Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 10. Sandy Story's


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Sandra melangkah keluar sambil menenteng tas nya. Di parkiran, Bima sudah menunggu dari tadi.


"Sandra,"


"Mas," wanita itu tersenyum simpul sambil berjalan kearah Bima.


"Sudah makan siang?" tanya nya penuh perhatian.


"Susah Mas," jawab Sandra.


"Sini pasang helm nya," Bima mengambil helm yang ia letakkan didepan motor lalu memasangkannya dikepala Sandra.


"Mama,"


Bima dan Sandra terkejut ketika melihat tiga anak kembar bersama Sandy berjalan kearah mereka dan tadi, mereka memanggil Sandra dengan panggilan Mama.


"Gilbert. Gerald. Gerra," gumam Sandra.


Kening Bima berkerut. Apalagi melihat ketiga nya tampak berjalan dengan tak sabar mendekati mereka berdua.


"Mama pulang sama Papa saja," Gerald langsung menggandeng tangan Sandra.


"Nak," Sandra terkejut.


"Iya Ma. Pulang sama kita saja Ma," sambung Gerra.


Sementara Gilbert menatap Bima tajam. Seperti nya ini yang akan menjadi penghalang bersatunya Sandy dan Sandra. Dan dia harus cari cara untuk membuat Bima tak lagi menganggu Sandra.


"Ehem," Sandra bingung.


Sedangkan Sandy tak bisa berkata apa-apa lagi. Hari ini ketiga anak angkatnya benar-benar menguasai hidupnya sehingga ia bungkam tak bisa berkata apapun.


"Ayo Ma," Gilbert ikut menggandeng tangan Sandra.


"Tapi_"


"Mama ayo," Gerra yang berada di gendongan Sandy ikut menimpali.


Sandra menghela nafas panjang. Ingin menolak sama sekali tidak nyaman. Apalagi melihat wajah anak-anak ini yang menggemaskan.


"Mas aku pulang sama mereka saja," Sandra membuka kembali helm nya.


"Pulang sama mereka?" ulang Bima. Wajahnya tampak kecewa.

__ADS_1


"Tapi_"


"Mas tidak apa-apa kan pulang sendiri?" Sandra sebenarnya tak enak hati menolak Bima. Apalagi melihat wajah Bima yang kelelahan.


"Iya," Bima tersenyum kecut. Mana bisa dia memang dari Dokter Sandy yang tampan dan kaya sedangkan dirinya hanya seorang abdi negara sana.


"Mas, aku duluan yaaa," pamit Sandra.


"Iya hati-hati," Bima melambaikan tangannya.


Jelas kalah motor ninja dengan mobil Lamborghini Gallardo Superleggera mewah itu. Pastilah Sandra akan memilih yang tidak panas dan memiliki AC didalam nya.


"Mama didekat Papa saja," suruh Gerra. "Gella dibelakang sama Kakak," sambung nya.


"Iya Sayang," Sandra tersenyum. Sejenak ia melirik Bima yang masih menatap kearah mereka. Sumpah demi apapun ini adalah pertama kalinya dia menolak jemputan Bima.


Sandra menyapa dengan senyuman dan anggukan sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.


"Maaf," ucap Sandy merasa tak enak hati. "Ini permintaan anak-anak," sambungnya.


"Tidak apa-apa Dok," jawab Sandra menyembunyikan gugupnya.


Sandy juga gugup. Seketika kedua nya canggung. Sedangkan ketiga bocah dibelakang mereka tampak sedang berbisik-bisik. Entah apa lagi rencana mereka.


"Kekasihmu?" tanya Sandy memecahkan keheningan. Seperti nya ia perlu mempertimbangkan ucapan Gilbert dan Gerald untuk mendekati Sandra.


"Ohhhh," Sandy menyembunyikan senyumnya.


'Bagaimana perasaan Mas Bima? Huffh,' batin Sandra.


.


.


.


Sandy masuk kedalam rumah dengan wajah ditekuk kesal. Dia harus memberi ketiga anak itu pelajaran.


"Kenapa wajahmu?" tanya Ramos polos sambil duduk dengan menggendong anaknya. Rasa lelahnya bekerja akan hilang jika melihat wajah kelima anaknya.


"Kenapa katamu?" Sandy memutar bola matanya malas. "Itu akibat ketiga kecebong mu itu," gerutu Sandy.


Ramos terkekeh. Tak sia-sia dia menanam benih di rahim istrinya karena gen nya benar-benar menurun pada ketiga anaknya. Dan Ramos akan memberikan apresiasi pada ketiga nya.


"Hem, biar ku tebak. Apa mereka berhasil makan siang bersama calon Mama nya?" goda Sandy.

__ADS_1


"Kau sudah tahu?" Sandy memincingkan matanya curiga.


Lagi-lagi Ramos ngakak. Jelas dia tahu, karena Gilbert melaporkan satu kali dua puluh empat jam tanpa terkecuali.


"Ayah," Sandy mendengus kesal karena ternyata diam-diam Ayah nya itu juga ikut dalam rencana si kembar.


"Kenapa Son?" Benedicto duduk tanpa dosa. Sedangkan anak-anak sedang dimandikan oleh Rachel


"Ayah kenapa merencanakan ini?" Sandy mendesah.


"Tidak salah bukan?" sahut Benedicto santai. "Sudah, kenalan saja dulu. Ayah lihat dia gadis baik-baik," imbuh Benedicto. Ketiga cucu nya bekerja dengan baik, benar-benar anak yang jenius.


Sandy mencebik kesal. "Tapi, aku takut dia tidak tertarik Ayah," Sandy sudah pesimis duluan. Tak bisa dipungkiri hatinya mulai merasa hangat melihat senyum Sandra yang manis dan polos. Terlebih gadis ini tak tertarik padanya


"Jangan pesimis Son. Kau belum coba. Buat dia jatuh cinta padamu," ucap Benedicto.


"Iya masa kalah dengan Pak Polisi," goda Ramos.


"Dari mana kau tahu?" Sandy lagi-lagi menatap Ramos dengan penuh selidik.


"Aku tidak tahu. Tapi anakku tahu," jawab Ramos santai.


Sandy menghela nafas panjang. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana nanti dia bertemu Sandra lagi dirumah sakit. Rasanya malu sekali saat ketiga anak angkatnya memanggil Sandra dengan panggilan Mama. Ia takut gadis itu malah salah paham.


"Aku masuk kamar dulu," Sandy berdiri sambil meneteng tas dan jas nya.


"Hem, jangan lupa hubungi Mama ya Pa," goda Ramos sambil meledek.


Sandy tak menanggapi. Lelaki itu masuk kedalam kamarnya.


Sandy menghela nafas panjang dan melempar tas dan jas nya begitu saja.


"Luar biasa sekali anak-anak itu," sambil geleng-geleng kepala. "Huffh, dan ini juga kenapa aku malah deg-degan mengingat wajah Sandra," Sandy menepis perasaan nya.


Lelaki itu duduk dibibir ranjang. Ia melirik foto sang kekasih yang masih terpanjang di atas nakas.


"Rebecca," gumamnya. "Apakah boleh aku jatuh cinta lagi, seperti dulu aku jatuh cinta padamu?" lirihnya. "Jika dulu aku jatuh cinta pada saudara kembarmu. Sekarang aku malah jatuh cinta pada wanita asing," ucapanya lagi.


Seperti saran Ramos dan Benedicto, Sandy akan mencoba jatuh cinta pada wanita yang dipanggil Mama oleh Gilbert, Gerald dan Gerra. Mungkin ini terlalu cepat tapi tidak salahnya dia mencoba lembaran baru. Benar apa yang dikatakan Benedicto, ia tak bisa selalu hidup dalam masa lalu, sebab meratap dalam waktu yang sama takkan membuat yang pergi datang kembali. Yang hilang muncul lagi.


"Kau tetap wanita yang aku cintai Rebecca. Sekali pun nanti aku menemukan orang yang berhasil membuka hatiku. Kau akan tetap abadi dihatiku Rebecca," lirih Sandy memeluk foto itu. Satu tetes air mata jatuh dipelupuk matanya.


Ia adalah lelaki yang patah hati setiap hari. Meski sepuluh tahun sudah berlalu, ia tetap tak bisa menghilangkan wajah wanita itu dalam pikirannya, apalagi sangat mirip dengan wanita yang selalu ada disampingnya.


Sandy menyeka air matanya dan meletakkan foto itu. Benedicto sudah sering menyarankan Sandy agar tak melihat foto-foto Rebecca, namun lelaki itu tak bisa karena hanya foto wanita itu yang bisa ia gunakan sebagai pelepas rindu yang menghantam dadanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2