
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Disebuah ruangan rawat inap VVIP. Ruangan mewah yang mungkin harga sewanya bisa mencapai puluhan juta, memiliki fasilitas mewah bak hotel bintang lima. Tak hanya mewah tapi juga memiliki fatamorgana permandangan yang menyajikan keindahan laut dan perhubungan.
Tampak seorang wanita yang terbaring lemah dengan rambut pendek yang hampir terkikis habis. Tertidur tenang tanpa terganggu dengan suara dentingan monitor pendetak jantung yang saling menggema memenuhi ruangan mewah itu.
Beberapa alat medis menempel ditubuh nya. Dia bahkan telah dipasang oksigen uap untuk membantunya bernafas. Dibagian kepalanya ada perban yang sudah berwarna coklat kemerahan.
Meski begitu aura kecantikan diwajah wanita itu tak mengurang sama sekali. Meski dia tidur sudah begitu lama tanpa terganggu sama sekali.
"Kakak bangun Kak, hiks bangun." Tangis seorang gadis yang mengenggam tangan wanita yang dia panggil Kakak itu.
"Jangan tinggalkan aku Kak. Aku tidak mau sendirian lagi. Ayah sudah pergi. Ibu juga pergi dan Kakak kenapa berniat meninggalkan ku juga Kak? Kalau Kakak pergi aku juga akan pergi. Aku tidak mau tinggal sendirian." Ucap nya dengan suara serak akibat menangis.
Dia masih menangis berharap tangisannya dapat membangunkan Kakak nya yang masih tertidur dengan nyaman itu tanpa terganggu dengan suara berisik disekitar nya.
"Maafkan aku Kak hiks hiks. Gara-gara aku Kakak menderita. Gara-gara aku Kakak...." Dia langsung terduduk menahan sakit dibagian bawahnya "Arghhhh."
"Rima."
Empat orang masuk, satu diantaranya perempuan dan tiga laki-laki. Wajah keempat nya tampak panik.
"Rima."
"Arghhh." Gadis itu meringgis kesakitan.
"Kakak sakit." Rintihnya.
"Cepat bawa dia keruangan sebelah." Tintah salah satu pria yang bersama mereka.
"Panggilkan Dokter Yuni."
"Baik Mas." Sahut satu laki dan satu perempuan.
__ADS_1
"Sebaiknya kau awasi Rima. Biar aku yang menjaganya disini." Dia menepuk bahu pria yang menatap wanita itu dengan tatapan sendu.
Dia mengangguk "Pastikan dia baik-baik saja." Pinta nya.
"Itu pasti." Dia tersenyum hangat.
Pria berjas putih itu berjalan pelan kearah wanita yang masih tidur tanpa terbangun dari kemarin.
Dia duduk dikursi samping yang berada ditepi ranjang wanita itu. Dia menatap lama wanita yang terbaring ini. Wajahnya teduh, tenang dan damai. Sudah lama dia seperti ini. Tapi tetap saja dia tak bangun-bangun, entah tertidur pingsan atau memang sudah meninggal.
"Aku mencarimu sudah lama. Tapi kenapa saat aku menemukanmu kau malah seperti ini?" Tangannya mengusap kepala wanita yang dibungkus perban itu.
"Bangunlah. Bangun. Jangan takut lagi. Kau akan aman dan baik-baik saja disini. Takkan ada yang berani menyakiti mu." Ucapnya menahan perih didalam dadanya melihat wanita itu.
"Meski aku kau bukan Rebecca tapi aku yakin jika bagian dari Rebecca ada padamu. Bangunlah. Ada banyak hal yang harus kau tahu. Aku ingin menceritakan nya padamu."
Dia mengenggam tangan wanita yang di pasang selang infuse itu. Tak menyangka takdir malah mempertemukan nya kembali setelah dia mencari dengan susah payah.
Hatinya kembali sakit. Entah apa yang sudah dilewati wanita ini? Kenapa kondisi nya sangat mengenaskan? Entahlah, setelah dia bangun apa dia akan mengingat semuanya sebab dia baru saja melakukan operasi karena pembekuan darah dibagian vital nya.
"Kau wanita kuat dan aku yakin kau pasti bisa melewati semua ini. Bangunlah."
Tak bisa ditahan, meski laki-laki itu tidak cenggeng tapi ketika dihadapkan dengan kenyataan seperti ini air matanya akan tetap luruh juga.
Dia masih menatap lama wajah wanita yang terlelap ini. Terlihat tenang setelah jiwa dan bayinya dihantam habis-habisan oleh kenyataan. Wanita sekuat ini diperhadapkan dengan banyak kenyataan tetap bisa menebarkan senyum bahwa dia baik-baik saja.
"Aku berjanji akan menjagamu dan dia. Aku takkan membiarkan kalian berdua disakiti oleh pria tak tahu diri itu. Jadi cepatlah bangun. Ada kabar gembira menantimu. Kau pasti akan bahwa." Dia tersenyum tipis dengan lelehan bening itu.
"Sebentar lagi dia akan hadir melengkapi hidupmu dan hidup kita. Kita akan bahagia disini. Jauh dari orang-orang yang akan menyakiti mu."
Dia mengecup kening wanita itu dengan lembut. Sangat lembut. Tidak peduli wanita ini sudah bekas siapa dan sudah memiliki benih yang tumbuh dirahimnya dia ingin mengubah wanita ini menjadi wanita kuat.
Pria itu memperbaiki selimut wanita nya yang terlelap dengan nyaman itu. Dia tersenyum melihat kearah bagian perut yang bagian rata itu. Semoga dengan kehadiran seseorang bisa membuat wanita nya bahagia.
__ADS_1
Dia keluar dari kamar dan menutup kamar itu dengan rapat.
"Bagaimana?" Tanyanya pada seorang pria yang tengah duduk disoffa ruang tamu.
Pria itu menggeleng dengan lemah "Rima harus dibawa kerumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap."
"Tidak bisa." Tolak lelaki yang berjas dokter itu "Aku akan menelpon asistenku untuk membawa fasilitas disini. Disana bahaya aku takut kita ditemukan. Kau tahu kan Paman Ozawa memiliki banyak jaringan? Aku tidak mau dia menemukan tempat persembunyian kita ini." Tolak pria berjas hitam itu.
"Aku setuju dengan pendapat mu." Lelaki itu manggut-manggut.
"Bagaimana keadaan nya?" Tanyanya kepada pria berjas dokter itu.
Sang pria berjas putih menggeleng "Belum ada perubahan. Benturan dikepalanya cukup kuat. Aku hanya khawatir pendarahan dikepalanya membuat dia kehilangan beberapa ingatannya tentang kita." Terdengar helaan nafas panjang "Tapi dia baik-baik saja. Dia sduah melewati masa kritis nya." Jelasnya kemudian.
Pria yang satunya memejamkan matanya menahan perih didada. Melihat kondisi wanita yang dia cintai terbaring seperti itu membuat hatinya sakit dan lelah.
"Aku hanya takut dia syok ketika bangun menyadari dirinya sudah berbadan dua. Aku takut dia semakin stress dan depresi." Ucap pria itu.
"Itu juga yang sedang aku pikirkan." Sahut sang dokter "Tapi aku yakin dia akan menerima bayi didalam kandungan nya. Dia wanita baik yang takkan tega membuang anaknya sendiri." Tuturnya.
"Iya aku tahu itu. Tapi kenapa ini bisa terjadi? Andai saja malam itu aku bisa menahannya untuk tidak pulang semua ini pasti tidak akan terjadi." Ucapnya dengan penuh penyesalan "Arggghhhhh." Dia meremes rambutnya dengan kasar.
"Tenanglah. Semua nya akan baik-baik saja. Kita hanya perlu menjaganya dan memasukkan dia baik-baik saja."
Bersambung....
Hai semua.....
Mksih buat yg masih setia ikutin kisah perjuangan Rachel...
Jangan lupa buat komen, like dan vote serta rate limanya. Jika ada saran dan masukkan kalian juga boleh coret-coret dibawahnya...
Terima kasih buat kalian semua...
__ADS_1