
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Rachel duduk dikursi roda sambil menatap dan menikmati udara segar di balkon kamarnya. Dia masih belum mampu untuk berjalan kakinya berat ketika hendak dia angkat.
Baru kali ini Rachel merasakan jiwanya tenang tanpa tekanan. Tanpa rasa takut. Tapi tetap saja dia merasa ada yang hilang dari dirinya. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Setelah sekian lama merindukan kebebasan dan udara segar. Akhirnya aku bisa melihat keindahan ini. Tuhan untuk kali ini izinkan aku bahagia." Gumamnya sambil memejamkan matanya.
Rachel belum tahu jika ada nyawa yang telah berdiam nyaman dirahimnya. Entah bagaimana reaksi wanita itu ketika tahu dirinya mengandung anak dari pria yang dia benci.
Kejahatan Ramos benar-benar melekat dijiwa Rachel. Terkadang wanita itu mengalami serangan panik dan ketakutan bukan main. Dia juga kadang bermimpi hingga berkeringat dingin ketika mengingat semua penyiksaan suaminya yang begitu kejam padanya.
Air mata Rachel luruh begitu saja. Ketika mengingat betapa dulu dia tersiksa. Betapa dulu dia tak diinginkan. Tubuh dan hatinya menjadi sasaran.
Tubuhnya disiksa sejadi-jadinya, dipukul ditendang dan dicambuk. Hatinya dihantam dengan perselingkuhan suaminya bahkan dengan tega nya pria itu bercinta didepan nya tanpa memikirkan perasaan nya yang hancur berkeping.
Rachel menutup matanya. Bagaimana pun dia tak bisa melupakan kejadian pahit itu.
"Tuhan aku tidak mau lagi kembali padanya. Tolong jauhkan aku darinya. Bahkan dia, dia sudah mengambil sesuatu yang ku jaga dengan susah payah, hiks hiks hiks." Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Rachel tak mendendam kekejaman suaminya. Hal yang paling membuat hatinya tak bisa terima adalah ketika Ramos merampas mahkotanya dengan kasar dan membuat jiwanya terguncang. Sekarang dia adalah wanita terbuang yang tak berharga.
"Rachel."
Choky dan Sandy menghampiri gadis itu. Keduanya tampak tersenyum kearah Rachel. Namun senyum mereka memudar ketika melihat air mata yang berjatuhan dipipi wanita itu.
"Rachel kau kenapa?" Tanya Choky panik.
"Mas."
Choky langsung memeluk Rachel. Membiarkan wanita berkepala plontos itu memeluk nya dan menangis didalam pelukkannya.
"Mas, aku takut Mas. Aku takut. Aku takut dia mencambuk tubuhku lagi. Aku takut dia menginjak jari-jari ku lagi. Aku takut dia menarik ku dan memasukan kepalaku kedalam buth up. Aku takut Mas." Wanita itu menangis histeris.
__ADS_1
Choky dan Sandy saling melihat. Kemarahan tampak jelas dimata kedua pria itu. Marah, sangat marah.
'Apa yang sudah kau lakukan Ramos? Apa yang sudah membuat Rachel ketakutan seperti ini? Kau benar-benar keterlaluan. Ku harap kau segera mendapat karma mu.' Batin Sandy.
Awalnya Sandy tidak tahu jika Rachel adalah istri dari Ramos. Ketika Choky menjelaskan apa yang terjadi pada Rachel, akhirnya Sandy paham kenapa Ramos jarang bertemu dengannya setelah menikah.
"Tenang ya Sayang. Tenang. Dia tidak akan menyakiti mu lagi. Ada Mas disini. Kita aman disini. Dia tidak akan menemukan kita." Ucap Choky menenangkan Rachel.
Begitulah Rachel ketika bayangan suaminya menyiksanya datang menyerang kepalanya. Dia akan berteriak histeris sambil meminta ampun.
Jiwa Rachel terguncang. Trauma berat. Ada depresi yang menyerang wanita itu. Terlalu banyak masa-masa sulit dan siksaan yang dia alami hingga dia merasa ketakutan bukan main.
"Mas aku takut hiks. Aku takut Mas. Mas Ramos nanti memukulku lagi. Aku takut Mas." Wanita itu masih menangis sambil melihat sekitar nya seperti mencari seseorang yang hendak ia hindari.
Sandy menghela nafas berat. Bagaimana caranya dia memberitahu Rachel tentang kondisi wanita itu. Jika Rachel terus begini, ketakutan dan menangis histeris.
Tapi cepat atau lambat Rachel tetap akan tahu jika dirinya dengan menggandung lebih baik Rachel tahu sekarang dari pada dia tahu nanti setelah perutnya semakin membesar.
Choky melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Rachel dengan lembut. Dia sangat rapuh melihat kondisi Rachel yang seperti ini. Wanita kuat yang selalu tersenyum itu kini tak lebih dari wanita depresi yang terlihat menggila.
"Rachel."
Sandy ikut berjongkok dan menatap wajah wanita ini. Sungguh Rachel benar-benar mirip dengan almarhum tunangan nya. Bahkan Sandy sempat berpikir jika Rachel adalah mantan tunangan nya yang sudah lama meninggal itu.
"Mas." Rachel menatap kearah Sandy "Mas aku tidak mau bertemu Mas Ramos lagi. Tolong aku Mas. Aku takut." Lirihnya.
"Iya Mas tidak akan membawa mu bertemu dengannya. Kita tidak akan bertemu dia lagi. Tenang ya." Ucap Sandy mengelus lengan wanita itu.
"Rachel, ada yang ingin Mas bicarakan. Rachel siap?"
Sebelumnya Sandy dan Choky serta Ayunia dan Alvan sudah sepakat untuk mengatakan tentang Rachel yang sedang berbadan dua. Mereka tak mau menyembunyikan fakta ini dari Rachel.
"Apa Mas?" Rachel menatap Choky dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Tapi Rachel harus berjanji apapun yang Mas katakan Rachel jangan syok. Rachel harus siap. Janji?"
Rachel tampak terdiam sejenak. Seperti nya memang ada sesuatu yang begitu penting yang ingin dikatakan oleh Sandy. Apakah ini mengenai kondisi Rima, adiknya? Atau ada hal lainnya?
"Iya Mas." Wanita itu mengangguk saja sebenarnya dia belum sanggup mendengar apa yang akan dijelaskan Sandy padanya.
Choky mengusap punggung Rachel berusaha menyalurkan kekuatan pada wanita itu. Dia bersiap-siap menerima reaksi Rachel.
"Apakah Ramos pernah tidur denganmu?" Tanya Sandy memastikan. Karena yang dia tahu Ramos begitu membenci istrinya ini, bagaimana bisa dia menghamili Rachel. Sandy hanya takut jika Rachel diperkosa oleh pria lain.
Wanita itu kembali terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca. Mengingat kejadian itu sungguh membuat dadanya terasa sesak. Mengingat Ramos menariknya dengan paksa dan melemparnya keatas kasur juga dengan cara paksa membuat Rachel ketakutan kembali.
"Mas aku takut Mas hiks hiks."
"Rachel." Sandy mengusap lengan wanita itu menenangkan Rachel "Pelan-pelan. Jangan takut. Kami disini bersamamu." Ucap Sandy lembut.
Rachel masih terisak sambil mengusap air matanya. Dia benar-benar syok rasanya tak mau mengingat kejadian itu lagi.
"Mas."
"Iya Hel?" Sandy tersenyum "Kenapa?" Tanyanya dengan senyuman manis meski sebenarnya itu adalah senyuman palsu. Sandy juga terluka melihat kondisi Rachel yang sekarang.
"Mas aku takut. Aku takut Mas. Aku takut." Dia lagi-lagi menangis.
Sandy menghela nafas panjang. Rachel tak bisa dipaksa untuk menjelaskan semuanya.
"Dia.. hiks hiks. Mas dia hiks hiks. Dia Mas, hiks hiks hiks." Badannya sampai bergetar karena ketakutan.
"Tenang ya. Tenang. Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan." Rachel menurut lalu menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan rate 5 guys...
__ADS_1