
**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**
"Chicha," panggil Rayyan genit.
"Apa?" ketus wnaita itu sambil menyantap makanan dan menatap Rayyan jenggah.
"Makan nya pelan-pelan," Rayyan menyingkirkan makanan yang menempel di bibir Chicha.
Sejenak tatapan kedua orang itu bertemu. Rayyan menatap bola mata Chicha. Baru kali ini dia melihat Chicha dari jarang dekat dan jika di lihat gadis ini cantik juga.
"Jangan pegang-pegang," hingga lamunan Rayyan buyar saat Chicha menepis tangannya.
Lelaki itu terkekeh melihat Chicha yang gugup. Ia tak sabar membuat wanita ini mendesah dibawahnya. Lihat saja nanti, Chicha akan jadi miliknya.
"Ehem," ia berdehem. "Lanjutkan makan nya Sayang, biar nanti diantar pulang sama pria tampan," ia membusungkan dadanya bangga dan mengatakan bahwa dia tampan.
Chicha memutar bola matanya malas. Gadis itu menghabiskan makanan nya.
"Ayo,"
Kedua orang itu masuk kedalam mobil. Rayyan tersenyum licik saat melihat wajah cantik Chicha.
"Cha," panggil Rayyan.
"Apa?" sahut Chicha.
"Bagaimana kalau kita pacaran?" Rayyan langsung to the point
"Ka_"
"Kamu pasti bosan kan mendengar pertanyaan kapan menikah?" Rayyan memincingkan matanya.
"Iya. Tidak menikah dengan Kakak," sahut Chicha. "Aku ingin menikah dengan lelaki yang masih perjaka. Bukan yang sudah celap-celup segala lobang," singgung Chicha.
Rayyan malah ngakak mendengar ucapan Chicha. Bukan nya tersinggung lelaki itu malah tersenyum menggoda.
"Hem, justru itu. Kamu harus menikah dengan laki-laki berpengalaman seperti ku," seru Rayyan.
"Idih, pengalaman dari mana?" cibir Chicha. "Sudahlah Kak. Jangan aneh-aneh," ucap Chicha.
Rayyan tersenyum menggoda. Ia yakin suatu saat gadis ini akan jatuh kedalam pelukannya. Bagaimana pun caranya. Ia akan melakukan segala cara, agar Chicha jadi miliknya.
"Stopppp,"
__ADS_1
Chitttttttttttt
Sontak saja Rayyan menginjak rem saat Chicha menyuruh nya berhenti.
"Kenapa sih?" lelaki itu menggerutu.
Chicha menatap keluar jendela, tampak Sandy dan Sandra yang baru saja keluar dari supermarket. Sandra sudah hamil beberapa bulan. Membuat Sandy semakin perhatian.
Chicha menatap itu dengan sendu. Andai saja ia yang menjadi istri Sandy, pasti ia akan senang sekali diperhatikan seperti ratu oleh lelaki itu.
Rayyan ikut melirik kearah Sandy dan Sandra. Ia lalu melihat Chicha. Lelaki itu memutar bola matanya malas saat melihat tatapan Chicha.
Rayyan menjalankan mobilnya. Sedangkan Chicha wajahnya sendu. Sandy adalah orang pertama yang membuatnya jatuh cinta. Pesona dokter itu tak bisa lepas dari bayang-bayang Chicha.
"Mau langsung pulang atau ke kantor?" Rayyan melirik Chicha.
Chicha menyeka air matanya. Ia tak bisa tak menangis setiap kali melihat Sandy dan Sandra. Ternyata mencintai dalam diam itu menyakitkan karena ia harus dipatahkan sebelum mengungkapkan isi hatinya.
"Susah jangan menangis lagi," hati Rayyan mencelos sakit ketika melihat air mata Chicha.
Chicha mengangguk. "Aku belum bisa melupakan Kak Sandy, Kak," curhatnya.
.
.
Lalu ia melihat sekeliling nya. Choky duduk pelan sambil memegang kepala nya yang masih sakit.
"Huffhhhh," Choky menghela nafas panjang. "Pusing sekali," keluhnya.
Lewi masuk kedalam kamar putranya sambil membawa nampan berisi bubur dan segelas air.
"Son," panggil Lewi.
Choky melirik Ibu nya dan mengangguk saja. Ia tidak mood bicara.
"Bagaimana kepala kamu Son? Masih pusing?" tanya Lewi penuh perhatian.
"Masih Mom," Choky meringgis.
"Ya sudah kamu makan dulu, nanti setelah itu kamu minum obat," jelas Lewi.
Choky mengangguk. Ahh dia benar-benar merasa tubuhnya sakit. Mabuk naik mobil itu sama sekali tidak enak. Kepala pusing seluruh isi perut rasanya ingin keluar saja.
__ADS_1
"Kamu diantar Chika tadi siang," jelas Lewi
Mendengar nama gadis itu, wajah Choky langsung berubah masam. Mengingat dan mendengar nama sekretaris nya itu membuat nya kesal saja.
"Dia bicara apa saja?" tanya Choky dingin sambil makan pelan.
"Dia mengaku. Kalau dia yang membuat kamu mabuk seperti ini," jelas Lewi. "Ehhh tapi Chika lucu yaaa. Masih imut-imut gitu. Sayang kamu sudah Mommy jodohkan sama anaknya teman Mommy. Andai kalau kamu belum di jodohkan, Mommy pasti akan meminta dia menjadi menantu Mommy,"
Uhuk uhuk uhuk uhuk
Choky langsung tersendak mendengar ucapan Ibunya. Segera lelaki itu mengambil air putih yang Ibu nya letakkan diatas nakas.
"Mom, jangan aneh-aneh," protes Choky. "Aku sama sekali tidak menyukai gadis aneh itu. Bisa langsung jadi mayat aku jika menikah dengan gadis itu," Choky mencengkram sendoknya dengan kuat saat mengingat Chika yang membuatnya mabuk tadi.
"Dan Mom, aku tidak mau di jodohkan," tolak Choky keras.
"Kamu tidak bisa menolak Choky. Minggu depan pertemuan keluarga. Mommy harap kamu hadir. Jangan membantah ya Son. Kamu sudah tua dan_"
"Mom, aku tidak tua. Aku hanya dewasa Mom. Bukan tua," sahut Choky yang tidak terima di bilang tua. Baginya dia memang masih muda.
Lewi tertawa lebar. "Choky, kamu itu sudah 39 tahun. Bukan muda. Astaga, astaga," Lewi sampai memegang perutnya sambil mentertawakan putranya. "Mengaku sajalah Son. Kamu itu sudah tua. T-U-A," Lewi sampai mengeja dengan penuh penekanan agar putra nya itu mengerti.
Choky merenggut kesal. Kalau mendengar kata tua dia jadi ingat Chika. Gadis itu pun menjulukinya pria tua. Apa Choky setua itu? Padahal belum begitu tua. Dia hanya dewasa, dengan usia transisi yang tengah sibuk membangun karirnya.
"Ya sudah minum obat kamu," Lewi memberikan beberapa butir obat pada putranya.
"Terima kasih Mom," sahutnya mengambil obat itu.
"Ya sudah kamu istirahat," sambil meletakkan gelas dan mangkuk bubur diatas nampan. "Awas jangan membayangkan wajah Chika. Soalnya kamu sudah Mommy jodohkan," goda Lewi mengedipkan matanya jahil.
"Mom, please," Choky merenggut kesal. "I'm not like her," sambungnya.
"Ya ya. Siapa tahu saja. Kecantol cinta sekretaris ku," lalu wanita paruh baya itu ngakak sambil keluar dari kamar Choky.
Choky menggeleng. Namun tanpa sadar lelaki itu tersenyum.
"Ck, tidak boleh. Aku tidak boleh memikirkan gadis aneh itu. Dia penyebab aku begin," ucap Choky menepis perasaan nya dan bayang-bayang Chika yang berlarian dikepalanya.
"Huh," ia menghela nafas panjang. "Semoga sakitnya segera mereda. Aku masih memiliki banyak pekerjaan," sambil memijit-mijit pelipisnya.
Choky tampak menatap langit-langit kamarnya. Sekian tahun berlalu, ia masih belum bisa melupakan perasaan nya pada Rachel. Wanita pertama yang berhasil menduduki peringkat tertinggi didalam hatinya.
"Rachel," gumamnya memejamkan matanya. "Kenapa susah sekali melupakan mu? Kenapa sulit sekali membuka hati untuk orang baru?" ia bermonolog sendiri.
__ADS_1
Benar kata orang-orang cinta pertama itu sulit di lupakan. Contohnya Choky, ia sama sekali tak bisa melepaskan senyuman Rachel dari benaknya. Wanita itu masih tersimpan dengan nyaman didalam lubuk hatinya yang paling dalam. Namun ia tak bisa seperti ini terus.
**Bersambung.....**