
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Sandy keluar dari ruangan nya. Jam sudah menunjukkan pukul siang tengah hari. Waktunya ia makan siang.
Langkah Sandy terhenti saat melihat Sandra duduk dibangku tunggu depan ruangan Ibu nya. Bersama seorang pria berseragam polisi.
"Itu kan pria kemarin? Apa itu suaminya?" gumam Sandy.
Tampak Sandra berbicara serius dengan Bima. Sesekali Bima mengusap punggung gadis itu untuk menyalurkan kekuatan padanya.
Sandy menghampiri mereka berdua. Ia sedikit penasaran, apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.
"Dokter Sandy," sapa Sandra sambil berdiri.
Sandy mengangguk. "Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Sandy.
Sementara Bima memperhatikan Sandy dari ujung kaki sampai ujung rambut. Satu kata, Sandy tidak hanya tampak tapi juga kaya karena terlihat dari pakaian yang ia kenakan.
"Ibu sedang ditangani Dok. Hari ini operasi nya," jawab Sandra
Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan operasi. Secepat nya Sandra menghampiri dokter itu dan mencecar nya dengan pertanyaan.
"Dokter bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Sandra tampak tak sabar.
Sang dokter tampan menghela nafas panjang. Sebelum nya dia menyapa Sandy dengan senyuman lalu kembali serius menatap Sandra.
"Saya minta maaf Sandra," ucap dokter itu menatap Sandra kasihan. Sandra sudah seperti anak nya sendiri karena selama ini Sandra banyak membantu nya meski beda farmasi.
__ADS_1
"Maksud dokter apa?" tanya Sandra tak mengerti. Perasaan nya mulai ketar-ketir tak karuan.
"Maaf Sandra, Ibumu tidak bisa diselamatkan,"
Deg
Sandra langsung luruh, untung saja Bima cepat menangkap tubuh gadis itu. Jika tidak, ia pasti akan jatuh dilantai.
"IBU,"
"IBU,"
"IBU,"
Gadis itu berteriak histeris sambil memanggil nama sang Ibu. Teriakkan nya terdengar menggema dan keras hingga menganggu pasien yang lain nya. Namun mereka tak bisa marah, mereka justru merasa prihatin pada gadis malang ini. Semua orang tahu bagaimana perjuangan Sandra untuk kesembuhan sang Ibu. Takdir malah berkata lain.
Sandra melepaskan pelukan Bima. Dia menghampiri dokter yang menangani operasi Ibu nya.
"Dok, tolong katakan jika ini tidak benar. Dokter pasti bercanda 'kan Dok? Dokter ini..."
"Sandra, Ibu mu memang sudah meninggal. Saya tidak bisa menyelamatkan dia karena Tuhan punya kehendak," jelas dokter bernama Wahyu itu.
"Hiks hiks. Dok, tolong hidup kan Ibu saya kembali. Saya akan bayar berapa pun asal Dokter bisa mengembalikan nya pada saya. Saya mohon Dokter. Tolong Dok, hidupkan Ibu saya. Saya mohon. Saya mohon Dokter," Sandra menguncang-guncang lengan pria paruh baya itu meminta menghidupkan Ibu nya kembali. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi Dokter. Hanya Ibu saya, harta yang miliki. Saya mohon, hidupkan dia kembali," pinta Sandra sambil menangis histeris.
"Sandra," Wahyu menarik gadis itu didalam pelukkannya. "Kau harus ikhlas," ucapnya menenangkan gadis yang menangis didalam pelukkannya ini
"Ibu, jangan pergi Bu. Jangan tinggalkan aku," isak nya.
__ADS_1
Sandy melihat Sandra, membuatnya ingat pada dirinya sepuluh tahun lalu. Ia menangis dengan cara yang sama dan meminta para dokter untuk menghidupkan Rebecca kembali, padahal dia juga seorang dokter. Ia akan memberikan apapun dan berapa pun asal para dokter bisa membuat kekasih nya itu bangun lagi. Namun, bagaimana pun tak ada orang yang memiliki kuasa sebesar kuasa Tuhan. Jika manusia mampu menghidupkan manusia yang sudah mati, mungkin bumi akan penuh dengan lautan manusia.
Begitu juga dengan Bima, ia ikut terpukul atas kepergian Fatmala. Ibu nya Sandra sudah dia anggap sebagai Ibu nya sendiri. Tak kala Bima makan di rumah Sandra bersama Ibu nya.
Saat kehilangan seseorang air mata tak boleh benar-benar kering. Menangis boleh, malah harus. Tapi ingatlah jangan sampai meratap. Tapi hal itu tak berlaku untuk Sandra, ia memeluk tubuh yang terbujur kaku itu sambil membangunkannya. Berharap jika sang Ibu hanya tertidur atau bisa jadi sedang pingsan. Bisa jadi kan, siapa tahu.
"Bu, bangun Bu. Bangun. Kenapa Ibu pergi meninggalkan ku sendirian. Kenapa Ibu tidak bisa bertahan sedikit lebih lama. Ibu tahu selama ini aku selalu sendirian. Jika Ibu pergi, aku harus hidup dengan siapa Bu. Aku tidak memiliki tempat untuk menceritakan semua keluh kesah ku selain, Ibu. Bangun. Bangun," teriak Sandra sambil memeluk tubuh Fatmala yang sudah berubah menjadi pucat dan dingin itu.
Sandra kehilangan segalanya. Menjadi berbeda ditengah kehidupan yang tengah menghantam tubuhnya. Ia tak benar-benar mampu menerima bahwa kini sang Ibu telah pergi untuk selamanya. Tak pernah terlintas di benak nya, jika waktu bersama Ibu nya terlalu singkat. Ibu nya lah orang pertama yang selalu memeluk nya saat ia lelah dalam bekerja. Ibu nya lah orang pertama yang patah hati saat ia terluka. Mengapa Ibu nya harus pergi dan membawa semuanya tanpa permisi. Hingga Sandra merasa hidupnya tak lagi berarti.
"Sandra, sudah," ucap Bima menarik tubuh Sandra. "Biarkan mereka memandikan Ibu," ujarnya lagi sambil memeluk gadis itu.
"Mas, Ibu. Mas.. aku...,"
"Sttttt, ada Mas disini. Kau tidak sendirian," ucap Bima meyakinkan Sandra.
Sandra belajar memahami kehendak Tuhan dalam hidupnya. Bahwa untuk ikhlas itu tak mudah, ia harus hidup sendirian dan melewati jalan panjang berlubang yang membuang beberapa kali kaki nya masuk terdalam lubang itu, hingga ia tersandung dan jatuh. Ia harus melangkah pelan-pelan, agar tak jatuh dan tetap bisa sampai ke tujuan.
"Tidak Mas. Aku tidak bisa. Bagaimana bisa aku hidup tanpa Ibu Mas. Mas tahu aku sangat menyanyangi nya, dia Ibu ku Mas. Tolong aku, bantu aku membangunkan dia kembali Mas," ungkap Sandra.
Sandy menunduk tanpa sadar air mata lelaki itu jatuh dipipi nya. Rekaman memori kehilangan yang pernah ia rasakan seperti Sandra terputar kembali seperti sebuah film.
Saat itu ia merasa tak ingin hidup. Saat itu ia merasa dunia tak adil padanya. Bagaimana bisa Tuhan begitu tega mengambil kekasih yang begitu ia cintai? Lalu membiarkan ia menjalani pahitnya kehidupan ini seorang diri. Ia tak sanggup. Ia tak bisa ikhlas. Hingga sekarang pun bayang-bayang kenangan itu masih melekat dengan sempurna dikepalanya.
Sandy paham perasaan Sandra. Sebab itu ia tak bisa memaksa gadis itu untuk ikhlas. Biarlah perasaan itu akan melepas seiring berjalannya waktu.
Bagian paling menyakitkan dari perpisahan adalah kematian. Tak peduli seberapa keras menolak takdir. Tak peduli seberapa sering berdoa pada Tuhan agar mengembalikan nya. Semua takkan membuat ia kembali kedalam pelukan. Kematian adalah perpisahan abadi yang takkan bisa dihindari oleh manusia. Tak peduli sejauh apa pergi, kematian akan mengejar. Entah itu karena sakit atau karena hal lainya. Kematian akan datang tiba-tiba menghampiri setiap insan manusia, hanya tergantung masing-masing insan sejauh mana persiapan nya menghadap sang pencipta.
__ADS_1
Bersambung.....