Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Dewasa sebelum waktunya


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Sudah jangan menangis lagi." Gilbert melepaskan pelukan kedua adiknya.


"Kakak." Renggek Gerra


"Jangan bahas tentang pria itu lagi Gerra. Sekarang kita sudah tahu siapa dia. Jadi mulai sekarang, kita harus berhenti bertanya siapa Daddy kita? Kita tidak punya Daddy, anggap saja Daddy kita sudah mati. Ayah dan Papa sudah cukup menjadi orang tua kita. Jangan buat Mommy sedih lagi," ucap Gilbert pada kedua adiknya. Dia menyeka air mata Gerra.


"Iya Kak." Jawab Gerald dan Gerra bersamaan.


"Simpan laptop nya kita kembali ke kamar dan tidur." Suruh Gilbert "Dan ingat mulai sekarang jangan tanyakan Daddy lagi pada Mommy," ujar Gilbert mengingatkan.


"Iya Kak."


Ketiganya keluar dari ruangan kerja Choky dengan langkah pelan karena takut ketahuan oleh Choky dan Sandy atau pelayan lainnya.


Ketiganya masuk kembali kedalam kamar. Wajah Gerra masih sembab, dia benar-benar ketakutan melihat betapa kejamnya pria itu menyiksa Ibunya.


"Dek, jangan menangis lagi." Gerald memeluk adik nya.


"Kak." Gerra menatap Gerald "Peluk Gella Kak, Gella takut."


"Iya Kakak peluk. Sekarang tidur ya." Gadis kecil itu mengangguk patuh dengan ucapan sang Kakak.


Sementara Gilbert menatap langit-langit kamarnya tampak sedang berpikir dewasa. Anak tak biasa ini dewasa sebelum waktunya. Mungkin karena didikan Rachel yang menginginkan anak-anak nya agar tak manja. Mengajarkan anak-anak itu mandiri dan tidak boleh bergantung pada orang lain.


'Mom, maafkan Gilbert yang belum bisa menjadi anak terbaik buat Mommy. Gilbert berjanji Mom takkan mencari Daddy lagi. Gilbert yang akan menjadi Daddy untuk Gerald dan Gerra. Gilbert janji Mom.' Lelehan bening lolos dipelupuk mata anak kecil itu.


Bayangan video yang dia lihat tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Tak bisa bayangkan bagaimana menjadi sang Ibu yang disiksa tanpa perasaan itu. Dilukai, tak dianggap dan dibuang secara tak berharga.


Sekarang Gilbert paham perasaan sang Ibu yang histeris saat menanyakan dimana Daddy mereka. Pasti Mommy nya mengalamj trauma berat dan ketakutan bukan main.


Gilbert menatap kedua adiknya yang sudah tertidur dengan lelap. Gerald memeluk Gerra karena adik nya itu kalau sedang ketakutan pasti harus dipeluk agar ketakutan nya hilang.


"Kakak berjanji akan menjaga kalian berdua." Gilbert menaikkan selimut adik-adik nya.


Pria kecil itu ikut terlelap dengan memeluk Gerra dari belakang.


Diusia belia ketiganya dipaksa dewasa dalam keadaan masih kecil. Sudah lama mereka ingin tahu siapa Daddy mereka? Karena mereka tahu jika Choky dan Sandy bukan Ayah kandung mereka. Dari paras saja sudah jelas jika kedua lelaki itu bukan Ayah kandung nya.


Namun saat mereka tahu yang sebenarnya justru harus mengetahui kenyataan yang tidak seharusnya mereka tahu. Kenyataan yang tak boleh anak kecil tahu. Apalagi melihat kekerasan bisa membuat mental mereka terguncang dan terganggu.


.


.

__ADS_1


.


.


.


"Sayang bangun." Rachel membuka orden anak-anak nya.


"Mommy." Ketiganya kompak duduk dengan mata yang masih terpejam.


Rachel terkekeh melihat ekspresi ketiga anaknya. Dia duduk dibibir ranjang dengan senyuman menggembang.


"Ayo berdoa dulu "


"Iya Mommy."


Ketiganya mengangguk lalu melipat tangan dan memejamkan mata sambil berdoa. Kebiasaan yang Rachel terapkan pada anak-anak nya. Bahwa bagaimanapun kondisi jangan pernah melupakan Tuhan yang memberi nafas hingga masih ada sampai saat ini.


"Mandi yuk."


"Mommy Kakak mandi sendiri saja." Gilbert turun dari ranjang dan mengambil handuknya.


"Gerald juga mandi sendiri Mom." Gerald ikut turun dari ranjang.


"Anak Mommy." Gilbert dan Gerald membusungkan dada bangga.


Kedua anak kembar itu berhambur kearah kamar mandi. Dan mandi sendiri, biasanya Choky dan Sandy memandikan mereka setiap tapi karena hari ini kedua pria itu kesiangan jadi tidak bisa memandikan anak-anak Rachel.


Sementara wajah Gerra sendu. Dia belum bisa mandi sendiri.


"Gerra kenapa?" Rachel mengusap kepala putrinya.


"Gella masih kecil Mom. Belum bisa mandi sendiri, hiks." Dia terisak.


"Cup cup." Rachel menarik putri kecilnya didalam pelukannya "Tidak apa-apa, biar Mommy yang mandikan. Ayo." Rachel berdiri dan menggandeng tangan putri nya.


"Iya Mom." Gerra menurut meski lelehan bening itu masih mengalir dipipi cantik nya.


Rachel berperang kuat dengan pikiran nya dan berusaha melupakan pertanyaan anak-anak nya semalam. Dia tidak mau anak kecil itu melihat sisi lemah nya sebagai seorang Ibu.


Ketiga saudara kembar itu sudah berpakaian lengkap. Mereka masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Meski begitu kecerdasan anak-anak Rachel tak perlu diragukan. Diusia lima tahun saja ketiganya sudah biss baca tulis dan menghitung angka layaknya orang-orang dewasa.


"Ayah sama Papa mana Mom?" Tanya Gerra duduk dikursi meja makan tak biasanya Ayah dan Papa nya itu ketinggalan di meja makan.


"Masih dikamar siap-siap." Jawab Rachel asal. Dia saja heran kenapa pagi ini Choky dan Sandy belum ada di meja makan?

__ADS_1


"Gerra mau yang mana?"


"Ayam goleng." Sahutnya sumringah dia suka sekali Ayam goreng buatan Ibunya.


"Gilbert. Gerald."


"Ayam goreng, Mom." Jawab kedua nya kompak.


Wajah Gilbert dan Gerald sangat mirip bahkan hampir susah membedakan kedua pria kembar itu. Baik dari gaya rambut, pakaian yang mereka pakai. Tinggi badan dan suara. Kadang banyak yang salah panggil nama.


"Pagi anak-anak Ayah."


Choky menghampiri meja makan dengan menenteng tas dan jas ditangannya.


"Pagi Ayah. Kenapa bisa tellambat Ayah?" Tanya Gerra.


"Ayah kesiangan." Jawab Choky.


Sandy juga ikut bergabung. Seperti nya pagi ini kedua pria ini kompak terlambat apa kebetulan atau memang sudah janjian?


"Pagi kesayangan Papa." Sandy mengacak rambut Gerra "Cantik sekali putri Papa ini." Goda Gerra.


"Iya dong Pa. Kan anak Mommy halus cantik." Seru Gerra


Sedangkan Gilbert dan Gerald makan dalam diam. Keduanya masih merajuk pada Choky dan Sandy yang membohongi mereka semalam.


"Hem, Son masih marah?" Choky menatap kedua pria kembar itu.


"Tidak." Jawab kedua nya judes.


Choky terkekeh pelan. Biarlah mereka merajuk. Asal dia tidak menjawab pertanyaan yang Choky sendiri tidak bisa jawab.


Setelah sarapan bersama semuanya berangkat melakukan aktivitas masing-masing.


Hari ini Sandy yang mendapat giliran mengantarkan si kembar dsn Rachel karena jadwalnya tidak terlalu padat. Sedangkan Choky pagi ini sudah dibuat oleh tugas yang bejibun diatas mejanya.


"Hel."


"Iya Mas?" Rachel melihat lelaki itu. Setelah mengantar anak-anak nya dia akan ke restourant.


"Apa kau sudah memikirkan tawaran Daddy dan Mommy untuk pindah ke istana?" Dia melirik kearah Rachel.


Terdengar helaan nafas panjang. Bukan Rachel tak mau. Dia tidak mau merepotkan Choky dan keluarga nya. Selama ini dia sudah terlalu banyak merepotkan pria itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2