Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Berlalu begitu cepat.


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Seorang pria baru keluar dari kantor polisi. Brewok terlihat jelas tumbuh dibagian rahangnya. Rambut nya gondrong dan sengaja digulung lalu diikat. Dia masuk kedalam mobil saat sang asisten membuka pintu untuknya.


"Jalan Heru." Tintahnya.


"Baik Tuan." Jawab sang asisten


Dia menatap kosong kearah jendela mobilnya. Setelah lima tahun dikurung dalam jeruji besi, akhir nya masa tahanan itu telah berakhir. Dia sekarang bebas dan bisa menghirup udara segar seperti sedia kala.


Sudah lama, sangat lama dia tidak melihat kepadatan kota Jakarta. Menikmati kemacetan yang panjang. Melihat para pengamen bernyanyi saat lampu merah menghampiri para pengendara untuk sekedar menyumbangkan suara emasnya lalu dihargai dengan uang yang tak seberapa jika dibandingkan dengan terik matahari yang membakar kulitnya.


"Heru kita ke Apartement sebelum kembali ke Mansion."


"Baik Tuan."


Wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Selama menjadi tahanan dijeruji besi, dia tak benar-benar mengurus diri. Namun dia belajar banyak hal. Dia menghabiskan hidupnya untuk memperlajari sesuatu yang belum pernah dia pelajari sebelumnya.


Dia turun saat sampai di Apartement yang selama lima tahun ini tak pernah dia kunjungi. Meski brewok dan rambut yang panjang sama sekali tidak mengurangi ketampanan dari pria yang baru saja bebas dari jeruji besi itu.


Dia masuk kedalam apartement ini. Tatapan nya sendu dan semua memori yang sudah lama mati itu terbuka kembali. Seperti sebuah rekaman televisi yang direkam ulang didalam ingatannya.


"Rachel kau dimana?" Lirihnya berjalan pelan menyusuri ruangan apartemen nya.


Apartemen ini tak berubah meski dengan waktu yang telah berlalu dengan begitu cepat. Baik dari letak-letak barangnya atau pun suasana apartemen tersebut. Tak ada yang berubah sama dengan suasana hatinya.


"Rachel." Air matanya menetes begitu saja.


"Andai waktu bisa diputar, aku takkan melakukan hal sekeji itu padamu. Aku, aku..." Dia tak bisa melanjutkan kata-kata nya, suaranya tercekat dan tersangkut dilehernya.


Kerapuhan nya sama tak memudar dengan waktu. Hati dan penyesalan nya tetap sama tak menghilang seiring dengan hukuman yang dia terima. Mungkin mati akan membuat perasaan menyesal ini menyerah menyalahkan dirinya. Tapi dia belum mau mati, dia masih ingin bertemu istri dan anaknya. Apapun akan dia lakukan hanya untuk membuat istri dan anaknya kembali kedalam pelukannya.


"Tuan." Panggil Heru.


"Tinggalkan aku sendiri Heru. Aku ingin sendiri," ucapnya menyeka air matanya.


Heru mengangguk dan menatap punggung nya yang menghilang dibalik pintu kamar. Memang terkadang perasaan bersalah itu takkan bisa hilang sebelum bertemu dengan orang tersebut.

__ADS_1


Pria itu berjalan masuk kedalam kamarnya. Masih sama. Sama seperti dulu. Setiap kali masuk kedalam kamar ini dia selalu merasa hampa.


"Rachel. Kamar ini tak berubah sama sekali. Masih sama seperti saat ada kau disini. Saat kau tak ada kamar ini terasa mati, dan kau tahu Rachel aku sekarang merasakan perasaan yang sebenarnya ingin ku bunuh mati tapi kenapa perasaan rinduku seolah mengalahkan semua perasaan yang menyiksaku?"


"Berapa kali harus ku ucapkan kata maaf. Mungkin lidahku tak bosan mengatakan nya tapi telingamu pasti tak ingin mendengarnya."


Pria itu duduk dibibir ranjang. Tangannya mengusap kasur yang masih rapih dan bersih itu. Kasur ini adalah tempat terakhir dia menyiksa istrinya mengambil sesuatu yang istrinya jaga dengan susah payah. Namun dia merenggut nya seolah tak berarti apa-apa.


Pria itu tersenyum getir ketika mengingat semua kejahatan yang telah dia lakukan pada istrinya.


"Tuan, Tuan Besar meminta anda untuk segera kembali ke Mansion," lapor Heru sambil membungkuk hormat.


Pria itu mengangguk. Dia takkan diberikan kebebasan lagi oleh sang Ayah setelah apa yang sudah dia lakukan kepada wanita tak berdaya seperti istrinya.


.


.


.


.


"Mom."


Maria memeluk putra sulungnya itu sambil menangis. Akhirnya Ramos bebas dari jeruji besi yang menjeratnya.


"Mommy merindukanmu Son."


"Aku juga merindukanmu Mom." Balasnya memeluk sang Ibu.


Ozawa tersenyum simpul menatap putranya. Sudah cukup hukuman yang dia berikan pada Ramos. Dia berharap kali ini Ramos bisa memperbaiki dirinya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


"Bagaimana kabarmu Son?" Maria melepaskan pelukannya "Kau terlihat lebih kekar dan brewok mu kenapa banyak sekali? Rambutmu juga gondrong," celoteh Maria memperbaiki rambut anaknya yang sengaja digulung lalu diikat.


"Apakah aku terlihat lebih tampan Mom?" Ramos terkekeh.


"Tidak! Kau tidak tampan, Daddy mu yang paling tampan," celetuk Maria.

__ADS_1


"Hem, begitu. Baiklah seorang kekasih akan memuji kekasih nya walaupun kenyataannya itu tidak benar." Sahut Ramos.


"Kau mengatakan Daddy tidak tampan, Son?" Ozawa menatap putranya kesal.


"Apa aku bicara begitu Dad?" Ramos terkekeh.


Ozawa juga memeluk putranya ini. Ozawa masih tak menyangka jika putranya bisa melewati waktu lima tahun dibalik jeruji besi itu. Dia bisa saja menggunakan kekuasaan nya untuk membebaskan Ramos. Namun Ozawa tak mau, dia ingin Ramos benar-benar menyesali perbuatannya.


"Kau semakin gagah?" Ozawa merangkul bahu putranya.


"Tentu kan aku putramu." Goda Ramos terkekeh.


"Hem, untuk menyambut kedatangan mu. Mommy sudah siapkan masakkan kesukaan mu. Ayo kita makan." Maria menggandeng tangan putranya.


"Wahh terima kasih Mom. Seperti nya aku perlu memberimu hadiah karena menyambut kedatangan ku." Ramos terkekeh


"Mommy tunggu itu."


Ketiganya menuju meja makan. Maria memang memasak khusus menyambut kedatangan Ramos. Dia ingin mempersembahkan makanan yang paling disukai oleh putranya itu.


Ramos sebenarnya pria yang hangat dan lemah lembut, penurut dan selalu melakukan apa yang kedua orangtuanya katakan padanya. Hanya saja karena kesalahan Ramos dalam membawa iri membuatnya terjebak dalam pergaulan yang salah hingga menjerumuskan dirinya.


"Ray kemana aku tidak melihat nya?" Tanya Ramos, biasanya adiknya itu selalu heboh menyambut kedatangan nya walaupun mereka tak benar-benar cocok.


"Sejak lima tahun yang lalu adikmu pindah ke Belgia dan tinggal bersama Raina." Jawab Ozawa.


"Apa dia betah? Nana sangat rewel padanya," seru Ramos.


"Biarlah disana Raina yang menjaganya. Lebih baik, dari pada disini dia terus berulah." Ozawa terkekeh.


Mereka bertiga makan sambil diselingi dengan obrolan hangat. Apalagi sudah lama Ramos dipenjara dan tentu ada banyak cerita dan keluh kesah yang ingin dia ceritakan kepada kedua orangtuanya.


Sudah lama Ramos tak duduk makan seperti ini, moment seperti ini hilang saat dia menjalin hubungan dengan Agnes. Namun sekarang Ramos sadar betapa pentingnya waktu bersama orangtua.


"Makanlah yang banyak Son, supaya tubuh mu semakin kekar." Maria meletakkan beberapa potong ayam goreng dipiring Ramos


"Terima kasih Mom. Kau tahu aku lapar sekali. Makanan dipenjara tidak seenak ini," seru Ramos.

__ADS_1


Ozawa dan Maria tersenyum menatap Ramos yang makan dengan lahap. Meski setiap Minggu Maria membawakan putranya makanan tapi tetap saja Ramos tak puas makan disana.


Bersambung....


__ADS_2