
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Sandy masuk kedalam mobilnya. Ya seperti biasa dia akan pulang larut malam. Begitulah pekerjaannya setiap hari hanya berputar-putar disitu saja, tidak ada perubahan sama sekali. Apalagi sejak dia pulang ke Indonesia.
"Ahh aku sangat merindukan Triple G, bagaimana kabar mereka?" gumam Sandy.
Lelaki itu memasang stel musik dan menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik kesukaan nya. Terkadang sebagai manusia biasa dia merasakan kesepian. Tak bisa pungkiri pria normal seperti nya sangat ingin belaian seperti Rayyan. Namun, Sandy sadar hal itu tidak benar. Dia tidak mau berbuat dosa lagi setelah sudah terlalu banyak berbuat dosa.
Sampai dikediaman nya, Sandy langsung turun. Ya rumah mewah itu, hanya dia tinggali bersama Benedicto yang sekarang sedang menikmati masa-masa tua nya di rumah sebagai lelaki pengangguran.
"Kau sudah pulang Son?" Benedicto langsung menyambut kepulangan putra angkat nya itu.
"Ayah belum tidur?" Sandy menyalami tangan lelaki paruh baya itu.
"Belum. Ayah menunggu mu," sahut Benedicto. "Bersihkan lah dirimu. Temani Ayah mengobrol," ucapnya sambil duduk di sofa dan kembali melanjutkan bacaannya dengan kaca mata yang sudah terbalik-balik.
"Iya Ayah," Sandy tersenyum
Lelaki itu langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia memang gerah dan badannya bau serta lengket.
Setelah membersihkan diri Sandy segera menghampiri Benedicto. Mereka berdua memang jarang makan malam bersama karena Sandy yang selalu pulang tengah malam. Biasanya Sandy juga makan di rumah sakit atau dikantor.
"Bagaimana dengan kantor?" tanya Benedicto tapi dia sibuk dengan bulu yang ada ditangannya.
"Seperti biasa Ayah. Perlahan aku mulai menikmati pekerjaan ini, meski awalnya sulit. Tapi semakin lama, aku semakin paham," ucap Sandy.
Ya Sandy harus belajar dari nol tentang perusahaan. Tentang bagaimana caranya berbisnis dan mendapatkan banyak keuntungan. Bahkan bulan ini, Sandy sudah mendapatkan keuntungan sekian persen dari penjualan nya.
__ADS_1
Benedicto mengangguk dan tersenyum bangga. "Terima kasih Son. Kau memang hebat. Tak hanya sebagai dokter tapi kau juga sebagai pembisnis," puji Benedicto terkekeh.
Sandy menghela nafas panjang. "Sebenarnya aku hanya terbiasa saja. Ya seperti yang Ayah katakan, bisa karena terbiasa," jelas Sandy tersenyum lebar.
Untuk sesaat kedua pria beda usia itu terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya beginilah kehidupan mereka datar dan mengalir seperti air. Apalagi sejak kepergian Nirmala, hidup Benedicto benar-benar hampa. Dia kesepian. Meski Ramos dan Rachel berulang kali mengajaknya tinggal bersama mereka di Sidney, namun lelaki paruh baya itu memilih menetap di Indonesia agar bisa selalu mengenang istrinya.
"Sandy," panggil Benedicto memecahkan keheningan.
"Iya Ayah," Sandy melirik Benedicto. "Ada apa Ayah?" tanyanya sambil tersenyum hangat.
"Apa kau tak ingin memiliki keluarga seperti Ramos? Kau sudah dewasa dan berusia. Kau tidak bisa selamanya hidup sendiri. Bangkitlah Nak, Ayah tidak bisa selalu menemanimu disini. Suatu saat Ayah akan kembali kepada sang pencipta. Sebelum Ayah pergi, Ayah ingin melihat kau bahagia," Benedicto menepuk pundak Sandy.
"Ayah, jangan bicara begitu. Ayah takkan pergi meninggalkan ku. Kita akan bersama selamanya," ucap Sandy memegang tangan Benedicto yang ada di bahu nya. Sandy sangat menyayangi Benedicto. Dia takkan rela kehilangan lelaki yang sudah dia anggap sebagai Ayah kandungnya ini.
Benedicto terkekeh. "Tidak ada manusia yang abdi mampu bertahan hidup selamanya Sandy. Kematian itu pasti akan menghampiri setiap manusia. Tidak ada manusia yang bisa menghindarinya. Sebelum Ayah pergi, Ayah ingin kau menikah," ucapnya lagi.
Sandy terdiam. Menikah? Entahlah, hingga kini dia tidak menemukan wanita yang bisa mengisi kekosongan didalam hatinya. Setelah Rachel tak bisa membuka hati untuknya, lelaki itu seperti mati rasa dan tak ada niat untuk membuka hati kembali.
"Kau harus mencarinya. Kalau kau tidak ada usaha ya sampai kapan pun kau tidak akan menemukan nya Sandy," Benedicto geleng-geleng kepala. Benedicto sempat terkejut ternyata Sandy memiliki rasa pada Rachel putrinya. "Jangan terlalu pemilih dalam mencari pasangan. Yang penting hatinya baik dan bisa menerima mu apa adanya. Masalah fisik. Harta. Semua itu bisa dicari. Tapi orang yang tulus hanya ada pada mereka yang menghargai kebersamaan," ucap Benedicto menasihati Sandy.
Jujur Benedicto ingin sekali mencarikan Sandy calon istri. Namun dia tidak mau membuat Sandy tertekan karena dijodohkan dengan orang yang tidak dia sayang. Biarlah nanti pria itu mencari jodohnya sendiri, semoga saja Sandy segera menemukan wanita yang tepat.
.
.
.
__ADS_1
.
"Mas, terima kasih sudah membantuku. Maaf merepotkan," ucap Sandra tak enak hati.
"Tidak apa-apa Mas senang membantu," pria itu memperbaiki anak rambut Sandra yang sedikit berantakan. "Ya sudah Mas pulang dulu, ada dinas malam ini," ucapnya sambil berdiri dan meraba tas nya
Bima adalah seorang Bintara dalam satuan kepolisian. Ya dia adalah seorang polisi yang sekarang bertugas. Bintara merupakan tulang punggung kesatuan di militer yang berperan sebagai penghubung antara Perwira dengan Tamtama atau sebaliknya dalam segi operasional. Bintara juga memiliki tugas untuk membimbing dan mengepalai beberapa jumlah anggota Tamtama seukuran regu yang dipimpin oleh seorang Sersan.
"Ya sudah Mas, hati-hati," ucap Sandra tersenyum.
Bima kembali menarik Sandra kedalam pelukannya. Dia cukup merasakan prihatin pada keadaan Sandra. Namun dia tak bisa membantu banyak karena dia pun sama susahnya seperti Sandra. Meski gaji cukup besar namun Bima sedang membiayai adik-adik nya kuliah.
"Besok Mas datang lagi. Jangan sedih ya, Ibu pasti baik-baik saja," ujar Bima.
"Sekali lagi terima kasih Mas sudah selalu ada untukku. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikan Mas padaku," mata Sandra kembali berkaca-kaca.
"Stttt, jangan bicara seperti itu. Ini sudah tugas dan tanggung jawab Mas. Badai pasti berlalu," serunya sambil tersenyum. "Yas sudah Mas pamit yaaaa," pamitnya.
"Iya Mas," Sandra melambaikan tangan nya dan mengantar Bima sampai didepan pintu.
Sandra menutup pintu rawat Ibu nya. Wanita itu menghela nafas panjang. Biaya berobat Ibu nya juga belum lunas sementara Ibu nya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tindakan apa yang perlu dilakukan dalam menangani penyakit sang Ibu.
Gadis itu kembali terduduk lemah. Dia membuka amplop berwarna coklat pemberian Bima.
"Setidaknya uang ini cukup untuk mengajar obat Ibu," gumamnya sambil menghela nafas panjang.
Wanita itu kembali melirik kearah sang Ibu yang masih terbaring tak berdaya diatas brangkar rumah sakit. Tangannya mengusap kepala Ibu nya.
__ADS_1
"Aku berjanji Bu, akan mencari dana untuk kesembuhan mu. Berjanjilah padaku, untuk bertahan apapun yang terjadi," Sandra memberikan kecupan singkatnya.
Bersambung.....