Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Senyuman Mommy


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Mommy."


"Gilbert. Gerald."


Kedua anak kembar itu berhambur memeluk Rachel. Perjalanan mereka ke Indonesia hampir dua Minggu, dan hal itu membuat kedua nya merindukan sang Mommy terutama masakkan Rachel.


"Mommy, Kakak rindu Mommy."


"Gerald juga rindu Mommy."


"Mommy juga rindu kalian Sayang." Rachel mengusap kepala kedua anaknya.


"Kalian kemana saja? Kenapa lama sekali? Mommy telpon dari tadi kenapa tidak diangkat? Mommy khawatir Nak!" Rachel melepaskan pelukannya. Dia begitu merindukan kedua anaknya ini.


"Maaf Mommy tadi kami dijalan." Jawab Gerald. Sebenarnya Gerald ingin bercerita bahwa dia sedang bahagia karena baru saja bertemu dengan Ayah kandungnya. Tapi semua itu tidak mungkin, bisa-bisa Ibu nya itu mengalami serangan panik lagi.


"Tidak rindu pada Ayah nya?" Goda Choky.


Rachel berdiri dan tersenyum dia memeluk Choky karena dia juga rindu pria yang sudah banyak berkorban untuknya.


"Rindu?" Choky terkekeh ketika Ibu tiga anak ini memeluk nya.


"Tidak." Goda Rachel.


"Kau yaa........" Choky memeluk Rachel dengan erat.


Andai Rachel tahu betapa Choky mencintainya. Andai Rachel tahu bahwa yang ada dipikiran Choky hanya Rachel. Bahkan dalam usia yang sudah tak muda lagi, Choky tak memikirkan mencari wanita lain. Dia masih setia menemani Rachel dan menunggu wanita ini peka pada perasaan nya.


Bukan Choky tak ingin mengungkapkan perasaan nya pada Rachel. Hanya dia takut Rachel akan menjauh dari nya karena dia tahu jika wanita beranak tiga ini takkan menerima cintanya. Sebab hati Rachel sudah mati. Dimatikan oleh suami kejam yang membuangnya secara tak berharga.


"Kalian lapar tidak?" Rachel melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Lapar.. Lapar...." Jawab Gilbert dan Gerald bersamaan.


Gilbert akan kembali menjadi anak kecil ketika bersama Ibu nya. Seolah dia menutupi identitas dirinya dan tidak mau Rachel tahu bahwa dia sudah mengerti urusan orang dewasa. Gilbert tak mau jika Ibu nya nanti malah terus memikirkan dirinya.


"Ya sudah Mommy masak ya." Senyum Rachel.


Senyuman Rachel membuat ketiga pria itu klepek-klepek dan tak bisa berpaling. Bagaimana bodohnya Ramos membiarkan wanita sebaik ini lepas dari pelukannya.


"Kalian mandi dan ganti baju ya. Bisa sendiri 'kan Nak?"


"Bisa Mom." Jawab Gilbert dan Gerald kompak.


Meski tinggal di istana mewah Rachel tetaplah Ibu dengan tiga anak. Segala keperluan anak-anak nya dia yang handle dan urus sendiri. Bukan tak percaya pada pelayan dia hanya ingin memastikan bahwa anak-anak nya mendapat perhatian dari dirinya.


"Mas, Mas juga mandi dan ganti baju." Suruh Rachel.


"Siap Bunda." Goda Choky terkekeh.


Rachel memutar bola matanya malas, Choky memang suka menggodanya dengan memanggil dirinya Bunda.


Sementara Choky, dia masuk kedalam kamar Gerra. Dia rindu gadis kecil yang selalu menciptakan tawa bagi siapa saja yang mendengar celotehan-celotehan lucunya.


"Kapan kau datang?" Tanya Sandy yang sedang menyusun beberapa alat medis diruangan rawat Gerra.


"Baru saja." Jawab Choky. Dia berjalan kearah ranjang Gerra, "Bagaimana keadaannya?" Choky menatap Gerra yang tertidur pulas dengan alat-alat medis menempel dibeberapa bagian tubuhnya yang lain.


"Dia sudah lebih baik. Tapi efek kemoterapi itu cukup berakibat fatal. Dia mengalami infeksi paru-paru, tapi aku sudah memberikan treatment untuk mengatasi nya." Jelas Sandy.


"Bagaimana apa kalian berhasil membujuk Ramos?"


Choky mengangguk. Dia menuju sofa ruangan rawat Gerra sekaligus menjadi kamar tidur Rachel dan putrinya karena Rachel tak mau tidur terpisah dari putrinya itu.


"Bahkan dia sudah bertemu Gilbert dan Gerald," ucap Choky, "Kasihan sebenarnya, tapi ini juga salahnya. Gilbert sama sekali tidak mau melihat Ayah nya." Choky bernafas panjang.

__ADS_1


"Iya aku tahu. Ramos tidak bisa memaksa karena dia sudah menanamkan luka dihati Rachel dan anak-anak nya. Apalagi Gilbert yang sudah dewasa diumur belia, tentu dia paham jika ini menyakitkan bagi Mommy nya." Sandy menarik nafas panjang.


"Kapan Gerra bisa melakukan operasi pencangkokan tulang sumsum itu?" Tanya Choky.


"Setelah aku melakukan beberapa kecocokan tulang sumsum Ramos dan Gerra. Setelah itu aku akan langsung ambil tindakan operasi. Tapi....."


"Apa apa Sand?" Choky menatap Sandy tampak berpikir.


"Bagaimana dengan Rachel?" Tampak Sandy menghela nafas panjang sambil memijit pelipisnya, "Selama enam tahun kita bersembunyi dan akhirnya kita menampakkan diri." Sambungnya.


"Aku sudah memberi pengertian pada Ramos agar tak menemui Rachel dulu, sebelum operasi tiba," ujar Choky


"Tapi Rachel tidak bisa bersembunyi selamanya Choky. Bagaimana pun Ramos adalah Ayah biologis anak-anak nya. Aku tahu Rachel trauma tapi dia harus bisa keluar dari rasa sakit itu," ungkap Sandy.


"Lalu apa yang akan kita lakukan Sandy? Psikiater juga tak bisa menyembuhkan penyakit kejiwaan Rachel. Jiwanya terguncang hebat. Bahkan dia saja bisa bermimpi buruk dan berteriak ketakutan." Jelas Choky sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Tapi sampai kapan Choky? Dia tidak bisa bersembunyi lagi. Sekuat apapun kita membawa Rachel pergi dari sisi Ramos pada akhirnya takdir akan membawa mereka bertemu kembali. Contohnya sekarang, dari sekian banyak penyakit manusia kenapa harus leukemia yang mengidap ditubuh Gerra? Harusnya disini kita sadar bahwa takdir itu tak bisa dirubah," ucap Sandy, "Kita harus bantu Rachel keluar dari trauma ini. Demi anak-anak nya. Dia tidak bisa egois karena perasaan nya. Aku mengerti ketakutan yang dia alami. Aku juga sebenarnya takut, takut jika Ramos kembali menyakiti Rachel dan menanamkan kebencian baru dihati Rachel, tapi apakah aku bisa menolak takdir agar Ramos tak bertemu Rachel? Tidak bisa Choky, tidak bisa. Buktinya mereka akan bertemu. Hanya tinggal bagaimana tanggapan Rachel masalah pertemuan nya ini," ujar Sandy panjang lebar. Ada emosi dari nada suaranya.


Sejujurnya Sandy memiliki ketakutan ketika pertemuan Rachel dan Ramos tiba. Rachel sudah menjadi bagian dari raganya. Dia tidak mau jika Rachel terluka. Tapi apakah Sandy bisa menolak takdir yang sudah Tuhan takdirkan untuk Rachel, Sandy tidak bisa.


Jika bisa Sandy ingin membawa Rachel pergi sejauh mungkin. Sangat jauh. Bila perlu ketempat yang tidak bisa dikunjungi orang lain. Namun dia tak memiliki banyak hak untuk melakukan hal itu. Tidak ada yang bisa Sandy lakukan selain menemani Rachel melewati ini dan meyakinkan wanita itu bahwa semua akan baik-baik saja.


**Bersambung....


Hai semua....


Jangan lupa dukungan buat author yaa...


Jika ada saran dan Masukkan kalian boleh coret-coret dibawah......


Kalau ada typo kalian boleh tag ya guys...


Follow akun author....

__ADS_1


FB : Fitriani Yuri


IG : fitrianiyurikwon**_


__ADS_2