
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
3 hari kemudian......
Sandy membuka dengan pelan perban yang menutupi mata Rachel. Sudah tiga hari setelah operasi dan pemulihan, hari ini perbannya sudah boleh dibuka.
Mereka semua tak sabar terutama ketiga saudara kembar yang sudah lama menantikan sang Mommy.
Choky pun ikut tak sabar. Begitu juga dengan Ozawa dan Maria, namun dibalik itu ada duka yang sebenarnya menghantam dada Maria.
"Mommy," lirih Gilbert.
"Mommy," ucap Gerald.
Perlahan perban itu dibuka dari bagian mata Rachel. Sandy juga melepaskan kapas yang sengaja sebagai penahan agar perban tidak menempel kuat dibekas operasi Rachel.
"Buka mata ku perlahan," perintah Sandy.
Rachel membuka matanya dengan pelan dan takut-takut. Entahlah sekarang dia berharap penglihatan nya kembali
Perlahan namun pasti Rachel membuka matanya. Wajah pertama yang dia lihat adalah ketiga anak kembarnya yang sudah menunggu dia dengan tak sabar. Bahkan mata mereka berkaca-kaca.
Namun pandangan Rachel masih buram dan belum jelas. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya berulang kali hingga pandangan nya mulai jelas.
"Mommy," panggil Gerra.
Rachel menelusuri disekelilingnya hingga pandangan nya mulai jelas dan tak kabur.
"Rachel hitung ini berapa?" Sandy menunjukkan kelima tangannya.
"Lima," jawab Rachel.
Sandy tersenyum senang dan akhirnya operasi ini berhasil.
"Mommy bisa lihat Kakak?" Tanya Gilbert menatap Rachel berkaca-kaca.
"Son," Rachel tak bisa membendung air matanya.
"Mommy," ketiga anak kembar itu langsung memeluk Rachel dengan bahagia.
Sandy dan Choky bernafas lega. Operasi yang memakan waktu cukup banyak itu akhirnya berhasil. Meski harus melewati beberapa proses yang panjang.
Maria juga terharu. Tapi ada luka yang tergores dihatinya. Namun Maria tak bisa berbuat apa-apa, ini sudah menjadi keputusan dan pilihan dari putranya itu. Maria hanya berharap semoga Rachel bahagia dengan dunia baru yang dia lihat.
Sekarang Maria paham bahwasanya cinta sejati adalah dia yang rela berkorban demi orang yang dia cintai. Rela memberikan nyawanya agar orang yang dia cintai hidup selayaknya.
__ADS_1
"Mommy, hiks hiks. Akhilnya Mommy bisa melihat Gella lagi," ucap Gerra sambil terisak memeluk Rachel.
"Gerald rindu Mommy. Kenapa Mommy lama sekali tidur nya?" Gerald juga ikut menangis.
Sedangkan Gilbert menangis dalam diam. Menangis bersyukur karena Ibunya bisa melihat kembali. Namun Gilbert penasaran siapa yang sudah mendonorkan mata kepada Rachel. Gilbert penasaran siapa orang itu?
Benedicto juga tak mampu menahan harunya. Lelaki paruh baya itu menyeka air matanya.
"Nak apa kabar kalian? Kalian baik-baik saja 'kan selama Mommy tidak bisa melihat?" Cecar Rachel meneliti tubuh ketiga anaknya.
"Kami baik-baik saja Mom," sahut ketiga nya kompak.
"Mommy, benelan sudah bisa lihat Gella?" Tanya Gerra. Mode cerewet nya mulai timbul lagi.
"Iya Sayang, Mommy sudah bisa lihat," senyum Rachel.
Rachel melihat kearah Choky dan Sandy yang sudah melemparkan senyum padanya. Dia tidak akan bisa membalas jasa kedua pria baik hati itu. Bahkan apapun yang Rachel lakukan takkan bisa membalas jasa keduanya.
Choky dan Sandy sudah terlalu banyak membantu dan menemani nya melewati setiap permasalahan dalam hidup Rachel.
"Mas Choky. Mas Sandy," panggil Rachel dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Hel," sahut kedua pria itu serentak.
"Mas terima kasih," mata Rachel berkaca-kaca. "Terima kasih sudah menjaga anak-anak selama aku tidak bisa melihat. Terima kasih kalian sudah membantuku dalam banyak hal. Aku bangga memiliki Kakak sebaik kalian, Mas,"
Namun ternyata wanita itu hanya menganggap keduanya sebagai seorang Kakak. Hati Rachel memang sudah terkunci dan dia sudah memutuskan untuk tidak membuka hatinya. Trauma dalam pernikahan nya membawa dirinya mati rasa.
"Sama-sama Hel," Choky tersenyum kecut.
"Rachel," panggil Maria.
"Mom,"
Maria mendekat kearah menantunya itu. Rachel adalah menantu kesayangan nya. Dia menyanyangi wanita itu seperti anaknya sendiri.
Maria langsung memeluk Rachel dengan menangis karena bahagia. Maria berharap penderitaan Rachel berakhir dan tidak ada lagi masalah yang menganggu kehidupan wanita itu.
Sementara Benedicto harus membunuh perasaan rindunya. Dia sadar bahwa Rachel takkan pernah mau memaafkan semua kesalahannya. Dia memang bersalah. Dan tak pantas menerima maaf dari putri semata wayangnya itu.
"Kau baik-baik saja Nak?" Maria melepaskan pelukannya pada Rachel.
"Rachel baik-baik saja Mom," sahut wanita itu tersenyum.
"Daddy," sapanya pada Ozawa.
__ADS_1
"Rachel,"
Ozawa tak menyangka jika Rachel mau menegur dirinya. Pertemuan terakhir mereka berakhir dengan Rachel yang histeris ketakutan melihat Ozawa. Karena setiap orang yang berhubungan dengan Ramos pasti akan membuat Rachel takut.
Rachel mengarahkan pandangan nya pada Benedicto. Benedicto adalah Ayah kandungnya dan Rachel tak bisa memungkiri hal tersebut. Namun, entahlah hati Rachel sangat sakit ketika tahu jika dirinya sengaja dibuat seperti sampah oleh kedua orang tuanya.
Rachel berusaha berdamai dengan masa lalu nya. Namun tetap saja rasa sakit itu terasa menyeluruh didalam dadanya. Rachel sadar sejak kecil dirinya sudah tak inginkan, wajar saja ketika menikah pun suaminya tak menginginkan nya sama sekali.
"Rachel istirahat lah," suruh Sandy. "Kau belum benar-benar pulih," sambungnya.
Rachel mengangguk. Dia membuang pandangan nya kesembarangan arah saat tatapannya bertemu dengan Ayah nya Benedicto.
"Mommy, bial Gella pijitin tangan Mommy," Gerra langsung memijit-mijit tangan Rachel
"Iya Sayang," senyum Rachel.
Sementara Gilbert dan Gerald turun ranjang. Kedua bocah itu masih penasaran siapa yang mendonorkan mata kepada sang Mommy. Tidak mungkin ada orang yang tiba-tiba baik mau mendonorkan matanya meski dibayar dengan uang.
"Benedicto, ayo kita keluar. Belum waktunya kau berbicara dengan Rachel," ajak Ozawa.
Benedicto mengangguk lalu keluar bersama Ozawa. Sedangkan Nirmala sedang istirahat di apartemen mereka. Wanita paruh baya itu kelelahan menangis hingga tertidur dengan lelap.
"Papa. Ayah. Boleh kita bicara sebentar? Ada yang ingin Gilbert bicarakan dengan kalian," ucap Gilbert.
"Mau bicara apa Son?" Kening Choky berkerut.
"Ada sesuatu yang penting Ayah," jawab Gilbert. "Dek, jaga Mommy ya. Kakak bicara dengan Papa dan Ayah dulu," Gilbert mengusap rambut adiknya yang perlahan mulai tumbuh itu
"Iya Kak,"
Maria tersenyum melihat kedua cucu tampannya itu. Awalnya dia terkejut mendengar ucapan Gilbert dan Gerak yang seperti orang dewasa tapi ketika Sandy menjelaskan akhirnya Maria paham jika cucu-cucu nya itu sudah dewasa sebelum waktunya.
"Ya sudah ayo Son,"
Sandy menggandeng tangan Gerald dan Choky menggandeng tangan Gilbert. Keempat pria beda generasi itu keluar dari ruang rawat Rachel.
Diruang rawat Rachel, Gerra dan Maria tampak berjaga disana.
"Nak, kalau butuh apa-apa bilang pada Mommy ya," Maria tersenyum lembut.
"Terima kasih Mom. Maaf Rachel merepotkan," sahut Rachel sambil tersenyum.
"Sama sekali tidak Nak," balas Maria.
Bersambung....
__ADS_1