
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Choky memegang kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Dia terbangun karena pantulan sinar matahari yang menyinari wajahnya.
Pria itu perlahan bangun dari ranjang. Dia duduk dan mengumpulkan sejuta nyawanya.
"Siapa yang bawa aku pulang?" tanyanya seraya mendesis. Seingat Choky semalam dia berada di club dengan menghabiskan beberapa botol wine.
Pria itu turun dari ranjang dengan langkah sempoyongan. Dia menuju kamar mandi.
"Ah kepalaku pusing sekali," desisnya sambil bersandar.
Pria itu duduk dibibir bath-up sejenak.
"Sepertinya aku perlu berendam, agar sakit kepalaku hilang," gumamnya.
Dia mengisi bath-up lalu menuangkan sabun cair di dalamnya.
Choky membuka seluruh pakaian yang dia pakai lalu masuk kedalam bath-up untuk berendam. Dia memang sering menghabiskan waktu untuk merendam tubuhnya disana.
"Rachel." Choky memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar dengan nyaman.
"Mas mencintaimu. Mas sangat mencintaimu. Kenapa kau malah memilih menikah dengan pria itu daripada berjuang dengan Mas?" lirihnya dan lagi air matanya menetes.
Dia adalah pria yang patah hati. Pria yang mencintai tetapi berakhir tersakiti. Ini tentang anak laki-laki yang patah hati. Jiwanya dihantam oleh kenyataan yang selama ini tak pernah terbayangkan di benaknya.
Patah hati tak sebercanda itu. Apalagi kehilangan seseorang yang begitu di cintai.
"Mas berjanji, Mas akan menjagamu dan melindungi mu, Hel. Mas berjanji," ujarnya lagi.
Kadang tidak mengerti mengapa mereka hanya menyebutnya sebagai patah hati karena ketika Choky bangun dia merasakan tubuhnya rusak terpatah-patah.
Belasan tahun menjalin persahabatan. Belasan tahun memendam perasaan dan pada akhirnya Choky dihempaskan oleh sebuah kenyataan.
Setelah lama berendam, pria itu segera keluar dari bath-up dan benar saja sakit kepalanya menghilang.
Choky keluar dari kamar mandi dan menuju almari nya. Di apartemen ini dia memang tinggal sendirian, untuk keperluan hidupnya dia hanya memakai asisten di siang hari saja.
Pria itu menatap pantulan dirinya di depan cermin sambil menyisir rambut basahnya yang baru saja dia keringkan dengan handuk kecil.
"Aku harus menemui Rachel! Tapi bagaimana caranya?" Choky menghela nafas panjang "Aku harus lepaskan Rachel dari jeratan Ramos. Pria itu kejam. Aku yakin jika dia tidak mencintai Rachel dan jika dia menyakiti Rachel maka akan ku pastikan dia menyesal seumur hidup," ucapnya dengan tatapan mata nyalang.
__ADS_1
Choky melirik fotonya bersama Rachel dan Ayunia yang terletak di atas nakas.
Pria itu mengambil foto yang berbingkai dengan motif-motif bunga-bunga.
"Tenang saja, Sayang. Mas, akan menjemputmu. Mas, akan membawamu pergi sejauh mungkin," ucapnya lagi.
Lama Choky memeluk foto itu merasakan kehadiran Rachel dalam hatinya. Sudah lama, sejak Rachel menikah dia tidak pernah lagi bertemu gadis tersebut.
Choky menyeka air matanya. Sepanjang hidupnya jika Rachel menderita dia akan menjadi pria paling menyesal dalam hidup. Karena bagi Choky Rachel adalah satu-satunya gadis yang menarik hati dan perhatiannya. Gadis sederhana. Gadis cuek dan dingin tetapi mampu membuat hatinya bergetar hebat.
Choky keluar dari kamar. Tampak dia sangat lelah sekali.
"Pagi, Mas," sapa Ayunia yang sudah menata makanan di atas meja.
"Pagi, Mas Choky," sapa Alvan juga.
"Pagi." Choky berjalan kearah meja makan "Kalian menginap di sini?" Sambil duduk.
"Iya Mas. Takut Bibi Lewi datang ke apartemen Mas," jelas Ayunia sambil mengambilkan nasi goreng untuk kedua lelaki itu.
"Mas, lagian kenapa sih ke club segala? Kalau orang tua Mas tahu nanti bagaimana?" Ayunia geleng-geleng kepala.
"Mas stress, Nia," jawabnya lemas.
"Sudah makan dulu Mas nanti lanjutkan lagi ceritanya," sanggah Alvan.
Mereka bertiga sarapan. Ayunia melirik Choky dengan kasihan. Pria itu patah hati hebat sekali. Sebagai sahabat dan adik tentu Ayunia paham bagaimana perasaan Choky.
Ramos berkutat dengan pekerjaannya. Semalam dia tidak pulang ke rumah. Dia menginap dirumah Agnes.
"Pagi, Tuan," sapa Heru.
"Katakan!" titahnya tanpa basa-basi.
"Maaf, Tuan. Tadi Tuan Besar dan Nyonya Besar memberi kabar bahwa malam ini mereka akan berkunjung ke apartemen Anda," lapor Heru.
"Berkunjung ke apartemen?" gumam Ramos "Maksudmu dia ingin datang ke apartemen ku?" Ramos menatap asistennya
"Iya, Tuan."
Pria itu mencebik kesal. Dia takut Rachel mengadukan perbuatannya selama ini. Namun, Ramos yakin jika Rachel tak berani. Jika di lihat sifat Rachel itu tertutup terhadap orang lain. Jadi, tidak mungkin istrinya itu akan mengatakan apa yang sudah dia lakukan pada Rachel.
__ADS_1
"Baik."
Ramos menghempaskan nafasnya kasar. Dia paling tidak suka berdrama. Namun, agar kedua orang tua nya itu tidak curiga, dia harus membuat drama dengan gadis yang paling dia benci.
"Maaf, Tuan. Sebentar lagi Anda ada meeting."
"Baik. Siapkan semuanya."
Ramos berdiri dari duduknya dan hendak pergi keruangan meeting. Namun, pria itu sejenak terdiam.
"Cincin."
Dia kembali berbalik menarik laci mejanya. Dia mengambil kotak beludru berwarna merah. Lalu membuka kotak itu.
"Ck, aku paling malas memakai cincin ini." Terpaksa dia mengambil cincin itu dan memasangnya di jari manis.
Itu adalah cincin pernikahannya dengan Rachel. Karena tidak mau memakainya Ramos melepaskan cincin tersebut. Baginya cincin itu adalah pembawa petaka apalagi Agnes selalu merajuk jika melihat cincin pernikahan dengan Rachel. Daripada kehilangan Agnes lebih baik dia kehilangan Rachel.
Seorang pria terduduk dengan tatapan kosong sambil menatap kearah taman rumah sakit. Di tangannya ada sebuah foto yang selalu dia lihat setiap hari. Foto itu seolah mampu mengobati segala rasa rindu yang membuncah dadanya.
"Rebecca," lirihnya meletakkan foto itu didadanya "Kenapa aku masih memikirkan gadis yang mirip dengan mu itu? Ada hubungan apa kalian? Apa dia saudara kembarmu?" gumamnya
Sandy, dia sudah lelah mencari keberadaan Rachel. Entah kenapa saat Rachel pergi dia merasa hampa dan ada sesuatu yang kurang dalam hatinya?
"Rachel." gumamnya
"Di mana kau, Rachel? Apa kau baik-baik saja? Kau masih belum pulih." Dia bermonolog sendiri.
"Aku khawatir, Rachel."
Sandy sudah mencari di mana Rachel tetapi hingga kini dia tak menemukannya. Entah kemana gadis yang mirip dengan mantan tunangannya itu pergi. Sandy hanya takut terjadi sesuatu pada gadis itu.
Sandy bangkit berdiri. Dia meletakkan foto tersebut kembali di tempatnya. Foto yang selalu dia pajang sebagai penyemangat dia bekerja.
**Bersambung....
Hai guys makasih buat yang sudah ikutin... Yuk terus dukung perjuangan Rachel. Bagaimana Rachel bisa menghadapi kenyataan hidupnya???
Disini akan banyak emosi dan air mata ada penyesalan yang nantinya akan membuang seseorang tak bisa mengenggam lagi sesuatu yang dia lepas sengaja. Jika ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah yaa guyss....
Yuk follow akun author
__ADS_1
FB :Fitriani Yuri
IG ; fitrianiyurikwon**_