Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 6. Sandy Story's


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Son, sini," Benedicto memanggil kedua cucu kembarnya.


"Ada apa Opa?" tanya Gilbert dan Gerald bersamaan.


"Hem, Opa punya tugas untuk kalian berdua," ucap Benedicto tersenyum manis.


"Apa Opa?" keduanya tampak berpikir.


"Sini duduk disamping Opa," Benedicto menepuk ruang kosong disampingnya.


Betapa bahagianya Benedicto bisa menikmati masa tua nya bersama para cucu-cucu kembarnya. Belum lagi yang kembar dua itu besar nanti, pasti suasana rumah akan semakin ramai. Namun sayang Ramos dan Rachel akan kembali ke Sidney setelah urusan bisnis Ramos selesai.


"Besok kalian ikut Papa ke kantor atau kerumah sakit," jelas Benedicto. "Menurut orang suruhan Opa, Papa menolong seorang gadis dan membiayai pengobatan Ibu dari gadis tersebut. Opa mau kalian selidiki siapa gadis itu. Siapa tahu dia bisa jadi jodoh Papa kalian. Kan nanti kalian bisa dapat Mama baru lagi," jelas Benedicto.


Gilbert dan Gerald saling melihat. Lalu mengangguk paham. Jika masalah urusan rencana keduanya sangat jago. Tak jarang kedua anak Ramos ini membantu sang Ayah menyelesaikan proyek kerjanya.


"Siap Opa," sahut Gilbert dan Gerald bersamaan.


Benedicto bukan ingin memaksa Sandy menikah. Tapi dia tidak bisa selamanya menemani putra angkat nya itu. Akan tiba waktunya Benedicto pergi. Setidaknya sebelum ia pergi, ia bisa menyaksikan Sandy bahagia agar ia tak menyesal di akhirat nanti.


"Opa, memangnya Aunty Beca dulu seperti apa? Gilbert penasaran," ucap Gilbert sambil melipat kedua tangannya didada. Jiwa penasaran nya menggebu-gebu.


Benedicto terdiam. Menyebut nama putrinya itu seperti menguak kembali luka lama yang sudah lama alit ini. Tak mudah, kepergian Rebecca benar-benar merobek jantung Benedicto. Tak hanya dirinya yang terluka tapi juga sang istri hingga depresi dan gila.


"Opa, kenapa?" Gerald menyentuh tangan wanita paruh baya itu. "Kakak tadi tanya, Aunty Beca itu seperti apa orangnya, supaya kami bisa memantau gadis yang Opa ceritakan tadi, apakah dia cocok jadi pasangan Papa," jelas Gerald.


Benedicto mendelik. Kadang dia lupa jika kedua cucu nya ini sudah dewasa sebelum waktunya. Kadang juga dia suka terkejut ketika mendengar penjelasan tak masuk akal Gilbert dan Gerald.


Benedicto menjelaskan seperti apa kepribadian putrinya Rebecca. Ia menceritakan semuanya. Mulai dari makanan kesukaan sampai hal-hal yang sering di lakukan oleh putrinya itu.


"Gerald apakah sudah kau catat?" tanya Gilbert pada adiknya. Mereka seperti sedang melakukan sesi interview kerja.


"Sudah Kak," Gerald menunjukkan iPad ditangannya.


"Kalian catat Son?" tanya Benedicto setengah tak percaya.

__ADS_1


"Iya Opa, supaya kami bisa melakukan riset sebelum membantu Papa mendapatkan gadis itu," jelas Gilbert.


Benedicto menelan salivanya susah payah. Meski sudah biasa dengan kedua cucu ajaib nya ini, tetap saja dia kadang terkejut jika mendengar ucapan mereka yang diluar nalar pemikiran orang dewasa.


"Ya sudah itu terserah kalian. Tapi ingat jangan melewati batas. Tugas kalian mendekatkan gadis itu dengan Papa," ucap Benedicto.


"Siap Opa,"


Benedicto tersenyum. Ia berharap kali ini Sandy benar-benar menemukan seseorang yang akan menemani ia hingga nanti. Semoga saja takdir berpihak padanya dan gadis yang dimaksud oleh orang suruhan itu adalah jodoh Sandy.


.


.


.


Sandra duduk dengan tatapan kosong didepan teras rumah nya. Benar-benar hampa dan sendirian.


Ia seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Biasanya dia lah yang selalu ditunggu oleh sang Ibu saat ia pulang kerja. Tapi kini, tak ada lagi yang menunggu nya didepan pintu.


Hancur, hati Sandra hancur berkeping-keping. Kehilangan sang Ibu seolah kehilangan separuh dari jiwanya. Ia kehilangan segalanya yang ada dalam hidupnya. Impian dan segala yang ingin ia raih. Jika dulu ia bekerja sampai larut malam demi membahagiakan sang Ibu agar bisa membeli rumah untuk mereka tinggali berdua. Tapi sekarang untuk apa lagi dia bekerja. Tidak ada yang akan dibahagia kan oleh Sandra lagi.


Gadis itu duduk, lelehan bening berjatuhan dipipi cantik nya. Matanya membengkak akibat kebanyakan menangis. Saat pemakaman sang Ibu, ia menangis tanpa jeda. Membiarkan air mata mengejek dirinya yang sedang rapuh dan terluka karena kehilangan.


Hingga suatabmotor terdengar masuk kedalam gerbang rumah sederhana nya. Bima turun dari motor dan tak lupa melepaskan helm nya. Ia masih mengenakan seragam polisi yang mencari ciri khasnya.


Bima menghampiri Sandra, ditangannya meneteng kantong kresek. Seperti biasa ia akan membawakan gadis ini makanan. Sandra tidak mau makan, namun Bima memaksa nya. Setidaknya sedikit saja makanan yang masuk kedalam perutnya, sudah lebih dari cukup memberi ia tenaga.


"Sandra," Bima berjongkok menatap wajah Sandra. "Jangan menangis lagi," ibu jarinya mengusap pipi gadis itu.


"Mas," renggek Sandra. "Kenapa Ibu pergi Mas?"


Ini salah tentang anak perempuan yang tengah patah hati karena kehilangan wanita yang telah melahirkan dan merawat nya. Sandra pernah mengalami patah hati ketika Ayah nya pergi. Ini kedua kali nya ia merasakan kepatahhatian seorang anak yang harus melepas kepergian kedua orang tua nya.


"Sandra," Bima menggenggam tangan gadis itu. "Kau harus ikhlas. Jika kau menangis seperti ini terus, Ibu tidak akan tenang melihat mu seperti ini," ucap Bima mengusap pipi kedua orang itu.


"Mas,"

__ADS_1


"Kau mau Ibu sedih melihat mu?" Sandra menggeleng dengan cepat.


"Aku ingin Ibu bahagia disana Mas," jawab Sandra.


"Jika begitu. Belajarlah untuk ikhlas," ujar Bima.


Bima menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ia ikut merasakan patah hati yang dialami oleh Sandra. Bagas pun tak ada anak yang akan baik-baik saja ketika di tinggal sendirian didalam dunia yang fana ini.


"Hem, apa itu suami nya Kak?" tanya Gerald.


Kedua bocah itu sedang duduk mengintip didalam mobil bersama Heru.


"Paman, apakah ini rumah nya?" tanya Gilbert.


"Iya Tuan," jawab Heru.


"Kak, aku masih penasaran dengan laki-laki itu. Jika itu suaminya. Lalu Papa bagaimana? Apa boleh merebut istri orang?" tanya Gerald sambil menatap Bima yang memeluk Sandra didepan teras rumah sederhana Sandra.


"Kakak rasa bukan," jawab Gilbert memperhatikan.


"Kakak tahu dari mana?"


Gerald dan Heru saling melihat satu sama lain.


"Dia membawa kantong makanan. Jika itu suaminya, ia takkan rela meninggalkan istri nya sendirian dalam keadaan masih sedih. Itu bukan suaminya," jawab Gilbert yakin. Ia sudah mempelajari dunia orang dewasa, pasangan suami istri memiliki ciri khas tersendiri terutama kedua orang tua nya.


Gerald dan Heru mendelik mendengar ucapan Gilbert.


"Kakak tahu dari mana sih?" Gerald benar-benar kepo.


"Kau lupa jika Opa mengatakan dia gadis, gadis itu artinya masih suci dan belum pernah disentuh. Artinya dia belum menikah," jelas Gilbert lagi.


Gerald manggut-manggut setuju. Kenapa dia tidak terpikir kesana.


Sedangkan Heru, merasa kagum dengan riset Gilbert. Memang luar biasa cerdas anak-anak Ramos di usia nya yang terbilang masih belia.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2