
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ozawa masih menatap putranya dalam kecewa. Jika saja Maria dan Rayyan tidak menahannya sudah pasti putranya itu akan babak belur akibat pukulan diwajahnya.
“Katakan pada Daddy dimana Rachel, Ramos?” Sentak Ozawa. Kesabarannya sepertinya hampir habis. Dia tidak mampu menahan emosinya.
Ramos menggeleng “Ak-ku ti-dak tahu Dad.” Jawab Ramos jujur “Ak-ku sedang mencarinya.” Dia mengusap pipinya sambil menunduk. Dia malu kejahatannya telah diketahui oleh kedua orangtuanya dan wajah kecewa sang Ayah membuat Ramos yakin bahwa dirinya benar-benar jahat.
Ozawa tertawa mengejek mendengar ucapan putranya. Dia benar-benar tidak suka ada lelaki yang menyakiti wanita. Karena dia tidak pernah menyakiti istrinya baik dalam perkataan mau pun perbuatan apalagi dengan kekerasan seperti yang dilakukan Ramos pada istrinya.
“Untuk apa lagi kau mencarinya? Kau ingin menyakitinya?” Tatap Ozawa kecewa.
Sedangkan Maria menangis segugukan didalam pelukan Rayyan. Hatinya hancur ketika tahu apa yang dilakukan Ramos pada Rachel. Seandainya dia tidak mengikuti kemauan Ramos yang ingin tinggal di apartement bersama Rachel pada semuanya tidak akan jadi seperti ini.
Ramos lagi-lagi menunduk takut melihat kemarahan di wajah Ayahnya. Orang yang biasa dia lihat hangat dan penyabar tapi kini justru terlihat begitu menyeramkan. Hidupnya juga terasa tak berarti. Dia menyesal. Dia sangat-sangat menyesal menyiksa istrinya hingga membuat istrinya hilang.
“M-maaf Dad.” Sekeras-kerasnya Ramos ketika berhadapan dengan Ayahanya dia akan seperti anak kecil.
“Untuk apa kau minta maaf pada Daddy? Kau tidak bersalah pada Daddy, kau bersalah pada istrimu.” Ucap Ozawa dia masih emosi “Kau tahu Ramos, dia adalah satu-satunya wanita yang mencintai mu tanpa melihat kau siapa.” Ozawa memalingkan wajahnya.
“Dad, ayo kita temui Irina aku ingin meminta maaf padanya.” Pinta Ozawa memohon. Maria sungguh ingin bertemu dengan sahabatnya itu.
Ozawa menangguk. Dia mengusap kepala istrinya dengan sayang. Entah terbuat dari apa hati Ramos yang tega menyakiti istrinya? Sedangkan Ozawa melihat istrinya menangis seperti ini saja hatinya berdenyut sakit, dia merasa gagal menjadi seorang suami.
“Iya Sayang.” Emosinya segera mereda ketika melihat wajah teduh sang istri.
“Dad, Mom. Maaf. Tapi Bibi Irina sudah meninggal beberapa tahu yang lalu.” Ucap Rayyan. Dia baru tahu tadi jika Ibu dari Kakak iparnya itu telah meninggal.
Deg
“Apa?” Maria langsung luruh dan ambruk dipelukan suaminya.
“Sayang bangun.” Ozawa menepuk-nepuk pipi istrinya
“Mom.” Ramos dan Rayyan juga tampak panic
__ADS_1
“Heru siapkan mobil bawa Mommy ke rumah sakit.” Tintah Ramos setengah berteriak.
“Baik Tuan.”
Ozawa menggendong istrinya “Kalian tetap disini.” Dia menatap kedua putranya “Dan kau, cari istrimu sampai ketemu. Jangan kembali jika dia belum ditemukan. Ucapan maafmu akan diterima jika kau bisa membawa istrimu kembali.” Ozawa menatap putranya dingin lalu berjalan menggendong Maria.
Ramos terduduk kembali. Jangan kembali sebelum dia ditemukan. Kenapa kalimat itu sungguh menghantam hati dan jiwanya? Kenapa kalimat itu seolah pertanda bahwa dia tak akan memiliki kesempatan untuk menerima maaf dari kedua orangtuanya.
Rayyan juga menatap Kakaknya dingin. Dia memang penjahat kelamin tapi dia tidak sejahat Ramos. Dia masih memiliki perasaan untuk menyakiti seseorang.
“Apa kau menyesal Kak?” Tatap Rayyan
“Maaf.” Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Ramos.
“Percuma kau meminta maaf Kak jika kau saja tak berusaha untuk menemukan Rachel.” Cibir Rayyan “Cari istrimu Kak. Jangan sampai aku yang menemukannya. Jika aku yang menemukannya maka jangan harap kau bisa memilikinya kembali. Karena dia akan jadi milikku.” Rayyan tersenyum smrik
“Apa maksudmu?” Ramos langsung mencengkram kerah baju adiknya.
Rayyan tak takut sama sekali. Dia malah tersenyum mengejek saat Kakaknya menariknya dengan paksa.
“Kau pasti paham maksud ku Kak!” Ucap Rayyan sinis “Aku menginginkan istrimu sejak pertama kali melihatnya. Dan kau tahu, aku lah yang pantas memilikinya. Sedangkan kau pria yang patah hati dan aku turut berdukacita Kak, semoga kau tidak pernah menemukan istrimu lagi.”
Bughhhhhhhhhhhhhh
Ramos melayangkan pukulan diwajah Rayyan. Hingga pria itu tersungkur dilantai. Rayyan berusaha bangun sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah dia tertawa sinis.
“Kenapa kau marah? Bukankah kau tidak pernah menginginkan istrimu Kak? Jadi apa salahnya jika aku mengambilnya menjadi milikku.” Rayyan tersenyum sinis.
Ramos melengang pergi tanpa mau lagi mendengar ucapan adiknya. Dia emosi. Dia tidak tahu kenapa? Dia marah saat Rayyan hendak mengambil istrinya.
Rayyan menatap punggung Kakaknya dengan sinis. Dia masih meringgis kesakitan akibat pukulan Ramos.
“Gila, pukulannya kuat juga! Belajar dari mana dia ilmu bela diri.” Ucap Rayyan sambil memang sudut bibirnya.
“Biar saya obati Tuan.” Tawar Herwin
__ADS_1
“Tidak perlu.” Tolak Rayyan “Kau keruanganku sekarang.” Tintahnya
“Baik Tuan.” Herwin membungkuk hormat.
Rayyan berjalan masuk kedalam ruangannya. Wajahnya merah pedam. Jujur saja pukulan Ramos begitu sakit dipipinya tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur.
Rayyan menghempaskan tubuhnya diruang kerjanya. Dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernyaa.
“Apa sudah ada kabar tentang gadis itu Win?” Tanya menyalakan rokok ditangannya.
“Belum Tuan. Tidak ada jejak tentang Nona Rachel.” Sahut Herwin
“Apa menurutmu ada yang menyembunyikan keberadaannya?” Tanya Rayyan sambil menyesap rokok ditangannya
“Saya rasa begitu Tuan. Orang yang menyembunyikan Nona pasti bukan orang sembarangan.” Jelas Herwin
Rayyyan menghela nafas panjang. Kenapa dia merasakan sakit sekali ketika tahu perbuatan Kakaknya. Dan dia menyesal karena tahu semuanya sudah terlambat. Saat dia hendak ingin menolong Rachel, wanita itu malah menghilang seperti ditelan bumi.
“Tapi ada satu orang yang saya curigai Tuan.” Ucap Herwin
“Siapa?” Rayyan menatap asisstennya tajam “Cepat katakan?” Desak Rayyan.
“Dokter Sandy, Tuan.” Jawab Herwin sopan sambil membungkukkan badannya hormat.
“Kak Sandy?” Beo Rayyan “Apa hubungan Kak Sandy dan Rachel? Apa mereka saling kenal?” Tuturnya “Bukannya Kak Sandy itu sedang trauma karena kehilangan mantan tuangannya?” Cecar Rayyan.
“Hem, saya pernah melihat beberapa kali Dokter Sandy bersama Rachel ketika dirumah sakit Tuan. Bahkan mereka tampak akrab seperti sudah mengenal satu sama lain.” Jelas Herwin “Saya hanya curiga jika Dokter Sandy ada kaitannya dengan hilangnya Nona, Tuan.” Sambung Herwin kemudian.
Rayyan tampk terdiam mencerna ucapan Herwin. Dia tidak pernah tahu jika Sandy dan Rachel memiliki hubungan dan saling kenal satu sama lain.
“Baik. Kau selidiki Kak Sandy dan laporkan satu kali dua puluh empat jam padaku. Dan jangan samapi Kak Ramos yang duluan menemukan Rachel. Harus aku yang duluan. Aku paham Herwin?” Tintah Rayyan menatap asisstennya tajam
“Baik Tuan. Saya permisi.” Herwin melengang keluar dari ruangan Rayyan
Rayyan menekan putung rokoknya. Seperti ada sebuah misteri yang benar-benar harus dipecahkan.
__ADS_1
“Menarik. Kak Sandy mengenal Rachel, sepertinya ada sesuatu. Bersiaplah Kak Ramos, kau akan kehilangan selamanya.” Rayyan tersenyum licik.
Bersambung...