
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ramos memarkir mobilnya di basement Apartement. Dia keluar dari mobil dengan wajah lemah lesu. Penampilannya benar-benar tak terurus. Sudut bibirnya masih terasa perih akibat tamparan sang Ayah.
Dia berjalan pelan seolah kakinya tak bisa diangkat. Kosong. Hampa. Dia menyesal sangat menyesal tapi menyesal takkan membuat semuanya kembali seperti semula.
Ramos masuk kedalam Apartement. Kenapa hampa sekali rasanya? Ada sesuatu yang hilang yang bahkan tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
Ramos menatap ruangan apartementnya. Biasanya saat dia pulang sang istri sudah menyambutnya dengan senyum sambil menyapa dan tak lupa secangkir kopi kental dengan sedikit gula selalu disuguhkan oleh sang istri padanya. Meski itu akan berakhir dilantai karena Ramos tak mau meminum kopi buatan istrinya. Dia tidak tahu kenapa dia bisa sejahat itu.
“Rachel.”
Ramos duduk sambil celingak-celingguk dengan air mata berderai seperti menunggu seseorang. Entah siapa yang dia tunggu karena istrinya takkan mungkin kembali lagi. Entah kemana istrinya pergi dan ini kenapa dia merasakan ada yang hilang dari jiwanya sejak kepergian Rachel?
“Kau dimana?” Lirihnya
“Kenapa kau pergi disaat aku sudah tahu semuanya?”
“Maafkan aku Rachel. Maafkan aku.” Dia menutup wajahnya.
Ramos menangis dalam penyesalan dalam hidupnya. Dia menyesal karena tidak mencari tahu tentang Rachel dari awal. Dia terlalu termakan dengan omongan Agnes yang bahkan juga tega menghianati nya.
Ramos memukul dadanya berulang kali dengan keras. Memukul wajah dan kepalanya. Menyalahkan dirinya atas kepergian Rachel. Dadanya semakin sesak, saat mengingat bagaimana dia menyiksa istrinya. Menendang. Memukul dengan ikat pinggang hingga membuat tubuh sang istri luka-luka. Menarik istrinya dengan paksa. Dan Ramos pernah menginjak jari-jari Rachel hingga luka.
Dadanya semakin sakit. Dia berteriak sendirian. Berharap perasaan bersalah ini bisa hilang dan pergi dari kepalanya. Namun tetap saja perasaan itu selalu menghantuinya seakan menuduhnya adalah orang jahat yang sama sekali tak memiliki perasaan.
Ramos berdiri dari duduknya. Dia benar-benar berantakkan. Bahkan tubuhnya sudah bau karena tidak mandi. Dia sibuk mencari Rachel. Ramos sudah tak peduli dengan penampilannya perasaannya sekarang penuh dengan penyesalan dan dia tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah itu.
Dia masuk kedalam kamarnya dengan tatapan hampa dan kosong. Dia melirik sofa tempat terakhir istrinya berbaring. Kenapa sesak sekali ketika mengingat permohonan Rachel agar tidak mengambil mahkotanya.
Ramos berjalan pelan menuju sofa. Dia berjongkok mengusap sofa tersebut. Air mata sudah tak terbendung lagi. Entah sudah berapa banyak yang terjatuh dipipinya.
__ADS_1
“Rachel, maafkan aku. Maafkan aku. Aku sudah terlalu banyak membuatmu menderita. Kau dimana, kumohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Berikan aku kesempatan Rachel, hiks hiks hiks.” Tangis nya lagi-lagi pecah
Ramos menatap lemari kecil tempat pakaian istrinya. Sekejam itu dia hanya memberikan lemari kecil yang bahkan hanya cukup beberapa helai baju saja. Ramos menghampiri lemari itu. Dia membuka dengan pelan dan melihat isi lemari sang istri.
Lagi-lagi hatinya seperti dihantam oleh ribuan batu melihat baju-baju yang sudah lusuh itu. Padahal dia kaya dan memiliki uang yang banyak tapi tidak ada sehelai baju pun yang dia belikan untuk istrinya. Padahal uangnya tak terhitung banyaknya.
“Apa ini?” Ramos mengambil amplop berwarna coklat yang terselip disela-sela baju istrinya.
Ramos membuka amplop itu, karena logo amplop itu adalah logo rumah sakit miliknya. Apa isinya? Ramos benar-benar penasaran.
Mata Ramos membulat sempurna saat melihat isi amplop itu. Hatinya terasa meledak dan hancur seperti bom.
“J-jadi R-rachel mendonorkan ginjalnya?” Ramos menggeleng seolah ingin menolak takdir “Tanggal operasi ini satu minggu sebelum hari pernikahanku dengan Rachel yang artinya saat itu lukanya masih basah. Tuhan apa yang sudah aku lakukan pada istriku?” Ramos luruh dilantai. Penyesalannya semakin bertambah.
Ramos tak pernah tahu apa yang terjadi pada istrinya. Dia benar-benar tidak tahu sama sekali dan tidak berusaha mencari tahu juga tentang istrinya.
Ramos terduduk sambil menelungkup kan wajahnya dilutut yang dia tekuk. Dia memeluk lututnya dan menangis frustasi. Hatinya benar-benar hancur.
"RACHEL."
"RACHEL."
"RACHEL."
Dan Ramos merasakan karma nya. Dia khianati oleh Agnes dan dalam kurun waktu bersamaan dia. Patah hati nya benar-benar fatal.
Dia kecewa dikhianati Agnes. Dia marah saat wanita itu berani bermain api dibelakang nya. Namun entah kenapa kepergian Rachel membuat separuh jiwanya pergi. Dia tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Tapi kenapa saat Rachel tidak serasa ada yang hilang?
Ramos menatap kembali baju-baju lusuh milik istrinya. Dia mengambil baju-baju itu dan memeluk nya sambil menangis.
Benar kata Ayahnya, hanya Rachel yang mencintainya dengan tulus tanpa memandang harta. Bahkan Blackcard yang diberikan Ramos pada istrinya tak dipakai Rachel sama sekali. Terbukti bahwa istrinya itu sama sekali tidak tertarik dengan uangnya.
__ADS_1
"Maafkan aku." Masih memeluk baju itu seperti orang yang sedang menangisi mayat.
Ramos masih menangis. Menangis sepuasnya. Meluapkan segala penyesalan yang membeku didadanya. Berharap menangis dapat membuat hatinya lega dan dia bisa lepas dari sesak yang menggema.
Ramos terbaring dilantai. Dia menangis hingga susah bernafas. Mengingat semua kejahatan hatinya semakin menyiksa dirinya.
Memang terkadang menyesal adalah bentuk dari kesadaran. Tapi sadar setelah sesuatu yang sudah pergi itu percuma. Sekali pun menangis darah takkan membuat yang hilang muncul lagi. Semua takkan kembali seperti semula.
Menyesal takkan membuat yang hilang datang kembali. Hidup terkadang selalu membuat keadaan tak berada pada waktu yang sama. Menyesal bukan sebuah perasaan yang bisa dikuasai. Ada sebagian orang yang hilang kesadaran dengan Penyesalan nya dan berakhir dengan depresi atau bisa juga menjadi gila akibat dari perasaan yang tak terkontrol tersebut.
"Rachel." Lirih nya. Sambil berbaring dengan memeluk baju sang istri.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Kenapa aku merasa ada yang hilang saat kau tak ada? Hatiku tak pernah benar-benar baik setelah kepergian mu! Berikan aku satu kesempatan lagi Rachel." Lirihnya.
Jika dulu kamar ini sebagai bukti tangisan Rachel. Sekarang kamar ini akan menjadi teman di malam hari saat Ramos menangis.
Bersambung....
Malam gengsss...
Makasih buat yang masih nungguin kisahnya Ramos dan Rachel.....
Makasih buat saran dan masukkan dari kalian..
Semoga kalian sehat-sehat yaaaa Guyssss...
Jangan lupa kasih dukungan buat Author agar rajin update setiap hari........
Jika ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah ya...
Follow akun author...
__ADS_1
FB ; Fitriani Yuri
IG ; fitrianiyurikwon_