
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Chika bangun pagi sekali. Ia sudah sibuk dengan alat-alat dapurnya. Dari kamar sudah terdengar bunyi gadis itu mengaduk masakkannya di wajan.
"Astaga, ini bau apa?" Arnetta mengendus-enduskan hidungnya. Ia langsung terduduk ketika mencium bau gosong. "Bau gosong?" gumamnya. "Ck, ini pasti ulah anak Sultan itu," Arnetta mendengus kesal.
Gadis itu turun dari ranjang nya dan berjalan keluar menemui Chika. Ia geleng-geleng kepala melihat dapur nya yang berantakan kotor, akibat ulah Chika.
"Oh My God, Chika," pekik Arnetta.
"Hehhe, Neta, coba masakkan ku yaaa?" dengan bangga gadis itu mengangkat mangkuk berisi masakkan yang dia buat.
"Ck, tidak mau. Bau nya saja membuatku ingin muntah," tolak Arnetta. "Chika, aku tidak mau tahu. Kamu harus bersihkan kembali dapurku," suruh Arnetta. Ia menggeleng melihat kondisi dapurnya.
Kost tempat Arnetta tinggal memang mewah dengan fasilitas lengkap terutama dapur yang dilengkapi dengan peralatan seperti dirumah pribadi. Hingga tak heran jika uang sewa kost ini bisa sampai 1-2 juta perbulan nya.
"Iya Sayangku. Maaf yaaa," Chika malah tersenyum tanpa dosa. Ia bangun jam 3 subuh demi belajar masak. Semoga saja masakkannya enak dan pas di lidah Choky.
Arnetta mendengus kesal gadis itu masuk kedalam kamarnya sambil dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra. Chika, benar-benar membuat nya pusing dan ingin gila.
"Lama-lama aku yang gila," keluhnya kembali berbaring dan menutup wajahnya dengan bantal.
Sedangkan Chika menyiapkan sarapan untuk Choky dan memasukan makanan itu kedalam rantang nasi. Ia sudah bangga dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Ini pertama kalinya dia masak dan memegang alat dapur. Sebelumnya mana pernah kecuali mengambil air minum
"Pasti Tuan Choky, akan ketagihan memakan masakkanku," seru nya bangga. "Ahh ternyata aku memang pintar memasak. Tidak hanya cantik tapi juga pintar dan multitalenta," puji nya pada diri sendiri.
Meski perusuh gadis itu membersihkan dapur Arnetta yang berantakan karena dirinya. Sebelum ia di omeli oleh Ibu negara itu. Arnetta tipe gadis yang memiliki tingkat kebersihan yang tinggi, ia alergi melihat barang-barang kotor dan berantakan. Sedangkan Chika sebaliknya. Ia gadis yang ceroboh dan jorok. Kadang juga kalau capek tidak mandi sama sekali dan langsung tidur.
"Ehem, apa aku cuti kuliah saja yaaa?" gumamnya. "Kalau bekerja tiap hari mana sempat aku masuk kampus dan mengerjakan tugas," ia menghela nafas panjang. "Ya sudah dehh, aku cuti saja,"
Chika membersihkan diri dikamar mandi kecil Arnetta. Gadis ini tak masalah mandi ditempat kecil yang tentunya jauh berbeda dengan tempat mandi nya di rumah besar milik keluarga nya. Perlahan Chika akan belajar hidup sederhana, tidak bergantung pada kemewahan.
"Tumben rapi?" tanya Arnetta melihat Chika yang sudah rapi dengan rok span selutut serta kemeja berwarna napi lalu dilapisi dengan blazer.
"Yup. Jangan lupa. Sekarang aku adalah sekretaris," ucapnya membusung kan dada dan bangga dengan jabatannya.
"Ya. Ya. Semoga Tuan Choky tidak stress memiliki sekretaris gila seperti dirimu," cibir Arnetta.
__ADS_1
Namun Chika malah santai-santai saja sambil memasang make up tipis di wajahnya. Sebenarnya gadis tomboy seperti nya sangat tidak suka make up tapi saat membaca peraturan yang Choky berikan akhirnya gadis itu belajar make up semalaman dan Arnetta menjadi bahwa pencobannya.
"Kamu yakin Ka, Tuan Choky akan suka makanan mu so_"
"Tentu saja," potong Chika cepat. "Masakan ku enak. Kamu rugi karena tidak mau mencicipi nya," seru gadis itu sambil memasukkan barang-barang nya kedalam tas kecil.
Tok tok tok
"Wahh ada tamu pagi-pagi. Siapa Ta?" tanya Chika masih sibuk dengan barang-barang miliknya. Gadis tomboy yang biasanya berpenampilan seperti laki-laki harus belajar feminim.
"Tidak tahu. Aku buka sebentar," seru Arnetta keluar dari kamar.
"Hem, hari pertama bekerja harus beri kesan baik. Jangan membuat Boss emosi. Semangat Chika," ucapnya menyemangati dirinya sendiri mengambil menggantung tas itu dibahu nya.
"Chika," senyum gadis itu memudar ketika mendengar suara yang begitu ia kenal.
"Kakak," Chika menatap dingin lelaki tampan yang masuk kedalam kamarnya. "Ada apa Kakak kesini?" ketus nya.
Lelaki itu menggeleng sambil tersenyum. "Mommy menyuruh Kakak jemput kamu. Kamu di minta pulang ke rumah," jelas lelaki itu.
"No. No. Kakak harus ingat. Kalau aku tidak akan pulang selama perjodohan itu belum di batalkan," ucap Chika penuh penekanan.
"Iya. Iya," lelaki itu mengalah. "Kamu ada uang. Ini pakai kar_"
"No Kak," tolak Chika mendorong kartu berwarna hitam yang kakaknya sedorkan. "Aku sudah bekerja dan aku tidak butuh uang dari Kakak lagi," ucapnya berbangga diri.
Daniel, nama kakak lelaki Chika. Hanya bisa tersenyum saja lalu memasukkan kembali kartu itu kedalam dompet nya.
"Ya sudah ayo Kakak antar," ia tidak mau memaksa karena adik nya ini memang tidak suka dipaksa. Maklum keras kepala dan otak batu
"Tidak mau," ketusnya melawati Daniel, lalu ia melirik arloji nya matanya membulat sempurna ketika melihat jarum jam ditangannya. "Ehhh ayo Kak. Soalnya aku buru-buru," sambil menggandeng tangan Daniel dengan manja.
Arnetta menggeleng melihat kemanjaan Chika pada kedua kakak nya. Kalau begini, bagaimana bisa ia mandiri?
"Ta, aku berangkat yaaa," sambil melambaikan tangannya saat ia sudah masuk kedalam mobil.
Arnetta mengangguk. "Semoga Tuan Choky tidak jantungan memiliki sekretaris tidak waras seperti nya," ucap Arnetta terkekeh sendiri.
__ADS_1
Daniel melakukan mobilnya kecepatan sedang. Daniel adalah kakak kembar Chika. Sedangkan Dania, sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Daniel masih betah melajang padahal usia nya sudah cukup dewasa.
"Kamu bekerja dimana?" tanya pada Chika yang tampak diam-diam saja tapi mulutnya komat-kamit. Entah apa yang di rapal kan oleh adiknya itu?
"Alexander Group," jawab Chika singkat padat dan jelas.
"Apa?" pekik Daniel
"Astaga Kak, tidak perlu teriak kali," protes Chika.
"Serius kamu kerja di Alexander Group?" tanya Daniel memastikan.
"Dua rius," sambil menunjukkan tangannya dengan huruf v. "Ya serius lah Kak masa iya aku bohong,"
Daniel cukup terkejut ketika mendengar adik nya bisa diterima diperusahaan besar itu. Perusahaan incaran para investor yang lainnya untuk menjalin kerjasama. Perusahaan urutan kedua terbesar di Asia setelah Ozawa Group.
"Chika," Daniel melirik adiknya.
"Ada apa?" ketus Chika.
"Kamu tidak kasihan pada Mommy, dia sampai sakit memikirkan kamu," ucap Daniel.
Chika terdiam. Sebenarnya ia tak ingin kabur kalau Ayah nya tidak memaksa dia menikah. Dia belum mau menikah. Dia masih muda dia masih kuliah.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" sambung Daniel lagi.
"Aku cuti Kak," sahut Chika.
"Ya ampun Chika, kenapa cuti. Kamu itu baru semester 4. Sudah ya, sebaiknya kamu pulang kerumah dan berdamai dengan Daddy?" bujuk Daniel. Pantas saja Daddy nya frustasi memikirkan gadis ini, dia sangat nakal. Menyebalkan.
"I'm sorry Kak. Aku tidak akan merubah rencana ku. Aku akan buktikan pada Daddy kalau aku bisa hidup mandiri," jawabnya penuh penekanan dan tak lupa gaya sombong dan angkuhnya.
Daniel menghela nafas panjang. "Tapi kenapa kamu ambil cuti? Kalau kamu cuti, kapan selesainya?"
"Kak, aku itu kerja. Mana sempat masuk ke kampus. Belum lagi tugas bejibun. Kalau badan aku bisa di belah dua, mungkin bisa aku lanjut dua-duanya," jawab Chika asal.
Daniel terkekeh. Tidak bekerja sama adik nya sering dapat surat cinta dari kampus karena terus berulah. Sebenarnya Daniel meragukan adiknya yang tinggal diluar sendirian. Untuk ada Arnetta yang siap menampung hidup Chika sementara waktu.
__ADS_1
Bersambung...