
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Setelah Gerra menjalani kemoterapi dan tidak ada perubahan pada tubuh gadis kecil itu. Choky dan Sandy membujuk Rachel agar pindah ke istana. Disana akan aman. Apalagi Gilbert dan Gerald menjelaskan jika ada orang yang diam-diam mengawasi Rachel.
"Mom, sebaik nya turuti saja saran Ayah dan Papa. Kita tinggal disana. Disana aman," ujar Gilbert.
"Iya Mom. Apa yang Kakak bilang benar," sambung Gerald.
Rachel tampak menarik nafas dalam. Dia menatap putri kecilnya yang tertidur dengan beberapa selang ditubuh Gerra. Gadis itu terus menangis dan merintih kesakitan saat jarum suntik itu menyiksa beberapa bagian tubuhnya yang lain.
"Tidak usah khawatir Hel. Sandy akan disiapkan semua peralatan medis disana," Choky ikut menimpali.
Rachel mengangguk tak bisa lagi menolak. Memang benar disana aman. Dia tidak mau ada yang menemukan keberadaan nya dan membuat dia lebih mudah ditemukan.
"Iya Mas," sahut Rachel, "Sayang, putri kecil Mommy. Kita pindah ke istana Ayah ya Nak. Gerra cepat sembuh," dia mengecup kening putri kecilnya itu dengan sayang.
"Ya sudah ayo. Orang-orang suruhan Daddy sudah menjemput kita," ajak Choky
Sebenarnya Rachel tak ingin menghindar siapapun yang mengawasi dia secara diam-diam dia tidak mau tahu. Tapi demi keselamatan ketiga anaknya dia rela melakukan apa saja. Rachel tak enak hati karena sudah terlalu banyak merepotkan Choky dan keluarganya.
Keluarga Choky menyambut Rachel dan ketiga kembar dengan penuh sukacita. Apalagi kedua orangtua Choky begitu menyukai anak-anak Rachel yang sangat cerdas dan menggemaskan.
"Rachel," Lewi memberikan pelukkan hangat pada wanita yang dia harapkan menjadi menantunya itu.
"Mom," Rachel membalas pelukan Lewi "Apa kabarmu Mom?" Dia melepaskan pelukan wanita paruh baya itu.
"Mommy sehat Nak. Kau apa kabar? Semakin cantik saja!" Goda nya terkekeh pelan.
"Rachel sehat Mom," senyum Rachel.
"Hai putri kecil," Lewi mengusap kepala Gerra yang digendong oleh Sandy.
"Hai Oma," balas Gerra "Oma apa kabal?" Serunya.
"Oma sehat Sayang," jawab Lewi.
"Ayo masuk,"
Sandy memerintahkan anak buahnya untuk membawa semua peralatan medis di istana Choky. Untuk sementara Gerra akan dirawat di istana ini dengan fasilitas yang lengkap. Sandy tak mau lengah. Gerra juga begitu berarti untuknya.
"Ayo makan. Mommy sudah siapkan makanan kesukaan kalian," seru Lewi.
"Hai cucu-cucu Opa,"
__ADS_1
"Opa,"
Gilbert dan Gerald berhambur memeluk pria paruh baya itu. Morres menggendong kedua bocah yang sudah dia anggap seperti cucu nya sendiri. Apalagi Gilbert dan Gerald anak-anak yang cerdas.
"Sayang Opa-nya dulu,"
Cup cup cup cup
Rachel tersenyum hangat. Dia senang disini keberadaan nya dianggap dan dihargai.
Keluarga selalu menerima dirinya. Kedua orang tua Choky begitu menyanyangi dirinya dan anak-anak nya seperti anak kandung.
"Jagoan Opa berat sekali," seru Morres.
"Kita kan sudah besar Opa," jawab Gerald "Bukan anak kecil lagi," sambungnya.
"Ck, besar dari mana? Kalian itu masih kecil, kalau besar itu seperti Opa. Tinggi, besar dan tampan," celetuk Morres sambil meletakkan kedua bocah itu dikursi meja makan.
"Tidak seperti itu Opa, besar itu kalau sudah pintar seperti kamu," sahut Gilbert.
Gerra yang kondisinya belum pulih selesai kemoterapi bahkan tak ada perubahan sama sekali hanya menyaksikan kedua Kakak nya bermain dengan Opa kesayangan mereka. Jika saja dia sehat sudah pasti dia akan bergelayut manja juga digendongan Morres.
"Hai putri kecilnya Opa. Apa kabar Sayang?" Morres mengusap kepala Gerra.
"Gella sakit Opa, tidak sehat," adunya dengan bibir menggerecut.
"Iya Opa," sahut Gerra cemberut. Dia ingin sehat dan bermain seperti biasa.
"Sayang sama Mommy ya. Gerra mau makan yang mana?" Rachel mengambil Gerra dari gendongan Sandy
"Gella mau makan apa saja kok Mom," jawabnya
Rachel sedih melihat putri kecil yang tampak lemah lesu. Biasanya putrinya ini selalu ceria dan cerewet. Tapi kini putri kecilnya tak bisa apa-apa dan hanya diam melihat kedua Kakak nya bermain.
"Siang semua...."
"Hai ada Kak Sandy," seru Chica adiknya Choky
"Chica," tegur Choky.
"Kak Rachel," Chica tak peduli dengan tatapan tajam Kakaknya.
"Apa kabarmu Cha?" Rachel tersenyum kearah Chica sambil menyuapi putrinya.
__ADS_1
"Seperti yang Kakak lihat. Aku sedang sibuk menyusun skripsi Kak, rasanya isi kepalaku ingin keluar," keluh Chica sambil duduk dan ikut makan bersama keluarga besarnya.
"Memangnya isi kepala bisa keluar Aunty?" Tanya Gerald penasaran.
"Hem, ya biasalah," jawab Chica asal.
"Apa isi nya?" Sambung Gilbert ikut penasaran.
"Sudah-sudah ayo makan," ajak Lewi
Mereka semua makan dan sesekali diselingi candaan dan obrolan singkat. Keluarga besar Alexander memang terkenal akur dan adem. Mereka tak memandang derajat manusia. Bagi Morres dan Lewi apapun pendidikan dns profesi seseorang dia pantas untuk dihormati.
"Kak Sandy," Chica kesem-kesem menggoda Sandy.
Sandy tak merespon sama sekali, dia malah asyik menghabiskan makanan nya. Membuat gadis cantik itu merenggut kesal. Susah sekali mencairkan es batu seperti Sandy yang dingin tak bisa dicairkan itu.
Setelah makan, Choky menunjukkan kamar Rachel dan anak-anak nya. Tentu kamar Rachel dan Gerra akan satu sebab Gerra terus menempel pada Ibunya itu.
"Wahh kamar nya bagus Ayah. Bagus dali kamal Gella di lumah," seru Gerra.
"Mas, apa ini tidak terlalu besar. Aku tidak enak Mas, terus merepotkan mu," ucap Rachel.
Choky malah tersenyum mendengar ucapan Rachel. Rachel tak pernah merepotkan nya. Apapun akan dia lakukan untuk Rachel asal Rachel dan ketiga kembar itu bahagia.
"Tidak sama sekali," jawab Choky "Kamar ini nanti akan Sandy gunakan untuk perawatan Gerra," jelas Sandy.
"Mas terima kasih ya, Mas sudah banyak bantu aku. Kalau tidak ada Mas, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku," ucap Rachel berkaca-kaca.
"Itu sudah tanggungjawab Mas. Maaf dulu pernah menyamar sebagai pelayan demi mendekati wanita cantik Mas ini," goda Choky
"Mas," Rachel tersipu malu.
"Ya sudah kalian istirahat ya. Mas mau ke kantor sebentar. Ingat Rachel, jangan menangis didepan Gerra. Jadilah penguat untuk anak mu. Mas akan dukung kamu disini," tegas Choky.
Rachel mengangguk dengan sendu "Maaf Mas, kadang aku lupa kalau air mataku sangat mahal untuk anak-anak ku. Tapi aku berjanji akan menjaga perasaan mereka," ucap Rachel yakin
"Mas paham perasaanmu," Choky menarik Rachel dalam pelukan nya dan memberikan kekuatan pada wanita anak tiga ini.
**Bersambung....
Hai guys
jangan lupa dukungan buat author..
__ADS_1
Yuk mampir ke karya baru author....
Istri Tuan Muda Delvano**.....