Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 11. Sandy Story's


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Pagi Papa," sapa ketiga anak kembar yang sudah tersenyum tanpa dosa di meja makan.


"Pagi," ketus Sandy.


"Sarapan Mas," ajak Rachel sambil meletakkan piring didepan Sandy


Sandy mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih Hel," balas nya.


"Jangan tersenyum pada milik ku San," tegur Ramos. Bagaimana pun ia tak lupa jika Sandy pernah menyukai istrinya


Sandy memutar bola matanya malas. "I know dan kau tidak perlu mengingatkan ku," ketus Sandy kesal.


Rachel hanya tersenyum sambil menggeleng saja. Ia memaklumi sifat Ramos yang cemburuan karena dulu mereka pernah berpisah cukup lama kala itu.


"Pa, kami ikut ke kantor yaaa?" pinta Gilbert.


"Tidak mau. Hari ini Papa sibuk dan punya banyak pekerjaan. Papa tidak sempat mengurus kalian yang nakal itu," ketus Sandy. Ia trauma membawa si kembar ke rumah sakit atau ke kantor nya. Nanti ketiganya bisa berulah lagi dan Sandy tidak mau pusing memikirkan anak-anak nakal itu.


Selesai sarapan Sandy berangkat ke kantor. Ia tak peduli dengan si kembar yang merenggek ingin ikut. Ia sudah jera karena ketiga nya malah membuat ia terjebak dengan seorang gadis. Sandy takut nanti perasaan nya tidak bisa sepenuhnya memiliki gadis itu.


"Bukannya itu Sandra?" gumam Sandy saat melihat Sandra tampak menunggu di halte bis.


Mobil lelaki itu berhenti tepat didepan Sandra. Ia membuka kaca mobil agar bisa menyapa gadis itu.


"Sandra,"


"Dok," Sandra sontak berdiri dari duduknya.


Sandy keluar dari mobil dan mengampiri Sandra yang tampak sudah berdiri menyambut kedatangan nya.


"Menunggu bis?" tebak Sandy.


"Iya Dok," senyum Sandra. Ia agak canggung kalau bersama Sandy. Apalagi mengingat si kembar memanggil dia Mama membuat jantungnya berdegup tak karuan.


"Dimana lelaki polisi yang biasa mengantar kamu?" tanya Sandy kurang suka ketika menyebut nama Bima. Huh, menyebalkan. Seperti nya ia sudah terperangkap dalam permainan si kembar.


"Mas Bima sedang ada dinas di luar kota Dok," sahut Sandra.

__ADS_1


Semalam dirinya di interogasi oleh Bima tentang Sandy. Benar kata Bima dia dan Sandy terlalu banyak perbedaan. Jangan pernah bermimpi untuk bersanding dengan pria sempurna seperti Sandy.


"Bagaimana kalau bareng saya saja?" tawar Sandy. Ini pertama kalinya ia menawari wanita masuk kedalam mobilnya setelah Rachel.


"Apa tidak merepotkan Dok?" tanya Sandra tak enak hati.


"Tidak. Lagian banyak ruang kosong didalam," sahut Sandy tersenyum.


Sandra mengangguk. Tapi ia gugup. Entahlah, kenapa ia bisa gugup saat didekat Sandy. Biasanya juga tidak seperti ini.


Sandy dan Sandra masuk kedalam mobil. Sandra tampak duduk tak tenang dan sesekali bergeser kesana-kemari. Rumah sakit pasti heboh saat mengetahui ia satu mobil dengan dokter tampan pujaan semua wanita.


"Sandra," panggil Sandy


"Iya Dok," sahut Sandra tersenyum. "Ada yang bisa saya bantu Dok?" sambungnya.


"Berapa usia mu?" tanya Sandy


Kening Sandra berkerut. "28 tahun Dok," namun ia tetap menjawab. "Kenapa Dok?" tanya Sandra setengah menyelidik.


"Malam ini saya ingin mengajak mu makan. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan mu," ucap Sandy. Meski sebenarnya dia sedikit ragu mengajak Sandra. Apakah keputusan nya yakin untuk menjalin hubungan dengan gadis ini?


"Nanti kau akan tahu," jawab Sandy.


Sandra mengangguk. Tak salah jika ia makan malam bersama Sandy. Tapi Sandra takut salah paham nantinya. Namun ia tak bisa menolak permintaan Sandy karena ia penasaran apa yang akan dibicarakan Dokter tampan itu padanya.


Sampai dirumah sakit keduanya turun. Benar dugaan Sandra bahwa semua dokter dan perawat akan menatap ia penuh tanda tanya karena bisa satu mobil dengan Sandy.


"Dok, jalan duluan saja. Saya mau ke toilet sebentar," ucap Sandra beralasan.


"Iya, saya duluan," Sandy mengangguk sambil tersenyum.


"Aaa Dok, tunggu sebentar," cegah Sandra.


"Kenapa?" Sandy berbalik.


"Ehem, ini kebetulan tadi bawa dua bekal Dok, tadi rencana nya ini untuk Mas Bima. Dokter mau?" tawar Sandra.


Wajah Sandy berubah saat Sandra menyebut nama Bima. Apakah ia cemburu? Tapi tidak mungkin, bagaimana bisa ia cemburu pada gadis ini?

__ADS_1


"Dokter mau?" tawar Sandra sekali lagi saat melihat Sandy yang hanya terdiam saja.


"Ohh boleh," Sandy mengambil rantang nasi itu ditangan Sandra. "Terima kasih," ucap Sandy. "Saya duluan," pamitnya.


Sandra mengangguk lalu mengembuskan nafas nya kasar. Ia berjalan menuju toilet. Sebenarnya ini hanya alasan supaya ia tak ketahuan datang bersamaan dengan Sandy.


"Huffhhhh," gadis itu masuk kedalam toilet. "Sadar Sandra. Jangan terbawa perasaan. Dia tidak memiliki perasaan apapun padamu," kilah Sandra menepis perasaan nya. "Dia mengajak mu bertemu karena ingin mengatakan agar kau tak berharap banyak pada hubungan tak mungkin ini," ucap Sandra menggeleng. Tidak mungkin, itulah yang dia pikirkan.


"Ibu," Sandra menatap pantulan dirinya didepan cermin. "Apakah boleh aku jatuh cinta Bu? Rasanya aku bahagia sekali bisa berada didekat pria yang menolong Ibu," ssnfa tersenyum tangannya ia letakkan didada meresapi segala rasa yang sekarang ada disana.


Sebagai wanita normal tentu Sandra menganggumi sosok Sandy gang sempurna dan memiliki segalanya. Namun Sandra sudah lebih dulu menekankan agar ia cepat sadar pada dirinya sendiri.


Sandra keluar dari toilet setelah perasaan gugup nya sedikit hilang. Sejak kehilangan sang Ibu, ia tak pernah benar-benar santai dalam menghadapi hidupnya karena ia tahu setelah ini ia tak memiliki sandaran lagi untuk menceritakan semua masalah nya. Ia harus belajar hidup mandiri karena sekarang ia sendiri. Ia harus berdiri diatas kaki nya sendiri dan memulai segala sesuatu dengan langkah yang pasti.


"Pagi Sandra," sapa Henny.


"Pagi Hen," balas Sandra.


"Wait," Henny memperhatikan rantang nasi yang dibawa Sandra.


"Kenapa?" tanya Sandra heran.


"Kenapa rantang nasi mu dan Dokter Sandy sama. Hem, mencurigakan?" Henny memincingkan matanya curiga.


Sedangkan Sandra sudah gugup dan salah tingkah. Jelas sama karena itu memang rantang nasi nya. Niatnya tadi memang untuk Bima tapi karena lelaki itu sedang ada perjalanan dinas diluar kota jadi Sandra berikan saja pada Sandy dari pada dibuang.


Sandra acuh dan duduk saja di kubikel nya sambil meletakkan tas dan rantang nasinya.


"Jangan suhuzon," kilah Sandra. "Kau mau?" tawarnya.


"Hemmm seperti nya enak," Henny langsung mencomot saja daging ayam di rantang nasi Sandra.


Sandra menggeleng sambil tersenyum. Sahabat nya ini memang bar-bar tapi Sandra suka karena Henny selalu menghibur dirinya yang sedang patah hati saat ini.


"Kau yang masak?" tanya Henny sambil menyantap ayam goreng buatan Sandra.


"Siapa lagi kalau bukan aku?" Sandra terkekeh.


"Yupp istri idaman," goda Henny sambil mengedipkan matanya jahil.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2