Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Pulang ke Indonesia


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡 🍡🍡


"Bagaimana Ayah?" Gilbert menatap Choky.


Choky bernafas panjang, "Apa yang harus Ayah katakan pada Mommy kalian?" Choky memijit-mijit pelipisnya tajam


"Ck, Ayah payah sekali. Bilang saja ingin mengajak kami perjalanan bisnis keluar negeri. Itu saja susah," cibir Gilbert


"Tidak segampang itu Son. Mommy kalian tidak mudah untuk dibohongi," ujar Choky.


"Ayah bisa katakan itu tanpa terlihat sedang berbohong," sambung Gerald, "Anggap saja Ayah sedang melakukan virtual baru," tuturnya kemudian.


Choky masih bingung dan terdiam cara apa yang akan dia lakukan untuk mengatakan pada Rachel. Tidak mungkin dia jujur dan mengatakan bahwa akan mengajak anak-anak itu terbang ke Indonesia untuk menemui Ayahnya.


"Sandy, kondisi Gerra bagaimana?" Choky menatap kearah Sandy yang juga tampak menghela nafas panjang.


Sandy menggeleng kepala "Kondisinya semakin menurun. Obat-obat yang aku berikan sama sekali tidak berfungsi ditubuhnya. Lambat laun Gerra akan drop total," terdengar helaan nafas panjang dari mulut dokter tampan itu.


"Ayah ayo cepat katakan pada Mommy. Waktu kita tidak banyak," desak Gilbert menggoyahkan tangan Choky dengan tatapan memohon.


Choky mengangguk. Dia harus meyakinkan Rachel agar mengizinkan membawa kedua anaknya, sebab wanita itu tidak bisa jauh dari anak-anak nya. Apalagi perjalanan ke Indonesia cukup memakan waktu lama dan urusannya takkan bisa selesai hanya dengan beberapa hari saja.


"Baiklah. Kalian tunggu disini, Ayah akan bicara dengan Mommy kalian," ujar Choky. Kedua bocah ini kalau keinginan nya tidak dituruti takkan berhenti merenggek sampai puas.


Sandy melihat kedua anak kembar yang tampak tak sabar sambil mengemasi pakaian mereka kedalam koper. Keduanya tak mau dibantu oleh pelayan dengan alasan takut ada barang yang tertinggal.


"Son, kalian sungguh yakin ingin bertemu Daddy?" Tanya Sandy sekali lagi.


Keduanya mengangguk dengan cepat wajah mereka kompak dengan senyuman manis. Apapun akan keduanya lakukan demi adik yang begitu mereka sayangi sepenuh hati.


"Sangat yakin Pa. Asal Gerra bisa sembuh tak masalah jika harus bertemu pria itu," jawab Gilbert memasukkan beberapa buku pelajaran di dalam koper miliknya. Selama ini anak-anak Rachel selalu homeschooling untuk menghindari orang-orang diluar yang berniat jahat untuk mencelakai mereka.

__ADS_1


"Apa kalian senang bertemu Daddy?"


"Senang sekali Pa," seru Gerald


"Tidak," sergah Gilbert cepat membuat Sandy dan Gerald melihat kearahnya, "Ini demi Gerra bukan ingin bertemu dengannya. Camkan itu," tegas Gilbert. Gilbert menatap adiknya, "Kau senang bertemu dengan pria yang sudah menyakiti Mommy, Gerald?" Tatapnya tak suka.


Gerald menggaruk tengkuknya. Kakaknya ini sulit sekali selalu saja mampu membuat nya tak bisa berkutip.


"Ya sudah cepat kemaskan barang-barang kalian," suruh Sandy. Jangan Gerald dia sendiri saja kikuk melihat tatapan mematikan bocah berusia lima tahun itu.


'Dia benar-benar mirip si brengsek itu. Mentang-mentang benihnya tak ada perbedaan sama sekali,' batin Sandy kesal


Gilbert dan Gerald kembali memasukkan barang-barang dikoper mereka. Entah sukses atau tidak Choky membujuk Rachel agar mengizinkan anak-anak nya ikut dengan alasan perjalanan bisnis keluar negeri, kedua bocah kembar itu tampak tak mau tahu. Sedangkan Choky setengah mati mencari alasan yang tepat agar Rachel tak curiga kemana dia akan membawa kedua anak kembarnya.


Sandy memahami perasaan Rachel yang selalu mengalami serangan panik ketika menyebut nama Ramos. Luka yang Ramos tinggalkan disana tak main-main, hingga membuat Rachel seperti mati rasa.


"Kenapa Ayah lama sekali? Ayah berhasil tidak membujuk Mommy," desah Gilbert sambil duduk setelah semua barang-barang nya sudah selesai dimasukkan kedalam koper miliknya.


"Tunggulah sebentar Son," ucap Sandy menenangkan. Dia tersenyum gemes melihat wajah Gilbert yang tak sabar itu.


Choky menggeleng menatap kedua anak Rachel yang seperti Boss. Sedangkan dia disemprot habis-habisan oleh Rachel karena berani mengajak kedua anak kembar itu. Untung saja walau pun marah-marah Rachel tetap mengizinkan kedua anaknya ikut Choky dengan satu catatan harus selalu memberi Rachel kabar.


"Ayah berapa lama perjalanan ke Indonesia?" Tanya Gilbert


"Hem, sekitar 18 atau 19 jam," jawab Choky, "Kalian istirahatlaj, Ayah sedang banyak pekerjaan," ucap Choky


"Iya Ayah," keduanya menurut


Kedu anak itu tampak senang menaiki jet pribadi milik Choky. Keduanya tak berhenti mengungkapkan kekagumannya saat sudah berada didalam jet mahal itu.


"Ayah berapa harga jet ini? Mewah sekali Ayah!" Seru Gerald.

__ADS_1


"Tidak mahal," jawab Choky asal.


"Apakah semurah harga mainan kami Ayah?" Sambung Gerald lagi masih tak puas dengan jawaban Choky.


Sementara Gilbert si sulung itu melipat kedua tangan didada dengan kacamata hitam yang menempel dihidung dan matanya dan dia tampak terpejam menikmati penerbangan nyaman itu. Meski ini kali pertama keduanya menaiki jet pribadi milik Choky tapi Gilbert tidak kampungan seperti adiknya. Dia cuek saja dan tidak tertarik dengan obrolan adik dan Ayahnya.


"Kau senang mengerjakan apa Ayah?" Gerald memang aktif dan dia tidak bisa diam berbeda dengan Gilbert yang pendiam itu.


"Proyek kerjasama perusahaan Ayah dengan klien," jawab Choky.


"Wahh Ayah keren. Nanti kalau Gerald sudah besar, Gerald juga ingin jadi pengusaha seperti Ayah," seru Gerald, "Punya banyak uang. Bisa beli rumah mewah seperti rumah Ayah. Bisa beli mobil baru seperti mobil Ayah dan punya jet pribadi seperti punya Ayah," sambungnya dengan wajah sumringah.


Choky terkekeh lalu mengusap kepala anak kecilnya. Tidak tahukah Gerald bahwa Daddy mereka lebih kaya dari Choky. Mungkin kekayaan yang Choky miliki takkan bisa dibandingkan dengan kekayaan yang keluarga Ozawa punya.


Jujur saja Choky sangat takut membawa kedua anak ini menemui Ramos tapi tak ada pilihan lain karena keselamatan putri kecil mereka jauh lebih penting dari pada rasa takut ini.


Choky takut jika Ramos nanti menyakiti anak-anak nya. Apalagi dulu Ramos begitu membenci Rachel dan menganggap wanita itu sebagai pembawa sial dalam hidupnya. Ramos saja tidak tahu jika dia memiliki anak, bagaimana kalau dia terkejut dengan kedatangan dua anak kembarnya yang sialnya wajah mereka begitu sama.


"Ayah, Indonesia itu seperti apa ya? Gerald penasaran? Apakah ada salju nya seperti ditempat kita? Apa perlu memakai mantel tebal Ayah?" Seru Gerald. Dari tadi pria berusia lima tahun itu tak berhenti berceloteh sendiri.


"Ehem, nanti kau akan tahu Son. Kita tidak perlu memakai mantel karena iklim disana panas," jelas Choky.


Gerald manggut-manggut paham. Dia tidak sabar ingin melihat tanah kelahiran sang Ibu.


"Tidurlah Son jika kau mengantuk," ujar Choky


"Tidak Ayah, Gerald ingin menemanj Ayah bekerja," serunya.


"Terima kasih Son," tangan Choky mengusap kepala Gerald.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2