Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Mommy baik-baik saja


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


“Mom,” Gilbert masuk kedalam ruangan Rachel dan memeluk sang Ibu.


“Son.” Rachel tersenyum hangat. Namun senyumnya memudar saat melihat Benedicto masuk kedalam ruangan nya.


“Apa Mommy baik-baik saja?” Tanya Gilbert penuh perhatian


“Mommy baik-baik saja Nak.” Rachel berusaha menahan emosinya karena ada Gilbert anaknya itu tidak boleh tahu jika sekarang dia sedang emosi.


“Kakak mengkhawatirkanmu Mom. Kenapa Mommy bisa terpejam seperti itu?” lelaki kecil itu menggenggam tangan Rachel dengan erat.


“Mommy hanya lelah Nak.” Lirih Rachel berusaha menahan lelehan bening itu dipipinya.


“Ayo kita keluar, biarkan Rachel istirahat dia hanya kelelahan saja,” ucap Sandy yang takut kalau Rachel sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.


“Gilbert tetap ingin disini menemani Mommy,” ucap Gilbert menatap Sandy penuh rapan agar Sandy mengizinkannya menemani Rachel diruangan ini.


“Iya Son, temanilah Mommy. Ingat jangan berisik. Mommy harus istirahat,” ucap Sandy memperingati Gilbert.


“Iya Pa,” sahut Gilbert menurut


Benedicto dengan berat hati keluar dari ruangan Rachel padahal dia sungguh ingin menjaga putri nya itu. Namunn apalah daya Rachel masih belum mau menatapnya sebagai seorang Ayah. Benedicto sadar bahwa terlalu banyak kesalahan yang dia buat selama ini pada putri nya itu.


“Ayah,” panggil Sandy. “Ayo keruanganku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Sandy.


Choky juga mengangguk. Sebenarnya dia juga butuh berbicara dengan Benedicto membahas tentang mental Rachel. Sepertinya Benedicto ini setengah memaksa agar Rachel menerima permintaan maafnya. Bagaimana pun sakit dihati Rachel akan sulit sembuh apalagi Benedicto membuang Rachel seperti sampah.


“Apa yang ingin kau bicarakan pada Ayah?” Tanya Benedicto duduk bersama Choky


“Masalah Rachel Ayah.” Jawab Sandy


“Kenapa dengan Rachel?” Kening Benedicto berkerut heran. “Apa dia baik-baik saja?” sambungnya dengan wajah sedikit panic, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


“Sebelumnya aku ingin minta maaf pada Ayah. Untuk sementara waktu sebaiknya Ayah kembalilah ke Indonesia karena Rachel butuh waktu untuk menerima apa yang sudah Ayah lakukan padanya. Kesehatan mental Rachel sedang bermasalah. Apalagi jika menyangkut masalah Ramos. Aku takut ini semakin menekan jiwa Rachel yang mungkin bisa saja membuat Rachel membenci Ayah.”


“Aku tahu Ayah merindukannya. Aku tahu Ayah ingin Rachel tinggal bersama Ayah. Tapi saat ini Ayah tidak bisa mewujudkan keinginan Ayah itu. Mengertilah Ayah.” Pinta Sandy setengah memohon.


“Iya Paman, apa yang diucapkan Sandy benar. Untuk sementara jangan temui Rachel dulu. Dia masih trauma berat terhadap perlakuan suaminya. Kami berdua sedang berusaha menyembuhkan kesehatan mental Rachel,” ucap Choky menimpali penjelasan Sandy.


Benedicto menunduk lemah. Lelaki paruh baya itu terlihat menghela nafas panjang. Sebenarnya sangat berat pulang ke Indonesia sebelum membawa putrinya karena dia sudah berjanji akan membawa putrinya pulang. Namun apalah daya, jika sang putri masih enggan menatap dirinya


Benedicto mengangguk. “Ayah akan pulang.” Dia tersenyum kecut, “Ayah titip Rachel. Jika butuh apa-apa tentang pengobatan cucu Ayah, katakan saja Ayah akan bantu,” ucapnya


Sandy mengangguk. Dia paham perasaan Benedicto. Namun yang lebih sakit disini adalah Rachel. Dia yang terbuang. Dia yang tak diinginkan. Jadi Benedicto tak bisa memaksa agar Rachel menerima maaf nya kembali.


.


.


.


.


“Iya Son, kenapa?” Tanya Rachel


“Kakak ingin membicarakan sesuatu pada Mommy. Bolehkah?” pinta Gilbert menatap sang Ibu.


“Bicaralah Son, apakah sangat penting?” Rachel mengusap kepala putra sulungnya ini. Jika bukan karena anak-anaknya Rachel takkan kuat menjalani pahit kehidupan yang dia alami.


“Tapi Mommy harus menahan emosi dan rasa marah serta trauma yang menyerang Mommy. Genggam saja tangan Kakak kalau Mommy merasakan ketakutan,” ucap Gilbert mengenggam tangan Rachel. “Mommy harus sembuh, Kakak tidak mau Mommy hidup seperti ini terus. Kakak tahu tidak mudah bangkit dari rasa sakit yang sudah membuang Mommy terluka.”


Rachel terkejut mendengar ucapan putranya. Dia menatap Gilbert. Kenapa anak berusia lima tahun bisa berbicara layaknya orang dewasa? Rachel lupa jika anak-anaknya dewasa sebelum waktunya.


“Kakak.” Rachel menatap Gilbert dengan berkaca-kaca


“Mommy pasti bisa. Lihat Kakak Mom.” Gilbert menempelkan tangan Rachel diwajahnya dan menatap sang Ibu. “Jangan takut. Tidak akan ada yang berani menyakiti Mommy lagi. Kakak berjanji akan menjaga Mommy. Kakak akan biarkan siapapun menyakiti Mommy.”

__ADS_1


Rachel mengangguk dengan lelehan bening dipipinya. Memang benar dia tidak akan bisa seperti ini terus. Dia tidak bisa terus terjebak didalam masa lalu yang membuatnya trauma berat. Dia tidak mau ini malah berakibat untuk anak-anaknya.


“Mommy Tarik nafas dulu. Lalu hembuskan.” Rachel menurut dan mengikuti apa yang diucapkan oleh Gilbert.


“Mom.” Gilbert menempelkan tangan Rachel ke wajahnya. “Apa Mommy sungguh membenci Daddy? Apa Mommy sungguh takut padanya? Apa Mommy sungguh tak ingin memberikan Daddy satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya?”


Rachel memejamkan matanya sejenak, rekaman kejadian enam tahun yang lalu melintas lagi dikepalanya. Ingin dia berteriak dan berlari ketakutan. Namun tangan mungil ini berhasil mengembalikan alam bawah sadarnya.


“Bukan hanya Mommy yang terluka tapi Kakka juga Mommy. Jika Kakak bisa, Kakak ingin Daddy merasakan apa yang Daddy rasakan. Tapi Kakak tidak bisa melakukan itu. Bagaimana pun dia tetap Daddy-nya Kakak.” Sambung Gilbert lagi. “Jika begitu berat untuk Mommy memaafkan Daddy. Kita bisa pergi jauh dari sini dna menjauhi Daddy. Kita cari tempat tinggal baru yang tidak bisa dijangkau oleh Daddy.” Imbuhnya lagi.


Rachel menatap putranya. Anak sekecil ini sudah bisa berpikiran diluar batas pemikiran orang dewasa. Darimana Gilbert menemukan pikiran untuk pergi jauh dan meninggalkan Ramos serta pergi sejauh mungkin. Dia saja tidak pernah memikirkan hal itu bahkan tak sama sekali muncul didalamnya.


“’Kakak.” Rachel mengelus wajah anaknya. “Mommy takut pada Daddy karen kejadian itu sungguh belum bisa Mommy lupakan. Dia… dia.”


“Jangan dilanjutkan Mom. Kakak sudah tahu.” Potong Gilbert. “Tapi Mommy tidak bisa terus seperti ini. Mommy harus sembuh. Gerald dan Gerra sangat menyanyangi nya Dad. Apa Mommy tak ingin anak-anak Mommy bahagia seperti anak lainnya?” Gilbert menatap Rachel yang tampak berpikir.


“Kakak sayang Daddy?” Rachel menatap putranya. Dia tahu jika putranya ini merindukan sang Ayah.


“Jika Mommy sayang Daddy, Kakak juga sayang Daddy. Tapi kalau Mommy tidak sayang Daddy, Kakak juga tidak akan sayang Daddy.” Bohong jika Gilbert tak menyanyangi Ayah kandungnya. Jauh didalam hatinya dia sungguh ingin bersama Ayah kandungnya itu.


“Mommy mungkin memaafkan Daddy. Tapi untuk kembali pada Daddy, Mommy tidak bisa Kak. Mommy tidak bisa. Luka yang dia tanamkan dihati Mommy tidak akan pernah bisa sembuh sampai kapan pun,” ucap Rachel berharap anaknya mengerti.


Baru kali ini Rachel tidak mengalami serangan panic saat membicarakan Ramos biasanya dia akan histeris dan menangis ketakutan, apa mungkin karena Gilbert yang mengenggam tangannya dan menyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja?


Bersambung......


Selamat berpuasa dihari pertama para kesayangan...


Semoga puasanya lancar ya...


Dan mungkin banyak yg tanya kenapa konflik nya belum selesai Thor ceritanya masih jalan disitu aja? Ehem, kita bakal tumpas semua permasalahan nya setelah selesai semua baru kita lihat apakah Rachel bisa diluluhkan oleh Ramos atau malah tetap pada pendiriannya? .


Yuk ikutin terus yaa...

__ADS_1


__ADS_2