
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Gerald, bangun." Bisik Gilbert mengoyangkan lengan adiknya.
Gerald mengeliat dibalik selimut tebalnya. Wajahnya tampak menggemaskan dan lucu. Niatnya tadi pura-pura tidur ehh malah tertidur.
"Kakak." Dia terduduk sambil mengucek matanya.
"Dek, bangun Dek." Gilbert juga membangunkan adik bungsunya.
"Bangun Dek." Gerald menarik tangan Gerra agar segera bangun.
"Gerald pelan-pelan tangan adik bisa sakit." Tegur Gilbert pada adiknya.
"Maaf Kak." Gerald menyapu-nyapu tangan Gerra bekas cengkraman tangannya.
"Kakak." Gerra berusaha mengumpulkan nyawanya "Ada apa Kak, kenapa membangunkan Gella tengah malam begini?" Dia menggaruk-garuk matanya yang masih terasa mengantuk.
"Sttt. Jangan ribut. Kalian ikut Kakak." Gilbert turun dari ranjang.
"Mau kemana Kak?" Gerald dan Gerra ikut turun.
"Ikut saja nanti kalian tahu." Jawab Gilbert seperti orang dewasa "Gerra, jangan bersuara dan jangan banya bertanya. Berjalannya pelan-pelan, tidak usah pakai alas kaki." Jelas Gilbert pada kedua adiknya "Paham?" Sambung nya.
"Paham Kak." Kedua nya mengangguk.
"Gerra pegang tangan Kakak. Gerald gandeng tangan adik." Perintah Gilbert.
"Iya Kak." Gerald ikut menggandeng tangan adik bungsunya.
Ketiganya keluar dari kamar dengan mengendap-endap. Kaki kecil itu tampak berjalan rapih sambil saling bergandengan tangan.
"Aman, Ayah dan Papa sudah tidur?" Bisik Gilbert.
Gerald dan Gerra mengangguk meski mereka belum tahu kemana sang Kakak akan membawa keduanya pergi. Namun Gerald dan Gerra tetap menurut.
Mereka lanjut berjalan dengan hati-hati takut suara kaki mereka terdengar. Untung saja para pelayan disini sudah tidur kalau tidak ketiga sudah pasti ketahuan.
"Kita masuk kedalam ruangan kerja Ayah."
"Iya Kak."
Ruangan kerja Choky memang jarang dikunci entah lupa atau memang sengaja.
Ketiganya masuk kedalam dan Gilbert mengunci pintu pelan. Sengaja dikunci takut jika Choky masuk tiba-tiba kedalam ruangannya.
"Kak sebenarnya kita mau apa disini?" Tanya Gerra melepaskan tangan kedua Kakak nya.
"Apa kalian ingin tahu siapa Daddy kita?" Gilbert menatap kedua adiknya.
"Tentu saja mau Kak." Seru Gerald dan Gerra semangat.
"Ayo sini."
Gilbert mengambil laporan Choky yang terletak diatas meja.
"Gerald ambil laptop Ayah yang satu." Tintahnya.
__ADS_1
Ketiganya duduk disoffa ruang kerja Choky. Gerald terseok-seok mengangkat laptop yang ukuran nya cukup besar.
"Kak berat." Keluh Gerald.
"Gella bantu Kak." Gadis itu ikut membantu Kakaknya dan meletakkan laptop itu diatas meja. Sebab jika dipangku tentu tidak mampu.
"Nyalakan laptop nya." Gilbert sudah duluan menyalakan laptop ditangannya.
Kebetulan diatas meja Choky ada dua laptop karena memang sebagai pemimpin perusahaan Choky memiliki data yang banyak jadi dia tidak bisa memakai satu laptop dan harus dua atau bisa lebih.
"Gerald retas rekaman CCTV diruang kerja Ayah."
"Baik Kak."
Keahlian Gilbert dan Gerald dibidang IT diajarkan oleh Alvan. Kedua anak berusia lima tahun itu setiap hari belajar tentang retas meretas dan membuat virus. Alvan tak sia-sia mengajarkan anak-anak Rachel karena mereka cepat tanggap.
Sementara Gerra yang tak paham apa-apa hanya melihat kedua Kakak nya sambil menunggu apa yang akan diperintahkan Kakak nya padanya.
"Hem, Kakak tadi tidak sengaja mendengar Ayah dan Papa menyebut-nyebut nama...." Gilbert tampak berpikir. Sementara Gerald sedang mengotak-atik laptop diatas meja.
"Kalau tidak salah namanya Ra_"
"Ra siapa Kak?" Gerald ikut menyambut "Rafael?" Tebak Gerald
"Bukan." Gilbert menggeleng cepat "Ra..."
"Rafatar?" Tebak Gerra juga.
"Rayyanza?" Sambung Gerald.
"Ck bukan." Gilbert kesal "Kalian diam dulu, jangan potong ucapan Kakak." Ucapnya ketus pada kedua adiknya.
Gilbert mencoba mengingat nama yang tak sengaja dia dengar saat Choky dan Sandy menyebutnya. Tadi pria kecil itu mengintip dibalik pintu untuk menangkap pembicaraan Ayah dan Papa nya.
"Ra. Ra. Ra m os." Ucapnya pelan "Iya Ramos." Serunya.
"Ramos?" Gumam Gerald pelan "Siapa Kak?" Sambung nya.
"Mungkin Daddy." Sahut Gilbert asal.
"Gerald cari nama Ramos."
"Baik Kak."
Gerald kembali mengotak-atik laptop nya. Gerra pusing sendiri mendengar suara yang keluar dar tombol-tombol laptop itu saag ditekan.
"Kak yang mana. Banyak sekali nama Ramos?" Ujar Gerald.
"Biar Kakak yang cari."
Gilbert tampak serius dengan laptop didepan nya. Gerald dan Gerra ikut menatap ke layar laptop itu. Penasaran apa Kakaknya akan menemukan nama yang mereka cari.
"Kak, itu bukan foto itu." Seru Gerra.
"Ck, tidak perlu teriak Dek. Nanti ketahuan." Tegur Gerald.
"Hehe maaf Kak." Gerra hanya cenggesan.
__ADS_1
"Kak, kenapa wajah nya sangat milip kalian beldua Kak? Apa dia Daddy kita?" Gerra menunjuk layar laptop sambil menutup mulutnya.
Gerald ikut memperhatikan pria yang ada didalam laptop itu. Benar-benar mirip dia dan sang Kakak.
"Sebentar Kakak buka profil nya." Gilbert menekan tombol enter.
"Ramos Horta Osawa." Ucap Gerald "Kak, seperti nya ini memang Daddy kita. Bukankah nama belakang kita ada Horta nya Kak?" Tuturnya.
Gilbert mengangguk "Iya kau benar Gerald. Dan seperti nya Daddy kita bukan orang sembarangan." Jelas Gilbert.
"Cari lagi profil yang lain Kak. Jika bukan orang sembarangan pasti Daddy terkenal Kak." Lontar Gerald.
"Kau benar, dia kita seorang CEO pemilik Ozawa Group." Jelas Gilbert.
"CEO itu apa Kak?" Tanya Gerra bingung.
"Pemimpin perusahaan Gerra. Itu saja tidak tahu, dasar anak kecil." Cibir nya.
"Kakak juga masih kecil, bleee." Dia mengulurkan lidahnya kesal.
Sementara Gilbert serius dengan laptop didepan nya tanpa mengindahkan kedua saudara nya yang berdebat. Dia membaca dengan teliti data yang dia dapat dilaptopnya.
"Gerald retas rekaman CCTV, di alamat ini. Kakak curiga jika Mommy dulu tinggal disini. Barangkali disana ada jejak kenapa Daddy dan Mommy terpisah." Jelas Gilberat.
"Baik Kak."
Gerald kembali berseluncur diatas stut keyboard. Tangan mungilnya berlarian tanpa kaku dan tanpa melihat huruf atau angka yang tertera di stut laptop itu.
"Kak, tidak bisa diretas, keamanan nya dijaga Kak." Gerald mendesah.
"Tunggu Kakak akan kirimkan virus pemulih ke laptopmu." Gilbert mengotak-atik laptop nya wajah nya serius seperti orang-orang ahli IT.
"Masuk Kak."
"Cepat retas." Sambil melirik laptop Gerald.
Gerald berhasil meretas rekaman CCTV yang sudah lama itu. Yang mungkin kejadian nya sebelum mereka lahir.
"Kak."
Gerald dan Gerra menutup mulut tak percaya saat melihat rekaman dan adengan nyata itu.
"Jangan dilihat jika kalian tidak mampu. Biar Kakak yang lihat."
Gilbert memperhatikan rekaman itu disana tertera tanggal kejadian yang jelas rekaman ini sebelum mereka lahir.
Gilbert menggeleng tak percaya saat melihat semua isi rekaman itu.
"Matikan Gerald." Tintahnya.
"Baik Kak." Gerald langsung menutup laptopnya.
"Kak, apa itu Daddy kita? Kenapa Daddy jahat sama Mommy Kak? Kenapa Daddy siksa Mommy? Gella tidak mau ketemu Daddy. Gella takut Mommy disakiti sepelti itu lagi."
Gilbert memeluk adik kecilnya. Ketiga saudara kembar itu saling memeluk dan menguatkan satu sama lain.
Bersambung....
__ADS_1
Kalau ada typo kalian tag aja ya guys...
Enggak author koreksi soalnya kejaran sama sinyal...