
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ozawa terpaksa membawa istrinya terbang ke Sidney, Australia. Maria ingin bertemu dengan Rachel dan melihat kondisi menantu kesayangan nya itu. Tapi Ozawa tak yakin jika Rachel mau bertemu Maria.
"Aku sudah tak sabar bertemu menantu kita," seru Maria.
Ozawa menghela nafas panjang. "Tapi kau harus siap-siap menerima penolakan dari Rachel," ucap Ozawa memperingatkan istrinya.
"Aku sudah siap Ozawa tidak perlu khawatir," senyum Maria.
Ozawa mengangguk. Tapi dia tidak yakin akan diterima oleh Rachel. Benedicto yang notabene Ayah kandung nya saja ditolak dan tidak diterima oleh menantunya itu.
"Bagaimana keadaan Nirmala?"
Ozawa menggeleng. "Kondisinya semakin memburuk," jawab Ozawa lemah.
Ozawa sebenarnya merasa kasihan pada Benedicto dan Nirmala. Setelah mendapat kabar bahwa Rachel tak mau kembali, Nirmala kembali depresi hingga wanita itu drop total dan sekarang sedang terbaring dirumah sakit.
Ozawa melirik istrinya yang tampak tak sabar untuk bertemu dengan menantu mereka. Entahlah, mungkin nanti mereka akan diusir dari sana.
Sampai di kediaman mewah keluarga Morres, Ozawa dan maria turun dari mobil. Morres adalah pesaing bisnis Ozawa pada masa nya. Dulu mereka sama-sama bersaing menjajaki puncak nomor satu di klasemen bisnis Asia dan Eropa.
Ozawa menatap kediaman mewah Morres. Tidak heran jika ini disebut istana karena kemewahan nya memang seperti istana. Tidak hanya mewah tapi juga besar dan berkelas.
"Selamat siang Tuan. Nyonya," sapa pengawal yang berjaga disana.
Keduanya masuk. Sebelum nya kedatangan Ozawa dan Maria sudah diketahui oleh Morres karena Ozawa sudah memberitahukan pesaing bisnisnya itu.
"Morres."
"Ozawa,"
Morres menyambut kedatangan Ozawa dan Maria dengan hangat. Apalagi dulu mereka memang pesaing bisnis yang banyak disegani didalam dunia bisnis.
"Apa kabarmu?" Morres melepaskan pelukan sahabat nya.
"Seperti yang kau lihat," sahut Ozawa tersenyum ramah.
"Maria,"
"Lewi,"
__ADS_1
Kedua wanita paruh baya itu pun saling melepaskan rindu. Terakhir mereka bertemu ketika setelah menikah dan setelah ini mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Morres dan Lewi memutuskan menetap di Sidney sedangkan Ozawa dan Maria berpindah ke Indonesia dan melanjutkan perusahaan mereka yang ada disana.
"Ayo silahkan duduk," ajak Lewi.
"Lewi dimana Rachel?" Tanya Maria tak sabar.
Lewi menghela nafas panjang. Apakah Rachel siap bertemu dengan orang luar? Sebab setelah di nyatakan buta, wanita itu terlihat minder dan menepikan dirinya. Hanya orang-orang terdekat yang boleh menemuinya.
"Kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Lewi lembut.
"Iya Lewi. Aku sudah sangat lama merindukan menantuku itu," sahut Maria terdengar sendu.
Rachel adalah menantu kesayangan nya. Namun kesalahan terbesar Maria adalah membiarkan menantunya itu tinggal bersama putranya. Maria pikir ini bisa membuat penggantin baru mandiri tapi kenyataannya justru menciptakan neraka yang dibuat oleh putranya sendiri.
Lewi melirik kearah Morres. Sebenarnya dia tidak yakin membawa Maria menemui Rachel, tapi melihat wajah Maria yang seperti tak sabar membuat hati Lewi tergerak oleh belas kasihan.
Morres mengganguk tanda itu sebagai izin agar istrinya membawa Maria menemui Rachel.
"Ya sudah ayo,"
Lewi menarik tangan Maria. Ozawa dan Morres mengekor dari belakang.
"Rachel,"
Mereka semua menoleh kearah pintu masuk. Choky dan Sandy langsung berdiri menyambut kedatangan empat orang itu.
"Siapa Mas?" Rachel tampak meraba-raba dan penasaran dengan suara yang memanggilnya itu seperti tidak asing.
"Sandy. Choky. Bawa anak-anak keluar," tintah Morres.
"Baik Dad,"
Maria berkaca-kaca melihat tiga anak kembar itu. Wajah mereka mengingatkan dirinya pada putranya saat kecil yaitu Ramos. Duplikat Ramos kecil melekat diwajah kedua anak tampannya itu. Serta seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Rachel.
"Ayah, Gilbert tetap ingin disini. Gilbert janji tidak akan berulah." Pinta Gilbert menatap Choky dengan permohonan.
"Kau yakin Son? Ingat jaga sikap. Mommy bisa sedih kalau kau tidak sopan pada yang lebih tua," ucap Choky memperingatkan anak kecil itu.
"Gilbert janji Pa." Gilbert mengangguk. Semalam dia di interogasi habis-habisan oleh Choky dan Sandy karena telah berbicara tidak sopan pada Ayahnya. Choky dan Sandy menerima laporan dari Heru, asisten Ramos.
Choky dan Sandy membawa Gerald dan Gerra keluar dari kamar Rachel. Meski kedua anak itu awalnya menolak tapi berhasil dibujuk oleh Sandy.
__ADS_1
"Mom," Gilbert menggenggam tangan Rachel.
"Son siapa yang datang?" Tanya Rachel pada anaknya
"Rachel, ini Mommy,"
Deg
Jantung Rachel berdegup kencang. Keringat dingin membasahi dahinya. Tentu saja dia tahu suara siapa itu. Itu adalah suara wanita enam tahun lalu yang begitu baik padanya. Wanita itulah yang telah memintanya menikah dengan sang suami.
Rachel menggeleng. Air mata membanjiri pipi nya. Dia takut. Sangat takut.
"Son, bawa Mommy pergi. Pergi tidak mau disini. Mommy tidak mau," wanita itu menangis histeris.
"Rachel jangan takut Nak. Semua akan baik-baik saja," Lewi memberikan pelukan hangat pada Rachel.
Tangan Gilbert terkepal. Tapi dia berusaha menahan diri agar tidak emosi. Dia masih ingat pesan Choky tadi. Dia harus bisa menahan emosi nya. Kasihan Mommy nya.
"Rachel, ini Mommy Nak. Jangan takut. Mommy tidak akan menyakiti mu. Maafkan Mommy. Mommy merindukanmu. Maafkan Mommy Nak," ucap Maria bersimbah air mata.
"M-Mommy," ucap Rachel takut-takut.
"Iya Nak ini Mommy." Maria menggenggam tangan Rachel yang terasa dingin.
Rachel perlahan tenang saat Maria menggenggam tangannya. Ketakutan nya seolah menghilang. Maria adalah wanita baik dan sahabat dari Ibunya.
"Mommy," ucapnya.
Maria memeluk Rachel sambil menangis. Demi Tuhan dia sangat menyanyangi wanita ini sepenuh hatinya. Rachel bukan hanya menantu saja. Tapi Rachel sudah seperti anaknya sendiri.
"Mommy,"
Rachel mengeratkan pelukan nya sambil menangis hebat. Bagaimana pun dia adalah wanita rapuh yang butuh dukungan saat dirinya tengah rapuh seperti ini. Menjadi buta itu menyakitkan dan menggerikan. Tidak bisa melihat apa-apa itu bagai hidup dalam neraka. Namun Rachel dikuatkan oleh orang-orang yang peduli padanya. Anak-anak nya, Choky dan Sandy serta keluarga besar Morres.
"Menangis lah Nak,"
"Mommy," Gilbert ikut memeluk kedua orang itu.
Maria mengusap kepala Gilbert dan Rachel secara bergantian. Menantu dan cucu kesayangan nya. Maria berharap jika sebuah keajaiban terjadi dikeluarga agar dimasa-masa tua nya dia bisa menikmati hidup bahagia seperti seorang Ibu dan nenek pada umumnya.
Bersambung...
__ADS_1