Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Bab 10. Sandy Story's


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Ayo Pa," ajak Gerald dan Gerra semangat.


Sedangkan Sandra tersenyum kaku. Sebenarnya ingin menolak tapi tidak tega.


"Aunty Sandra, sama Gilbert saja ya," ujar Gilbert mengandeng tangan Sandra.


"Ehhh iya, Tuan Kecil," sambut Sandra dengan senang hati. Dia memang menyukai anak kecil.


"Jangan panggil Tuan Kecil Aunty, panggil Gilbert saja. Gilbert bukan anak kecil lagi," ujar Gilbert yang tidak suka dipanggil kecil. Menurut nya dia sudah dewasa.


Sandra mendelik. Dilihat dari sisi mana pun, Gilbert masih lah anak kecil terlihat dari usia dan tubuh munggil nya.


"Iya Gilbert," senyum Sandra.


"Sudah, ayo," ajak Sandy.


Mereka keluar dari ruangan Sandy. Gerra digendong Sandy. Sedangkan tangan Sandy yang satu nya digandeng oleh Gerald. Sandra menggandeng tang Gilbert dengan senyuman kaku dan gugup. Ia belum terbiasa dekat dengan Sandy, sebab yang dia lihat Sandy adalah lelaki kaku yang sulit didekati oleh siapapun.


Terlihat mereka seperti keluarga bahagia. Gilbert mengayunkan tangan Sandra senyuman manis dan bahagia seolah sedang mendapat undian berhadiah yang membuat senyum nya manis bukan main.


Beberapa dokter dan perawat ikut tersenyum dan terbawa perasaan sendiri melihat betapa cocoknya Sandy dan Sandra. Mereka layak disebut sebagai pasangan serasi. Tidak hanya sama-sama tampan dan cantik tapi juga memiliki jiwa orang tua.


Semua perawat yang disini tahu betapa rapuhnya Sandra ketika kehilangan sang Ibu tercinta. Berusaha kuat dan tegar tapi kenyataannya ia tetaplah wanita rapuh yang tidak sanggup kehilangan.


"Papa bukain Mama pintu," seru Gerra.


"Gerra," Sandy mendesah.


"Tidak perlu Dok. Saya bisa masuk sendiri," tolak Sandra saat Sandy hendak membuka pintu untuknya.


"Aunty, kami panggil Mama saja tidak apa-apa kan?" pinta Gerald. "Boleh ya Pa?" sambungnya menatap Sandy dengan mata berkaca-kaca dan penuh harap.


"Hem," Sandra menggaruk tengkuknya. "Iya tidak apa-apa. Boleh," senyumnya manis sekali sampai Sandy salah tingkah sendiri.


"Yesss, Mama," Gerald memeluk Sandra dengan senang hati dan bahagia.


"Son," Sandy geleng-geleng kepala. Luar biasa sekali anak-anak Ramos ini


"Tidak apa 'kan Pa?" seru Gerald menatap Sandy dengan wajah polosnya.


Sandy mencebik kesal. "Tidak apa-apa," sahut nya ketus.

__ADS_1


"Pa, ayo masuk. Gilbert sudah lapar," teriak Gilbert didalam mobil. Ia sudah jenggah menunggu mereka masuk.


"Mama didepan saja sama Papa. Kami dibelakang," suruh Gerra masuk dan duduk disamping Gilbert.


"Tapi_"


"Tidak apa-apa Ma. Duduk saja didekat Papa," sambung Gerald.


Sandra menurut lalu masuk dan duduk disamping kemudi didekat Sandy. Sementara Sandy mendengus kesal. Awas saja, setelah pulang nanti dia harus menghukum anak-anak itu.


"Mama, rumah Mama dimana? Kami ingin bermain kerumah Mama," ujar Gerald.


"Rumah Ma-m-m-a jauh dari sini Sayang," jawab Sandra sedikit kaku menyebut dirinya Mama.


Diam-diam Sandy menyembunyikan senyum simpulnya. Hatinya sedikit hangat ketika Sandra tidak keberatan saat Gilbert, Gerald dan Gerra memanggil nya Mama.


"Ma, kapan-kapan main ke lumah Papa Sandy ya Ma. Lumah Papa Sandy besal sekali. Sebesar ini," seru Gerra sambil mengekpresikan dengan tangannya.


Sandra mengangguk. Sejujurnya ia tidak merasa nyaman terlalu dekat seperti ini dengan Sandy dan ketiga anak kembar ini. Malah hatinya merasa cemas. Takut ada yang salah paham. Ia tak mau bermimpi seperti Cinderella yang di sunting oleh pangeran. Ini adalah dunia nyatanya. Tidak mungkin ia dan Sandy memiliki hubungan spesial sedangkan derajat mereka jauh berbeda.


Sandra hanya seorang anak yatim piatu yang tak memiliki apapun. Gajinya sebagai perawat juga tidak besar, hanya cukup untuk membayai hidupnya. Belum lagi ia harus menyicil hutang nya pada Sandy yang masih banyak.


Sampai direstourant mereka turun dan masuk kedalam. Tampak ketiga anak kembar itu seperti tak sabar untuk bisa makan siang bersama.


"Samakan dengan Mama saja Pa," seru ketiganya bersamaan.


Sandy lagi-lagi mendengus kesal. Ia menatap ketiga anak kembar itu tajam. Namun yang dilihat malah santai-santai saja tanpa dosa.


"Mama pesan apa Ma?"


"Ehem, sebentar,"


Sandra membolak-balik buku menu. Jika masalah makan dia sebenarnya bukan tipe pemilih tapi ia harus memastikan bahwa yang masuk kedalam perut nya adalah makanan yang dan tidak berpengaruh pada kesehatan.


Sandra menyebutkan nama pesanan. Tak lupa ia memesan dissert.


"Anak-anak kalian tidak boleh minus es ya," pesan Sandra dan meletakkan kembali buku menu itu.


"Kenapa Ma?" wajah ketiga nya berubah masam. Mereka suka sekali minum es, apalagi ada jus nya.


"Tidak baik untuk kesehatan. Apalagi untuk pertumbuhan gigi kalian," jelas Sandra.


Wajah ketiga nya langsung lemes. Seperti nya Sandra sama seperti Rachel yang begitu ketat jika masalah makanan.

__ADS_1


"Iya Ma," sahut ketiganya.


Sandy tersenyum gemes. Ia terkekeh melihat ketika ketiga saudara kembar itu tampak kesal. Seperti nya ada pesaing rachel yang bisa membungkam mulut ketiga nya.


Pesanan mereka datang. Di meja makan tersedia makanan yang berbentuk vegetarian. Makanan yang paling di benci oleh ketiga nya.


"Mama kenapa sayuran semua? Gerald mau ayam goreng," protes Gerald.


"Iya Ma. Gella juga tidak mau makan sayulan. Tidak enak," sambil menutup mulutnya. Setiap hari dirumah harus makan sayuran, masa diluar pun harus makan dengan menu yang sama.


Sandra tersenyum. Ia menatap ketiga anak kembar itu dengan tatapan lembut dan keibuan. Ia memang memiliki jiwa seorang Ibu.


"Dengarkan Mama yaa Nak," ucapnya.


Sandy menyembunyikan senyumnya. Perasaan hangat yang sudah lama dingin itu kini kembali hangat.


"Sayuran bagus untuk pertumbuhan kalian. Daging juga bagus tapi tidak boleh setiap hari. Kalian mau nanti cacing hidup diperut kalian?"


Ketiganya menggeleng dengan cepat. Hal ini juga sering di bahas oleh Rachel.


"Iya Ma" jawab mereka bertiga.


"Ya sudah ayo makan," ajak Sandra sambil tersenyum simpul.


"Mama Gella mau disuapin Mama," sambil menarik piring nya mendekati Sandra.


"Iya Sayang. Sini biar Mama suapin," ujar Sandra mengambil piring gadis kecil itu.


Mereka makan bersama. Sesekali Sandy melirik Sandra yang tampak telaten menyuapi Gerra. Dan sesekali menyuapi dirinya.


Entahlah, Sandy tidak tahu bagaimana. Ia hanya takut tidak bisa sepenuhnya membuka hati untuk Sandra. Sandy tidak mau menjadikan gadis itu sebagai pelampiasan nya saja.


Ia menatap gadis itu yang tersenyum sambil bercanda dengan Gilbert, Gerald dan Gerra. Ia tak canggung sama sekali padahal baru kenal hari ini. Sandy menghela nafas panjang.


"Mama punya pacar?" tanya Gerald.


Sandy dan Sandra hampir saja tersendak minuman itu ketika mendengar pertanyaan Gerald.


"Kenapa menanyakan pacar Mama?" Sandra tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sementara Sandy menunggu jawaban gadis itu. Jantung nya berdegup dalam hati berharap jika lelaki yang sering bersama Sandra itu hanya lah teman biasa.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2