorang pria tampan berjas putih masuk dengan senyuman manis.


"Papa."


"Hai Girl."


Dia langsung menggendong gadis kecil yang begitu mirip dengan Ibunya.

__ADS_1


"Ayo makan Mas."


"Iya Hel. Terima kasih." Dia duduk "Gerra mau disuapin Papa atau makan sendiri?" Dia meletakkan gadis kecil itu duduk dikursi samping nya.


"Disuapin Papa." Sahutnya cepat.


Sang Ibu tersenyum putrinya ini kecil-kecil sudah terlihat genitnya. Bagaimana kalau sudah besar nanti? Bisa-bisa anak nya itu genit ke semua laki-laki. Apalagi Papa nya tampan dan seorang dokter, semakin membuat gadis berusia lima tahun itu suka pada Papanya.


"Mas mau yang mana?" Dia mengambilkan makanan untuk lelaki itu.


"Apa saja yang penting jangan pedas." Lelaki berjas dokter itu alergi makanan pedas.


"Iya Mas."


"Sebelum makan jangan lupa berdoa dulu." Ucap sang wanita


Semuanya berdoa seperti biasa. Berdoa sebelum makan dan tidur adalah hal wajib.


Mereka makan dan sesekali mengobrol. Apalagi kalau ketiga bocah kembar itu berebut ayam goreng krispi kesukaan mereka. Berapa pun yang sang Ibu masak tetap di lahap habis oleh anak-anak nya.


"Jangan makan yang pedas ya?"


"Iya Mas." Dia tersenyum hangat.


Rachel Maryam, wanita yang sempat disia-siakan oleh suaminya dan bahkan disiksa tanpa belas kasihan. Kini telah tumbuh menjadi wanita hebat yang memiliki tiga anak kembar sekaligus.


Melewati kurang lebih waktu enam tahun dia bangkit dari segala patah hati yang sempat membuatnya menjadi wanita depresi. Yang bahkan hampir membunuh ketiga buah hatinya yang kini juga telah tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas.


Perjuangan Rachel menjadi single Mommy bukanlah hal yang mudah jika tidak didukung oleh Choky dan Sandy dia pastilah tidak akan mampu. Namun Rachel bersyukur karena kedua pria itu selalu memberikan support padanya.


Dukungan dari orang-orang yang menyanyanginya.


"Sayang setelah ini kalian langsung belajar ya?" Ucap Rachel lembut.


"Iya Mommy."


"Ya sudah kalian masuk kamar dulu nanti Mommy susul. Mommy mau beresin ini dulu."


"Iya Mom." Ketiganya menurut.


"Bagaimana keadaanmu Hel?" Sandy ikut membantu Rachel. Dia belum mengganti pakaian nya.


"Aku sudah sehat Mas." Senyumnya.


"Syukurlah." Balas Sandy.


Sedangkan Choky ikut masuk kedalam kamar triple G itu dan membantu mereka belajar.


"Mas."


"Iya Hel?" Sandy menatap Rachel "Ada apa?" Dia tersenyum hangat sambil mencuci piring dan membantu Rachel.


"Aku masih tak menyangka Mas kalau aku kembar."


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2