
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Apa kami punya Daddy?
Seperti biasa Rachel akan menidurkan ketiga anak kembar itu dengan nyanyian khas dirinya. Anak-anaknya tidak bias tidur kalau bukan Rachel yang menidurkannya.
“Mommy.” Panggil Gilbert. Putra Rachel yang paling tua.
“Iya Son kenapa?” Rachel mengusap kepala Gilbert “Apa ada yang ingin kau tanyakan?”
Gilbert langsung terduduk dan ikuti oleh kedua adik kembarnya. Wajah ketiga anak itu tampak kompak menatap kearah sang Ibu.
“Kenapa bangun Nak?” Kening Rachel berkerut saat ketiga anaknya bangun dengan kompak.
“Mom.” Panggil si bungsu Gerra.
“Iya Sayang kenapa?” Rachel merasa aneh dengan wajah ketiga anaknya yang begitu kompak.
“Apa kami punya Daddy, Mom?”
Deg
Jantung Rachel langsung berdenyut. Rachel sudah mewanti-wanti jika ketiga anaknya akan bertanya dimana Ayah merea? Meski Choky dan Sandy memberikan kasih sayang seperti kasih sayang seorang Ayah kandung. Namun tetap ikatan antara anak-anak Rachel dengan kedua pria itu memiliki keterbatasan dan tidak ada rasa kedekatan sama sekali.
“Iya Mom, apa kami memiliki Daddy? Teman-teman disekolah selalu bertanya dimana Daddy kami? Apakah Daddy kami Ayah Choky atau Papa Sandy. Tapi kenapa wajah kami sama sekali tidak mirip dengan mereka?” Tanya Gilbert bertubi-tubi. Dia penasaran dengan wajah Ayah kandungnya.
“Nak.” Lidah Rachel terasa kelu untuk menjawab pertanyaan anak-anaknya.
“Iya Mom. Gella ingin di gendong Daddy sepelti teman-teman Gella. Gella sayang Papa Sandy dan Ayah Choky, tapi kenapa meleka telasa jauh sekali Mom?” Mata Gerra berkaca-kaca “Dimana Daddy Gella Mom?”
Rachel berusaha menahan gejolak dalam hatinya. Mendengar pertanyaan ketiga anaknya membuatnya kembali mengenang kejadian lima tahu yang lalu. Kejadian yang menguncang jiwanya. Tragedy yang tak pernah dia pikirkan hingga menghadirkan ketiga anak dalam rahimnya.
Rachel menunduk setiap kali mengingat kejadian itu dia kembali ketakutan, seolah suaminya adalah manusia yang tidak ingin dia ingat sepanjang hidupnya.
"Mom, kenapa?" Gerald menggenggam tangan Rachel
Air mata Rachel luruh membasahi pipi cantiknya. Sungguh dia tidak ingin mengingat masa menyakitkan dalam hidupnya. Bukan hanya luka yang suaminya tinggalkan tapi juga kebenciam dalam dada.
"Mommy."
__ADS_1
Ketiga anak kembar berhambur memeluk sang Ibu. Rachel menangis hingga dadanya terasa sesak. Dia memukul dadanya berulang kali barangkali sesak didalam sana bisa menghilang dan berhenti menghantam dadanya.
"Hiks, Mommy kenapa?" Gadis kecil itu ikut menangis melihat sang Ibu yang tiba-tiba menangis.
"Mommy." Gerald dan Gilbert ikut memeluk Rachel sambil menangis.
Ibu dan anak itu saling bertangisan dan saling memeluk. Meski ketiga saudara kembar itu tidak tahu apa yang membuat sang Ibu menangis.
"Mommy."
"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks."
Tangis Rachel kian pecah.
"Mommy."
Brakkkkkkkkkkkkkk
Choky dan Sandy masuk kedalam kamar Rachel. Tangis Rachel terdengar dari luar hingga mereka panik mendengar tangisan Ibu tiga anak itu.
"Rachel apa yang terjadi?" Sandy langsung memeluk wanita itu.
Sedangkan Choky memeluk ketiga anak kembar Rachel. Dia tak hanya panik tapi juga bingung melihat Ibu dan anak itu saling bertangisan dalam hati bertanya-tanya apa yang terjadi pada mereka? Kenapa sampai menangis bersamaan?
"Mommy." Panggil Gerra.
Sedangkan tangis Rachel semakin keras. Dia berusaha kuat didepan anak-anak nya tapi tetaplah dia seorang wanita lemah yang pernah tersakiti begitu dalam.
"Rachel." Sandy mengusap kepala Rachel berusaha menenangkan wanita itu. Seperti nya serangan panik Rachel akan kembali ketika mendengar nama suaminya.
"Mommy."
"Stttty, jangan menangis ya Sayang." Choky juga berusaha menenangkan ketiga saudara kembar itu.
Cukup lama Rachel menangis hingga tak terdengar lagi tangisan wanita itu. Rachel tertidur dipelukkan Sandy dengan wajah berantakan dan mata yang membengkak. Terlihat sekali dia rapuh.
Rachel tak mengerti mengapa dia bisa sampai ketakutan mendengar nama suaminya. Mengingat wajah pria itu saja seperti mengulang kembali rekaman kejadian enam tahun yang lalu, semua tergambar jelas dan seolah terulang kembali.
Sandy masih mengusap kepala Rachel agar wanita itu tertidur tanpa terganggu.
__ADS_1
"Pindahkan Rachel ke kamarnya San."
"Baik."
"Mommy." Renggek Gerra "Mommy kenapa?"
"Mommy hanya tertidur. Dia tidak apa-apa, Gerra jangan menangis ya Nak." Ucap Choky.
"Tapi Mommy_"
"Mommy hanya istirahat."
Sandy menggendong Rachel dan membawa wanita tiga anak itu kedalam kamarnya. Batin Rachel belum benar-benar pulih. Dia dihempaskan oleh semua kejadian yang memaksanya kuat bertahan. Kehilangan bertubi-tubi serta tekanan dari kejadian dimasa lalu yang membuat jiwanya meronta-ronta ingin pergi jauh.
Sandy meletakkan pelan wanita itu diatas ranjang. Tak lupa dia menyelimuti tubuh Rachel agar dia tertidur dengan nyaman.
Sandy menatap wajah lelah Rachel. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Rachel.
"Aku tidak tahu bagaimana sempit nya dunia ini? Bisa-bisa nya kau saudara kembar dari wanita yang aku cintai dan sialnya lagi perasaan padanya malah membawa ku padamu. Tapi aku sadar Rachel, kau takkan bisa membuka hati untukku. Aku tak ingin menyiksamu dengan perasaan tak pantas ku ini. Aku akan berusaha menepis semua rasa ini tanpa membebani beban pikiran mu. Semoga kelak kau bisa membuka hatimu untuk laki-laki lain meski pun mungkin itu bukan aku. Bisa bersama mu setiap hari sudah lebih dari cukup. Cepat sembuh peri kecilku. Banyak yang mencintai mu. Kau terlalu berharga untuk disia-siakan." Gumam Sandy tersenyum. Dia mematikan lampu kamar Rachel. Lalu keluar dari kamar wanita itu.
Sandy hanya bisa memendam semua perasaan nya dan tak berani mengungkapkan apa yang menyerang dadanya saat ini. Sebab dia tahu perasaan nya itu adalah ketidakmungkinan. Rachel takkan menerima cinta dan perasaan nya. Sebelum dia terluka dan sakit, lebih baik dia mundur perlahan. Selama ini Rachel hanya menganggap dirinya sebagai seorang Kakak. Lantas apa yang perlu dia pertahankan dari perasaan yang tidak seharusnya ada ini?
Trauma masa lalu menjadikan Rachel seperti mati rasa. Untung dia tidak ketakutan pada semua laki-laki, sehingga Choky dan Sandy aman menjaga Rachel.
Sandy kembali masuk kedalam kamar si kembar tiga itu. Dia harus bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa Ibu mereka bisa sampai menangis.
"Son." Sandy duduk didekat Choky dan menatap ketiga anak itu.
"Apa yang terjadi pada Mommy? Kenapa Mommy sampai menangis?" Choky menatap ketiga nya dengan penuh selidik.
Gilbert dan Gerald menunduk saling senggol-senggolan dan merasa bersalah. Sungguh tidak ada niat untuk membuat Rachel menangis. Mereka hanya ingin tahu, apa mereka memiliki Ayah?
"Gella, hanya berltanya pada Mommy, apa kami punya Daddy?"
Deg
**Bersambung......
Jangan lupa like komen dan vote ya guys... Love kalian banyak-banyak**.....
__ADS_1