Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 15. Love Me Please


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Ck, Chika, kamu mau pergi dengan pakaian seperti itu?" Arnetta geleng-geleng kepala. "Jadi wanita itu sesekali feminim Chika, kamu itu sudah bekerja jadi sekretaris, masih saja seperti bukan wanita. Ayo ikut aku," gadis itu menarik tangan Chika masuk kembali ke dalam kamar mereka.


"Iihhhh Neta, jangan tarik-tarik," gerutu Chika.


"Sudah. Kamu diam saja," ketus Arnetta.


Arnetta mempermak Chika. Chika memang gadis tomboy yang jarang berpenampilan feminim. Gadis itu simple dan tidak suka ribet.


"Wahhh, Chika kamu cantik sekali," puji Arnetta menganggumi kecantikan Chika.


"Kamu baru sadar? Kemana saja kamu selama ini?" seru Chika menatap pantulan dirinya didepan cermin. "Ehhh tapi kenapa aku harus cantik, padahal kan ini hanya jadi pacar pura-pura nya Tuan Choky?" ujar Chika heran pada dirinya sendiri.


"Hem, sudahlah. Kan kamu bilang setelah bertemu kedua orang tua Tuan Choky, kamu akan bawa dia bertemu orang tua kamu," jelas Arnetta sambil memperbaiki baju Chika yang setengah bergeser.


"Ta, ini kenapa gatal sih?" Chika hendak mengusuk-gusuk matanya.


"Ck, dodol. Jangan di gosok," Arnetta langsung menoyor kening Chika dengan gemes.


"Netha," Chika menggerutu. "Kamu kebiasaan suka sekali dorong-dorong kening aku," ketus nya sambil mengusap keningnya yang di dorong oleh Arnetta.


"Kamu sih mau di gosok segala. Nanti maskara kamu luntur," ujar Arnetta.


Tin tin tin tin


Suara klakson mobil terdengar didepan kost Arnetta.


"Nahh itu Boss kamu sudah jemput," seru Arnetta. "Semoga sukses Chika dan semoga Tuan Choky menjadi jodohmu," ucap Arnetta sambil tersenyum tanpa dosa.


Chika memutar bola matanya malas, "Kalau sampai aku menikah dengan Tuan Choky, bisa-bisa aku di kira menikah dengan Om-om. Lagian usia kita jauh beda Ta. Aku sudah membayangkan hari-hari membosankan karena ada dia," ujar Chika. Setiap hari saja bertemu Choky mereka berdua selalu berdebat. Apalagi kalau sampai tinggal satu rumah bisa terjadi perang dunia ketiga nantinya.


"Cinta itu buta Chika. Usia bukan jadi masalah," sahut Arnetta sambil tersenyum. Dia sudah membayangkan pernikahan Choky dan Chika, pasti seru melihat pasangan suami istri yang setiap hari rusuh tapi tidak saling meninggalkan.

__ADS_1


"Semua orang juga bilang seperti itu. Tapi aku tidak percaya," ketus Chika.


Chika menghela nafas panjang. Kenapa dia jadi gugup ingin bertemu Choky? Tapi tidak apa, ini adalah trik saling menguntungkan. Choky memperkenalkan dia sebagai pacarnya demi menghindari perjodohan dan Chika juga memperkenalkan Choky sebagai kekasihnya agar kedua orang tua nya membatalkan perjodohan itu.


Choky menunggu didepan mobil. Tangannya masuk dan berdiam nyaman didalam kedua saku celananya. Lelaki itu tersenyum menggeleng membayangkan nasib percintaan nya.


"Aku tidak menyangka jika gadis aneh itu yang akan jadi istriku."


Choky sempat protes dan tidak terima saat tahu ternyata Chika yang di jodohkan dengannya. Bagaimana bisa dia menikahi sekretaris menyebalkan nya itu? Dan lagi, usia Chika sangat muda. Jauh sekali diatas usia nya dan mereka terpaut 20 tahun. Pastilah mereka akan seperti Ayah dan anak.


Chika keluar dari kost, gadis itu berjalan terseok-seok karena heels yang yang membungkus kedua kaki jenjangnya. Mulutnya komat-kamit seperti dukun baca mantra. Dia terus menggerutu karena Arnetta memaksanya memakai sepatu aneh ini.


"Huh," Chika membuka kedua sepatunya lalu menenteng heels tinggi tersebut.


Sementara Choky menggeleng saja. Benar-benar luar biasa tomboy gadis ini. Tanpa sadar lelaki dingin itu terkekeh ketika melihat Chika berjalan tanpa alas kaki, sedangkan di tangannya meneteng dua seperti yang sengaja ia buka karena tidak pandai memakai nya.


Choky terpesona dengan kecantikan calon istrinya. Bagaimana reaksi Chika jika tahu bahwa Choky adalah calon suaminya? Apakah gadis itu akan syok dan jantungan bisa jadi kejang-kejang, sama seperti Choky yang pertama kali tahu jika calon istrinya adalah Chika. Ingin menolak tapi tidak bisa, kedua orang tua nya tidak menerima penolakkan.


"Ribet Tuan," sahut Chika.


"Ya sudah ayo masuk," ajak Choky membuka pintu untuk Chika.


Chika menatap lelaki itu penuh selidik. Tidak biasanya Boss nya ini baik padanya. Mencurigakan, batin gadis itu.


"Tidak usah berpikiran yang aneh-aneh," ucap Choky seolah tahu apa yang dipikirkan Chika. Tangannya mencentil kening gadis itu dengan gemes.


"Tuan," gerutu Chika. Tangan Chika menempel di dahi Choky, lalu dia tempelkan di pantat nya. "Tidak panas," ujarnya.


"Ck, kenapa kamu samain kening saya sama pantat kamu?" gerutu Choky mengusap dahi nya.


"Tumben baik Tuan?" Chika menatap Choky curiga. "Ehem, lagi dapat arisan?" tebak nya.


"Cepat masuk. Kamu itu...." Choky setengah mendorong tubuh gadis itu masuk kedalam mobil, karena Chika terkejut sontak ia menarik tangan Choky. Alhasil Chika terbaring dibangku samping kemudi dengan Choky yang berada diatas nya.

__ADS_1


Tanpa sengaja bibir kedua nya malah saling menempel. Keduanya sama-sama terdiam dan menatap satu sama lain dalam keterkejutan. Ini adalah ciuman pertama Chika dan juga ciuman pertama Choky.


.


.


.


"Kamu tidak pakai alas kaki?" tanya Choky sambil keluar dari mobil.


"Kaki saya sakit Tuan kalau pakai sepatu tinggi itu," sahut Chika sambil mengurut kakinya.


"Biar saya gendong," ucap Choky mengangkat tubuh gadis itu.


"Ehhh," sontak Chika memeluk leher Choky dengan cepat saking terkejutnya.


"Kamu itu kecil sekali," ledek Choky.


"Tuan, turunkan saya. Jangan gendong-gendong," Chika memberontak.


"Diam. Atau kamu mau saya cium seperti tadi?" Choky tersenyum jahil.


Sontak Chika menutup mulutnya sambil menggeleng. Kenapa Choky malah mengingatkan pada kejadian tadi. Dia malu sekali. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.


Choky menahan tawa. Calon istrinya ini masih polos walau tomboy. Menyenangkan jika bisa membuat nya kesal setiap hari.


Sejak kehadiran Chika dalam hidup Choky, ia merasakan warna-warni yang tak sama di hidupnya. Meski setiap hari mereka berdebat di luar pekerjaan tapi justru itulah yang membuat hati Choky merasa nyaman berada didekat Chika.


Usia mereka memang terpaut 20 tahun. Bahkan jika jauh lebih muda dari adik nya, Chicha. Tapi apakah cinta memandang usia? Choky rasa tidak ada salahnya dia mengikuti saran kedua orang tua nya untuk menerima Chika sebagai wanita yang dia cintai. Bukankah cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu? Contohnya, Ramos dan Rachel. Mereka telah melewati berbagai macam proses dalam kehidupan rumah tangga, tapi sekarang mereka di karuniai kebahagiaan yang luar biasa.


Choky yakin, dia hanya membutuhkan proses saja untuk mencintai Chika. Oleh sebab itu lah dia menerima perjodohan ini meski asal nya protes, tidak terima dan sempat ingin membatalkan perjodohan tak mungkin antara dia dan sekretaris nya itu.


**Bersambung.. **

__ADS_1


__ADS_2