Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Selamatkan adik kami


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ramos masih menunduk dengan wajah malunya. Ucapan anak-anak nya menyadarkan dirinya bahwa dia adalah manusia yang tak pantas mendapatkan kata maaf dari istrinya itu. Dia sadar, dia bukan suami dan Ayah yang baik. Ramos paham jika anak-anak itu membenci dirinya. Kesalahannya. Perbuatannya memang menjijikan.


"Maafkan Daddy Son." Dia menunduk dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.


Begitu juga dengan Ozawa. Dia merasa gagal menjadi seorang Kakek. Apalagi tatapan kedua anak itu terlihat dingin dan tak bersahabat. Anak-anak saja sudah tahu marah dan dendam apalagi menantunya Rachel, Ozawa tak bisa bayangkan sebenci apa Rachel pada Ramos.


"Dimana Ibu kalian Nak?" Tanya Ozawa menatap kedua bocah kembar itu sambil menyeka air matanya yang menetes


Tak ada jawaban dari kedua anak itu. Begitu juga dengan Choky. Kondisi mental Rachel belum sembuh, jika dia bertemu Ramos trauma nya itu bisa kambuh lagi seperti biasa.


"Ayah kita tidak punya banyak waktu. Gerra membutuhkan kita. Kita harus cepat kembali," ucap Gilbert melirik arloji yang melingkar ditangannya.


Choky mengangguk. Dia juga baru mendapat pesan dari Sandy bahwa kondisi Gerra semakin memburuk. Panik sudah pasti. Tapi Choky tidak bisa gegabah, orang yang dia hadapi bukan orang sembarangan. Dia harus jelaskan sedetail mungkin tentang kronologi kejadian agar Ramos mau menolongnya.


"Tuan Ramos, begini_"


"Daddy kami punya adik kembar. Kami kembar tiga, sekarang dia sedang sakit. Kata Papa Sandy namanya penyakit nya leukemia dan dia butuh pendonor tulang sumsum belakang, pendonornya harus Ayah kandung. Maukah Daddy menolong kami? Selamatkan adik kami Dad," ucap Gerald memohon dengan mata berkaca-kaca.


Sedangkan Gilbert masih belum bisa memohon kepada Ayahnya itu. Dia tidak yakin bisa berbicara baik-baik dengan sang Ayah. Mengingat kejadian di video itu membuat hatinya seketika membeku oleh balas dendam.


"Apa maksudmu Son?" Ramos berjongkok didepan anaknya Gerald. "Maksudmu, kalian kembar tiga begitu?" Tanya nya, jantung nya kembali berdebar. Betapa bodohnya dia menyia-nyiakan tiga harga yang begitu berharga


"Hem, begini Tuan Ramos. Kondisi Gerra memang sekarang semakin menurun, kedatangan kami disini memang berniat memberitahu anda tentang hal ini, karena hanya anda yang bisa menyelamatkan Gerra," ucap Choky menjelaskan.


"Pu-putriku sakit? S-dakit pa-rah?"

__ADS_1


Choky mengangguk "Leukemia stadium lanjut Tuan." Sahut Choky.


Ramos kembali terduduk dengan wajah menunduk. Hatinya bagai ditusuk oleh ribuan pisau ketika mendengar penjelasan Choky. Meski dia belum melihat seperti apa putri kecilnya itu tapi dia sungguh menyanyangi nya.


"Bisakah anda menolong kami Tuan?" Tatap Choky pada Ramos dengan penuh harap.


Gilbert menatap Ramos. Tangannya terkepal kuat. Dia harus kuat demi adiknya. Meski sesungguhnya rasa kecewa dan marah itu tak bisa dihilangkan.


"Saya bisa Tuan. Saya bisa." Ramos menyeka air mata. "Apapun akan saya lakukan demi istri dan anak-anak saya." Sambung nya kemudian.


Gerald menatap Ramos, hatinya sungguh rindu dengan sosok Ayah nya itu. Sangat rindu. Ingin dia memeluk Ramos. Tapi tidak bisa. Ibu nya pasti akan terluka jika tahu Gerald memeluk pria yang dibenci oleh Ibu nya sendiri.


"Bisakah anda tidak mengharapkan Mommy kami lagi?"


Deg


"Son." Choky menggeleng


"Maaf Ayah, dia harus tahu bahwa Mommy tidak bisa bertemu dia. Bagaimana kalau Mommy menangis lagi." Bukan Gilbert ingin egois, tapi Ibu nya takkan baik-baik saja jika sampai bertemu dengan Ramos.


Hati Ramos kembali seperti dihantam oleh ribuan ton batu, hingga terasa sesak dan perih hingga hancur berkeping-keping. Pertemuan yang dia harapkan. Wanita yang dia rindukan, ternyata tak ingin bertemu dengannya. Angan-angan untuk bersama Rachel kembali adalah sesuatu yang takkan bisa Ramos wujudkan lagi.


"Bisakah anda berjanji Tuan untuk tidak menganggu Mommy kami?" Pinta Gilbert. Dia belum bisa memanggil Daddy pada pria ini.


Ramos sejenak hanya mengangguk. Ini akan menjadi siksaan terparah dalam hidupnya.


Ozawa menatap sendu kearah Ramos. Kasihan putranya itu. Selama ini sudah cukup menderita dengan segala perasaan bersalahnya dan sekarang harus dihadapkan dengan menghadapi dendam anak-anak nya. Istri yang sudah lama dia rindukan untuk bisa saling bertemu hanyalah sebuah angan yang menghiasi mimpi malamnya.

__ADS_1


'Kasihan sekali kau Son. Semoga masih ada kesempatan untuk mu memperbaiki semuanya. Daddy yakin kau bisa melewati nya.' Batin Ozawa


Choky bernafas lega. Setidaknya dia tidak perlu menggunakan cara yang lain agar Ramos mau menolongnya. Kalau pun ada cara lain, Choky akan tetap lakukan demi menyelamatkan nyawa putri kecil yang selalu membuat hari-hari nya terasa berwarna itu.


Ramos menatap kedua putra kembarnya. Dia tak bisa memaksa. Tak bisa melakukan banyak. Dia harus sadar diri. Namun dia akan tetap berjuang untuk mempertahankan anak-anak itu agar selalu berada disisinya. Ramos tak mau melepaskan mereka lagi. Ramos tak mau kehilangan lagi. Dia juga akan membuktikan pada Rachel bahwa dia benar-benar menyesal atas segala perbuatannya itu.


"Daddy akan selamatkan adik kalian," ucap Ramos yakin.


Seorang Ayah adalah pelindung dari putri kecilnya, melihat putri kecilnya menangis saja hatinya bisa perih apalagi melihat putri kecil itu terbaring lemah, bukankah dia akan lakukan apapun demi kesembuhan putri kecilnya?


"Terima kasih Daddy." Sahut Gerald.


Ramos langsung terisak mendengar ucapan terima kasih dari anak lelakinya itu. Apalagi panggilan Daddy yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Kenapa rasanya sebahagia ini hanya karena mendengar ucapan terima kasih dari anak sendiri?


"Bolehkah Daddy memeluk mu Son?" Ramos menatap Gerald penuh harap.


Gerald terdiam, dia melihat kearah Kakak nya yang malah terdiam tanpa ekspresi. Gerald takut kalau Kakak nya itu marah. Lalu Gerald melihat kearah Choky yang tampak mengangguk yang artinya mengizinkan dia menerima pelukan Ramos.


"Kakak, bolehkah Gerald peluk Daddy?" Gerald menatap Gilbert. "Gerald rindu Daddy Kak." Lirihnya.


Gilbert tak menjawab. Dia tidak melarang atau mengizinkan. Dia tidak bisa katakan apapun. Dia hanya anak kecil yang kini perasaan nya telah dihancurkan sedemikian rupa.


"Maaf Dad, Gerald tidak bisa." Lelaki kecil itu menunduk.


Hati Ramos yang tadinya merasa melayang terbang ke udara seketika dihempaskan begitu saja. Dia mundur saat anaknya sendiri menolak untuk dia peluk.


Sesakit inikah rasanya ditolak? Sesakit inikah saat perasaan nya di abaikan dan tidak dianggap. Sekarang Ramos paham perasaan istrinya dulu, dia menolak istrinya dan bahkan mengatakan jika dia tidak akan pernah jatuh cinta pada istrinya sendiri. Dan lihatlah sekarang, dia berada diposisi itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2