
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Kata orang bahagia itu sederhana. Cukup manjakan dirimu dengan hal-hal luar biasa. Belanja, contohnya. Hal itu lah yang sedang dilakukan oleh Chika dan Arnetta. Uang seratus juta yang diberikan Choky padanya, ia gunakan sepuas hatinya. Kapan lagi coba menikmati hasil sendiri?
"Ka, kamu yakin kalau Tuan Choky menyewa kamu sebagai pacar sewaan hanya untuk menghindari perjodohan? Tidak ada maksud lain 'kan?" ujar Arnetta curiga. "Bisa jadi dia pedofil. Secara kan usia kalian terpaut 20 tahun," jelas Arnetta.
"Sudah jangan curigaan. Lagian ini juga menguntungkan buat aku. Aku bisa menolak perjodohan dengan alasan sudah memiliki pacar. Saling menguntungkan, bulan?" seru Chika sambil menjilat es cream ditangannya.
"Ihhh Chika jorok," Arnetta menyenggol lengan gadis itu.
Namun Chika santai-santai saja seperti anak kecil. Ternyata jadi rakyat jelata menyenangkan juga.
"Chika," panggil seseorang.
Chika dan Arnetta langsung menoleh saat ada seseorang yang memanggil namanya. Sontak gadis itu menyembunyikan es cream dibelakang takut ketahuan dirinya makan es cream padahal di bibirnya ada bekas es cream.
"Ehhh, Kak Jovan," gadis itu tersenyum manis.
Jovan terkekeh, lelaki itu membersihkan bibir Chika yang belepotan bekas es cream di mulutnya.
"Kamu makan belepotan," ucapnya menjauhkan tangannya.
Sedangkan Chika setengah mati menahan diri karena malu. Niat hati supaya jangan ketahuan makan es cream, ehh malah ketahuan karena bibir nya.
"Hehehe iya Kak," gadis itu lalu mengeluarkan es creamnya. "Karena dibuang sayang, aku habiskan dulu ya kak," secepat kilat Chika menghabiskan es cream nya.
Jovan dan Arnetta mendelik. Benar-benar seperti anak kecil. Sungguh tak menjaga image sama sekali.
"Chika, ihhh kamu ya. Kenapa jorok sihhh," protes Arnetta. "Jadi cewek itu feminimnya sedikit Chika," Arnetta geleng-geleng kepala.
Berbeda dengan Jovan, ia malah tersenyum geli. Chika ini gadis yang tampil apa adanya. Meski terkesan tomboy tapi dia tidak berpura-pura menjadi orang lain. Ia selalu menjadi dirinya sendiri.
"Sini, tangan kamu," Jovan mengambil tangan Chika lalu membersihkan tangan gadis itu dengan sapu tangan miliknya.
"Terima kasih Kakak Tampan," goda Chika.
"Maklumin yaaa Kak. Dia masih kecil," celetuk Arnetta kesal.
"Tidak apa-apa," sahut Jovan. "Kalian sudah makan?" tanyanya
__ADS_1
"Belum Kak," jawab kedua gadis itu bersamaan. Mereka baru selesai belanja banyak. Setelah itu makan es cream dan belum sempat makan.
"Ya sudah ayo makan bareng saja," ajak Jovan.
"Ayo Kak," Chika kalau yang namanya gratisan dia suka lupa kalau dirinya anak Sultan.
Jovan adalah ketua BEM dikampus Chika. Ia menjadi salah satu mahasiswa populer dikampus yang banyak di gilai oleh kaum hawa. Chika, ia sama sekali tak tertarik tapi ia cukup dekat dengan Jovan dan sering membantu lelaki dalam urusan tugas kampus. Jovan mahasiswa kedokteran semester 7. Selain tampan ia juga memiliki segudang prestasi di bidang sains dan olahraga, terutama basket.
"Kalian pesan saja apa yang mau kalian makan," suruh Jovan.
"Benaran Kak?" Chika langsung sumringah. Walau dia kenyang kalau dapat yang gratis dia pasti tidak akan menolak.
"Iya Chika," senyum Jovan.
.
.
.
"Mom, kenapa harus mengajak aku sihh?" protes Choky.
"Kenapa tidak ajak Chika saja?" Choky memutar bola matanya malas.
"Adikmu lagi sibuk Choky. Sudah ayo," ajak Lewi. Choky paling tidak suka di ajak belanja.
Meski mengomel dan menggerutu lelaki tampan yang sudah berusia itu tetap mengikuti keinginan sang Ibu untuk menemani nya belanja. Entah kenapa maklum sejenis wanita selalu ribet? Padahal Lewi bisa saja menyuruh para pelayan untuk belanja tidak harus repot-repot turun tangan sendiri. Tapi wanita paruh baya itu malah memilih berjalan sendiri.
"Seperti nya aku harus meminta Josh kembali ke Jakarta. Jika ada Josh semua pekerjaan ku ringan," gumam Choky.
Choky dan Lewi masuk kedalam mobil.
Lewi tersenyum saja ketika melihat wajah cemberut putranya itu. Kadang dia berpikir heran, apa yang membuat Choky tidak mau menikah hingga sekarang, padahal jika dilihat wanita mana yang akan menolak pesona seorang Choky. Tidak hanya tampan dan berkarisma tapi ia pun memiliki segalanya.
"Bagaimana Son, apakah kamu sudah mempertimbangkan perjodohan kamu?" tanya Lewi.
"No Mom, Mommy kan sudah tahu kalau aku punya pacar," sergah Choky.
"Ehem, terus kapan kamu mengajak pacar kamu ketemu Mommy?" Lewi menatap curiga pada putranya. Usia Choky memang sudah sangat matang, harusnya anaknya ini memikirkan pasangan hidup tapi kenapa malah sibuk mencari uang.
__ADS_1
"Ya nanti," sahut Choky. Ia yakin kedua orang tua nya akan terkejut jika tahu yang mencari pacar Choky adalah Chika, sekretaris bar-bar dan menyebalkan itu.
Choky dan Lewi turun tepat didepan sebuah mall mewah. Entah apa yang hendak di beli Lewi sehingga harus ke mall. Dan itu membuat Choky semakin kesal. Kenapa ribet sekali hidup seperti ini?
"Mommy mau beli apa sihh?" tanya Choky. Jika saja ini bukan Ibu nya sudah pasti akan Choky tendang.
"Kamu ikut saja,"
Lewi mencari seserahan untuk calon besan nya nanti. Betapa senang nya dia bisa besanan dengan Ozawa dan Maria, sahabat lamanya itu.
"Mom, bukannya terbalik? Harusnya orang tua Rayyan yang membawa seserahan?" ujar Choky protes
"Hem, Mommy sengaja mau memberikan hadiah untuk calon mantu dan calon besan Mommy untuk mempererat hubungan," jelas Lewi.
"Iya. Iya," Choky memutar bola matanya malas.
Tidak sengaja mata Choky menangkap Chika yang tengah duduk bersama dua orang. Satu laki-laki dan satu nya perempuan. Mereka tampak mengobrol dengan asyik sambil tertawa tanpa beban.
'Huh, kenapa harus ada perusuh itu kesini?' ucap Choky dalam hati.
Choky menatap tajam Chika. Apalagi saat Jovan tampan mengusap kepala Chika dan kenapa hatinya panas serta tak suka melihat tangan Jovan diatas kepala Chika.
'Siapa lelaki itu? Awas saja jika itu pacarnya, akan ku tarik kembali uang ku,' gerutu Choky dalam hati.
"Mom, aku kesana sebentar," pamit nya.
"Kemana? Jangan jauh-jauh," pesan Lewi.
"Mom, aku bukan anak kecil lagi," protes Choky. Ibu nya itu berpesan seperti dia seorang anak kecil saja.
"Ya siapa tahu kamu tersesat," Lewi tersenyum tanpa dosa setelah melihat wajah cemberut putranya.
Lewi menikah muda, usia 18 tahun. Sehingga beda usianya SMA Choky hanya 19 tahun. Mereka tak terlihat seperti Ibu dan anak malah seperti berteman. Apalagi Lewi awet muda, tentu nya dengan perawatan mahal.
Choky berjalan kearah Chika. Wajah lelaki itu tampak masam. Ia tidak tahu kenapa ia bisa kesal melihat Jovan memegang kepala Chika?
"Ehem,"
Ketiga orang yang tengah asyik mengobrol itu sontak menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
Bersambung........