
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel sedang sibuk menyiapkan seragam sekolah anak-anak nya. Hari ini hari pertama mereka masuk sekolah seperti biasa setelah cukup lama homeschooling dirumah.
"Kakak bisa pakai baju sendiri?" Rachel memberikan seragam sekolah Gilbert.
"Bisa Mom," Gilbert mengambil dengan cepat seragam ditangan Rachel. "Terima kasih Mom. Kakak pakai di kamar mandi saja. Kakak malu. Kakak kan sudah besar," celetuknya
Rachel terkekeh. Besar dari mana? Tubuh Gilbert saja masih kecil. Hanya pemikiran nya yang dewasa tapi bentuk tubuhnya dia masihlah anak-anak yang tak seharusnya mengerti urusan-urusan orang dewasa.
"Son,"
"Gerald pasang sendiri juga Mom," Gerald memasang kancing baju nya salah-salah.
Rachel terkekeh pelan lalu berjongkok. "Sini Son biar Mommy yang pasang kancingnya,"
"Tapi Gerald bisa kok Mom," kilahnya. Gerald merasa gengsi karena Kakak nya Gilbert sudah bisa melakukan apa saja tanpa sang Mommy. Sedangkan dirinya masih belum bisa, memakai baju saja kancingnya masih suka salah.
"Yakin bisa?" Rachel tersenyum menggoda. "Sudah biar Mommy ajarkan," Rachel mengambil alih kancing baju Gerald. "Lihat tangan Mommy Son. Perhatian bagaimana Mommy memasang nya dengan baik, jadi nanti kau bisa mencobanya" jelas Rachel sabar sambil menunjukkan cara memasang kancing baju pada putra nya itu
"Iya Mom," Gerald tampak memperhatikan tangan Rachel yang telaten.
"Mommy, nanti setelah pulang sekolah Gerald mau main ke tempat Opa sama Oma Nirmala. Boleh ya Mom?" Pinta Gerald penuh harap.
"Tentu saja boleh Sayang," Rachel tak pernah melarang anak-anak nya bertemu dengan kakek dan neneknya. Bahkan sebelumnya pun, Rachel tak pernah melarang ketiga anaknya bertemu Ramos.
"Mommy, Gella belum bisa pasang baju," Gerra datang sambil menenteng seragamnya.
"Ck, Dek kenapa belum pakai baju? Jangan kebiasaan. Kau ini..." Protes Gilbert yang baru keluar dari kamar mandi saat melihat Gerra hanya memakai handuk sebatas dadanya saja.
"Ck, anak kecil belum bisa pasang baju sendiri," ledek Gerald sambil tertawa mengejek adiknya.
"Kakak juga belum bisa pasang baju sendili. Jadi Kakak juga masih kecil," sergah Gerra tidak terima bibirnya menggerecut kesal.
"Sudah jangan bertengkar. Sini biar Mommy yang pasang Sayang,"
"Iya Mom,"
Rachel menyisir rambut ketiga anaknya secara bergantian. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum kepada ketiga anaknya.
'Tunggu, aku baru sadar jika parfum anak-anak mirip dengan wangi parfum Mas Ramos waktu itu,'
__ADS_1
"Kenapa Mom?"
"Tidak apa-apa," kilah Rachel.
"Mom, apa Mommy sudah pertimbangkan tawaran Grandfa dan Grandma untuk tinggal bersama mereka?" Tanya Gilbert. Ketiga anak Rachel melihat Rachel bersamaan.
"Kalau Gella setuju-setuju saja Mom. Gella ingin bertemu Daddy, tapi Daddy tidak ada. Kemana Daddy Mom?" Tanya Gerra dengan wajah sendu nya. Dia rindu makan disuapi oleh Ayah nya itu lagi.
Deg
Jantung Rachel masih saja berdegup saat mendengar nama suaminya itu. Dia sudah berdamai dengan masa lalu. Tapi ketika mendengar nama itu, seolah ada sesuatu yang tersangkut disana entahkah rindu atau rasa yang belum benar-benar pergi bersama waktu.
"Iya Mom. Gerald juga ingin bertemu Daddy. Kata Ayah, Mommy sudah sembuh dari trauma itu. Jika begitu, bolehlah kita bertemu Daddy Mom?" Pinta Gerald.
Sementara Gilbert tak mengucapkan apapun. Namun, jauh didalam lubuk hati anak usia lima tahun itu dia juga memiliki harapan yang sama seperti kedua adiknya yaitu bertemu dengan sang Ayah. Meski semua kerinduan dia tutupi dengan sikapnya yang dingin, disisi lain Gilbert memiliki kelemahan sendiri jika menyebut nama sang Ayah.
Tak bohong dia rindu. Dia tidak munafik atau egois, rasa marah dan kecewa itu memang ada. Namun sejauh apapun membuang rindu yang membelenggu dada tetap saja obatlah adalah sebuah pertemuan.
"Sebentar. Mommy baru ingat kemarin Papa memberikan amplop pada Mommy," Rachel berdiri dan membuka laci nakasnya.
"Apa Mom?" Tanya ketiga nya kompak.
"Mommy tidak tahu Nak,"
Rachel membuka pelan amplop berwarna coklat yang diberikan Sandy padanya setelah dia selesai operasi kemarin. Dia sampai lupa membuka amplop itu untung saja dia langsung ingat ketika anak-anak nya membahas sang suami. Rachel tidak tahu kenapa dia bisa langsung ingat saat menyebut nama suaminya.
"Akta?" Gumam Gilbert.
"Wahh kenapa ada nama Gella, Mom?" Tanya Gerra mengambil satu dokumen itu. "Ada nama Kakak juga. Ini dali siapa yaaa?" Gadis kecil itu tampak berpikir keras.
Gerald juga mengambil salah satu akta atas namanya. Lelaki kecil itu tampak memperhatikan isi dari akta itu
"Jet pribadi? Wahh siapa yang memberikan jet pribadi nya pada Gerald Mom?" Serunya membolak-balik akta itu dan memperhatikan nya dengan seksama.
"Punya Kakak apa?" Tanya Gerald.
Gilbert mengambil akta atas nama nya. Keningnya berkerut heran melihat nama perusahaan sang Ayah yang jatuh atas namanya. Seluruh perusahaan itu diubah atas nama Gilbert.
"Punya Kakak perusahaan?" Seru Gerald. "Punya Gerra apa?"
"Restourant Kak. Disini ada peta nya," sambil menunjukkan akta warisan ditangannya. .
__ADS_1
"Dari siapa ya?" Gumam Rachel.
"Mom, lihat seperti nya ada surat," seru Gerald.
"Surat?" Gumam Rachel.
Rachel kembali mengambil sesuatu didalam amplop berwarna coklat itu. Ada amplop berwarna putih kecil didalamnya. Namun entah apa isinya.
"Buka Mom," suruh Gilbert.
Rachel mengangguk dan membuka amplop kecil itu perlahan. Kenapa tiba-tiba perasaan nya tidak nyaman?
"Apa isi nya Mom?" Tanya Gerald penasaran.
Dear Rachel.
Untuk istriku yang paling cantik, Rachel Maryam.
Apa kabarmu Sayang?
Aku merindukanmu dan anak-anak Sayang.
Kau bisa membaca surat ini saat penglihatanmu kembali pulih. Dan saat itulah aku juga sudah tidak ada dihidupmu lagi.
Sayang, saat kau tak bisa melihat, duniaku juga seketika gelap tanpa ada cahaya. Maaf karena aku yang sudah membuatmu tak bisa melihat. Maafkan aku Sayang. Tapi sungguh aku tak bermaksud menakutimu waktu itu. Aku hanya ingin menjelaskan padamu bahwa aku menyesal karena perbuatanku dimasa lalu.
Aku minta maaf Sayang, aku sangat menyesal pernah menyakiti hatimu. Maaf karena aku memotong rambutmu. Maaf karena aku merobek bajumu. Maaf karena aku mencabuk tubuhmu. Maaf karena aku menginjak jari-jari mu hingga luka. Dan maaf karena aku sudah mengambil mahkota mu dengan paksa. Aku menyesal Sayang. Malam setelah kejadian itu aku mencarimu. Aku mencarimu seperti orang gila tapi aku tidak menemukanmu dimana pun.
Apapun yang aku korbankan untukmu dan anak-anak tidak akan bisa mengobati luka dihatimu Sayang. Maaf, sekali lagi maaf. Aku menyesal. Andai waktu bisa diulang kembali. Aku ingin hidup bahagia bersamamu, dan anak-anak kita. Tapi kebodohanku telah membuatku kehilangan wanita hebat seperti mu.
Sayang, kau harus bisa melihat. Aku tahu kau selalu menderita selama ini karena aku. Aku titip mata ini untukmu, agar kelak kau bisa melihat anak-anak tumbuh dewasa. Maaf sekali lagi, hanya mata ini yang bisa ku persembahkan sebagai pengabdian terakhirku padaku, sebagai permohonan maaf dan sebagai rasa cintaku padamu.
Aku titip anak-anak. Aku sudah memberikan mereka bagian masing-masing, bantu mereka untuk menjaga dan mengembangkan nya. Aku tahu kau bisa Sayang.
Aku pamit.....
Sampai bertemu dititik terbaik menurut takdir.
Dari yang tersayang...
Ramos Horta Ozawa.
__ADS_1
Bersambung......