
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Rachel," Sandy merangkul bahu Rachel. "Jangan takut," ucapnya menenangkan.
Air mata Rachel luruh. Dia menunduk. Entah kenapa tidak ada sama sekali kerinduan yang dia rasakan ketika bertemu dengan Ayah kandungnya. Bahkan dia sama sekali tak berharap bertemu dengan orangtua kandungnya.
"Rachel, ayo duduk dulu," Sandy dan Choky membawa wanita itu duduk diruangan VVIP yang sudah dipesan Choky. Choky ingin membahas masalah ini secara privasi.
Benedicto menahan tangisnya. Kenapa Rachel tampak tak mau melihat dirinya? Apa Rachel juga membenci dirinya?
"Rachel, Ayah ingin berbicara sesuatu denganmu," Sandy menggenggam tangan wanita itu berusaha menyalurkan kekuatan melalui genggaman tangannya.
"Mas," mata Rachel berkaca-kaca menatap Sandy. Berharap Sandy tahu apa yang dia pikirkan.
"Tidak apa-apa semua akan baik-baik saja. Ada Mas dan Mas Choky disini," ucap Sandy menenangkan dia tahu jika Rachel tak ingin membicarakan hal ini.
"Iya Hel, jangan takut," Choky ikut menimpali.
"Rachel." Panggil Benedicto.
Rachel mengangkat kepalanya dan menetap Benedicto. Jika Sandy tak menceritakan bahwa dirinya kembar mungkin Rachel takkan tahu jika dia masih memiliki orangtua kandung. Namun entah kenapa dia tak bahagia sama sekali. Dia justru takut, entah kenapa dia takut?
"Maafkan Ayah," ucap Benedicto menatap putrinya. Tatapan mereka berdua bertemu.
"Ayah tidak bermaksud membuangmu. Saat itu Ayah terpaksa karena tidak adabpilihan lain lagi. Maafkan Ayah, Nak," sambung Benedicto penuh rasa bersalah.
Rachel terdiam menatap bola mata Benedicto. Hatinya seolah sakit melihat tatapan Ayah nya itu. Setelah sekian puluh tahun berlalu kenapa baru sekarang mereka di pertemukan?
"Maaf Ayah, Nak. Ayah..." Benedicto menunduk, "Saat itu keluarga besar Ayah tidak mau menerima bayi kembar karena ada silsilah keluarga yang tidak bisa dilanggar. Ayah terpaksa membuangmu ke pinggir jalan. Maafkan Ayah Rachel,"
Air mata Rachel luruh. Sejak bayi dirinya sudah tak diinginkan. Sejak bayi dirinya sudah dibuang. Setelah dewasa pun dirinya juga masih tetap tak dianggap. Apa hidupnya memang tak pantas bahagia.
Nafas Rachel memburu. Tangannya terkepal kuat. Apalagi mendengar bahwa dirinya dibuang di pinggir jalan. Tidak adakah cara yang lebih layak untuk membuangnya diberikan pada orang lain? Atau di titipkan ke panti asuhan. Kenapa harus pinggir jalan? Apa dia benar-benar tak layak dihargai sebagai manusia.
__ADS_1
"Rachel," Benedicto berdiri dan menghampiri putrinya. Dia tak sabar ingin memeluk tubuh Rachel.
"Stopppppp!" Mereka semua terkejut mendengar teriakkan Rachel yang menahan Benedicto dengan tangannya.
"Jangan mendekat," pekik Rachel langsung berdiri.
"Rachel," Sandy dan Choky juga ikutan berdiri.
"Rachel, maafkan Ayah," ucap Benedicto dengan penyesalan.
"Kenapa harus minta maaf?" Tatap Rachel, "Bukankah anda sudah membuang saya dipinggir jalan. Kenapa sekarang anda malah datang dan meminta maaf dengan alasan terpaksa?" Rachel menyeka air matanya.
"Rachel, dengarkan Ayah, Rachel. Ayah punya alasan tersendiri kenapa membuangmu? Maafkan Ayah." Hanya kata maaf yang bisa Benedicto ucapkan pada putrinya. Dia memang bersalah.
Benedicto terlahir dari keluarga kaya raya dan begitu juga dengan istrinya Nirmala. Di keluarga mereka sangat pantang melahirkan bayi mereka entah itu karena silsilah keluarga atau memang ada keturunan dari nenek moyang yang tidak boleh melahirkan bayi kembar. Jika melahirkan bayi kembar maka salah satu nya harus dibunuh atau dibuang.
Benedicto takkan tega membunuh putrinya dengan terpaksa dia membuang anaknya dipinggir jalan dalam keadaan masih bayi. Namun cara yang Benedicto ambil salah. Harusnya dia menitipkan pada orang atau panti asuhan. Tidak harus membuangnya di pinggir jalan.
"Menjelaskan alasan anda membuang saya? Menjelaskan bahwa anda terpaksa. Menjelaskan bahwa sekarang anda menyesal? Kenapa anda mencari saya bukankah nanti saya juga akan ditolak lagi di keluarga anda? Atau karena kembaran saya sudah meninggal?"
Benedicto terdiam air matanya luruh. Benar dia menyesal. Dia sangat-sangat menyesal. Waktu itu dia juga takut namanya di coret dari keluarga nya yang terhormat itu.
"Apa anda tahu apa saja yang sudah saya lewati? Apa anda tahu bagaimana hidup saya setelah anda membuang saya? Apa anda tahu bahwa saya hidup saya sudah?" Rachel menjelaskan sambil menangis dengan air mata berlimpah ruah.
"Maafkan Ayah Rachel," ucap Benedicto juga menangis. "Ayah menyesal. Ayah sungguh-sungguh menyesal." Sambungnya
Rachel menangis sambil memukul dadanya berkali-kali sambil menggeleng.
"Anda egois anda hanya mementingkan diri anda sendiri tanpa memikirkan perasaan saya. Saya adalah putri terbuang yang tidak anda inginkan. Anda tahu bagaimana sulitnya saya hidup? Saya harus berjuang setengah mati untuk menjalani betapa sulitnya saya hidup. Saya harus menjadi tulang punggung keluarga. Saya menghabiskan masa muda saya untuk bertahan hidup, saya harus bekerja agar bisa makan. Saya harus mengorbankan hidup saya agar keluarga yang merawat saya memiliki kehidupan yang terjamin. Saya....."
Wanita itu menarik nafas nya masih menangis segugukan. Kenapa hidupnya tak pernah merasakan kebahagiaan? Dibuang oleh keluarga sejak bayi. Dibuang oleh suami sendiri. Sekarang putri kesayangannya harus menderita penyakit yang membuatnya terbaring lemah dibrangkar rumah sakit.
"Kenapa anda harus mencari saya? Bukankah saya sudah terbuang? Apakah anda mau mengambil sampah yang sudah anda buang lalu anda daur ulang? Tapi ini bukan tentang sampah ini tentang putri yang terbuang,"
__ADS_1
Rachel memegang pinggang nya dan meringgis kesakitan. Dia kalau terlalu banyak mengeluarkan emosi. Maka rasa sakit dibagian ginjalnya akan terasa.
"Rachel," Sandy dns Choky bersamaan menangkap tubuh Rachel.
"Rachel," ingin rasanya Benedicto memeluk Rachel.
"Rachel," begitu juga dengan Ozawa. Rachel sudah seperti anaknya sendiri. Menanti kesayangan nya
"Arghhhhh," Rachel terduduk sambil memegang pinggang nya.
Rachel menatap Benedicto dengan tatapan kebencian. Semua orang selalu membuatnya hidup dalam penderitaan. Walau pun Benedicto adalah Ayah nya tapi apa yang sudah dilakukan Benedicto padanya sudah diluar batas perlakuan seorang Ayah.
"Rachel," Benedicto hendak memegang tangan Rachel.
Rachel menggeleng. Dia tidak mau melihat Ayah nya. Dia tidak mau. Bukankah semua orang tidak ada yang mencintainya.
"Arggggg," wanita itu masih meringgis wajahnya pucat fasih.
"Rachel," wajah Choky tampak panik
Brakkkkkkkkkkkkkk
Wanita itu hampir terjatuh ke lantai untung saja Sandy cepat menangkap tubuh Rachel.
"RACHEL,"
Sandy dengan cepat menggendong wanita itu. Wajahnya pucat. Setelah operasi transplantasi ginjal, kondisi ginjal Rachel memang bermasalah.
"Sandy cepat bawa Rachel," tintah Ozawa panik
Sandy mengangguk dan membawa Rachel keluar dari ruangan itu dengan wajah panik bukan main. Rachel sebenarnya memang tidak boleh stress apalagi mengingatkannya pada masa lalu kelam yang sampai membuatnya trauma berat seperti ini.
Bersambung........
__ADS_1