Love Me Please (Penyesalan suami kejam)

Love Me Please (Penyesalan suami kejam)
Ingin bertemu


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Rachel melepaskan pelukan Choky. Wanita itu langsung berdiri dan menyeka air matanya.


"Aku ingin bertemu Mas Ramos,"


"Rachel tunggu,"


Namun wanita itu malah keluar dari kamarnya sambilan setengah berlari. Dia ingin bertemu suaminya. Dia harus melihat kondisi suaminya. Dia harus meminta maaf atas semua yang terjadi pada suaminya. Dia egois karena mengeraskan hatinya dari pada memberi kesempatan kepada sang suami untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan.


"Mommy," teriak Gilbert. "Pa ayo susul Mommy," pintanya.


"Mommy," Gerra dan Gerald juga hendak mengejar Rachel namun secepatnya Morres dan Lewi menahan kedua anak itu.


"Rachel, tunggu," Choky mencengkram tangan Rachel dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.


"Lepaskan Mas, aku ingin bertemu Mas Ramos. Lepaskan Mas," Rachel berusaha melepaskan diri dari Choky.


"Rachel tenangkan dulu dirimu," Choky mengusap punggung wanita itu. "Kita akan cari dimana Ramos. Tapi kau tenang ya?"


Rachel menurut dan mengangguk sambil masih terisak. Dia ingin bertemu suaminya sekarang, dia tidak bisa menunda lebih lama lagi karena suaminya pasti tidak bisa berjalan sendiri tanpa seseorang didekatnya.


"Ya sudah ayo,"


Choky memapah Rachel masuk kedalam mobil diikuti oleh Sandy yang menggendong Gilbert.


"Mommy," Gilbert bergeser dan memeluk Rachel. "Maafkan Kakak Mom, Kakak sudah jahat pada Daddy. Maafkan Kakak," matanya berkaca-kaca.


Rachel menggeleng. "Jangan bicara seperti itu Nak. Kakak tidak salah. Kita cari Daddy ya Nak. Kakak mau kan memaafkan Daddy dan melupakan apa yang sudah Daddy lakukan pada Mommy?" Rachel mengusap pipi anak nya yang basah.


Gilbert mengangguk. "Kakak mau memaafkan Daddy, Mom. Kakak merindukan Daddy," Rachel menarik putra kecilnya itu kedalam pelukannya.


"Tenang. Kalian menangis. Kita pasti bertemu Daddy," Choky mengusap kepala Rachel dan Gilbert secara bergantian. Sementara Sandy fokus menyetir dan mendengarkan didepan.


'Mas, kau dimana? Apa kau baik-baik saja Mas? Ku harap kita masih bisa bertemu lagi Mas. Aku, aku ingin melihat mu, Mas. Maaf selama ini hatiku terlalu keras untuk memaafkan semua kesalahanmu. Aku tahu kau sudah berubah Mas. Ku mohon jangan pergi tinggalkan aku. Anak-anak sangat membutuhkanmu. Terima kasih untuk cintamu padaku, Mas. Aku tidak tahu jika cintamu sebesar ini, hingga kau rela tidak melihat demi aku. Jika takdir masih memihak kita, aku ingin kita hidup bersama selamanya denganmu, Mas,'


"Mas, kira-kira Mas Ramos kemana? Apa dia baik-baik saja Mas?" Cecar Rachel sambil memeluk anaknya.


"Mas juga tidak tahu Rachel. Ramos tidak mengatakan dia akan pergi kemana. Dia hanya menitipkan kalian pada Mas," jawab Choky.


Rachel memejamkan matanya. Kemana suaminya? Apa suaminya baik-baik saja? Siapa yang merawat suaminya? Menjadi buta itu menggerikan. Menjadi buta itu tidak ada kebahagiaan sama sekali.


Mobil Sandy terhenti dikediaman Rayyan. Mereka langsung turun dari mobil.

__ADS_1


Tampak Rachel berjalan tergesa-gesa sambil menggandeng tangan Gilbert.


"Rachel," sambut Maria.


"Mom," Rachel berhambur memeluk Maria sambil menangis.


"Nak, kau kenapa?" Tanya Maria membalas pelukan Rachel.


"Haii cucu Grandfa" sapa Ozawa pada Gilbert.


"Grandfa," Gilbert langsung memeluk Ozawa.


Ozawa terkejut, sebelum nya tidak pernah Gilbert bersikap seperti ini padanya. Biasanya cucunya itu selalu dingin tak tersentuh.


Sementara Rayyan menatap Gilbert kesal. Takkan dia lupakan jika keponakan nya itu sudah menyebabkan dirinya terkurung dirumah mewah ini. Lihat saja nanti Rayyan akan membalas kenakalan Gilbert itu.


.


.


.


.


"Tuan, ini minuman anda," Heru meletakkan segelas teh hangat diatas meja.


"Biar saya bantu Tuan," Heru membantu Ramos mengambil gelas diatas meja.


"Heru, apa aku terlihat menyedihkan?" lirihnya


"Tidak Tuan. Anda adalah pahlawan saya yakin suatu saat kebahagiaan akan menghampiri anda Tuan," jawab Heru tersenyum. Namun sayang senyum itu takkan bisa dilihat oleh Ramos.


"Kebahagiaan ku hanya Rachel dan anak-anak Heru. Tidak ada yang bisa membuatku bahagia selain mereka. Mereka adalah duniaku. Mereka adalah hartaku. Mereka separuh jiwaku. Aku merindukan mereka Heru," ucap Ramos terdengar sendu.


Ramos kembali menatap kosong kedepan. Hari-hari nya hanya duduk dan menikmati suasana nyaman disini. Suasana yang jauh dari orang-orang.


Ramos menikmati rasa sakit yang sekarang dia alami. Dia bisa merasakan penderitaan Rachel dulu. Tak apa, Ramos menikmati semua proses ini. Dia akan baik-baik saja selama Rachel dan anak-anak nya hidup bahagia.


"Bagaimana keadaan istriku, Heru? Apa dia sudah bisa melihat?" Tanya Ramos. Tangannya memang tongkat yang membantu nya berjalan.


"Nyonya sudah bisa melihat, Tuan,"


Ramos mengangguk. Dia bernafas lega jika istri nya sudah bisa melihat dan baik-baik saja. Setidaknya perjuangan Ramos untuk tidak sia-sia.

__ADS_1


"Kakak," Raina datang membawa nampan ditangannya.


"Haii Uncle Ramos," sapa doa bocah sambil menghampiri Ramos dan Heru.


"Siang kesayangan Uncle," Ramos meraba kepala dua anak kecil itu, anak dari adiknya Raina.


"Kakak makan dulu yaaaa?" ucap Raina meletakkan nampan itu.


"Ehem," Ramos hanya berdehem.


Raina menyuapi kakak nya dengan telaten dan setengah memaksa karena Ramos makan hanya sedikit. Kalau makan sedikit otomatis imun tubuh akan menurun dan itu bisa menyebabkan penyakit didalam tubuh.


"Uncle halus kuat-kuat makan, bial cepat sembuh," seru Alfa, putra kedua Raina


"Iya Son," Ramos tersenyum


"Raina Kakak sudah kenyang," tolak Ramos mendorong sendok yang disediakan adiknya.


"Kakak, kenapa makan sedikit sekali?" protes Raina.


"Iya Uncle, kenapa sangat sedikit?" Alsya ikut menimpali, Alsya adalah putri pertama Raina.


"Uncle sudah kenyang Sayang," sahut Ramos. Dia sama sekali tak nafsu makan.


Raina adalah saudara kembar Rayyan yang tinggal di Belgia bersama suami dan kedua anaknya. Suami Raina bangsa Belgia dan keturunan Belanda. Sementara Raina keturunan Indonesia dan Belgia.


Raina jarang pulang ke Indonesia lantaran pekerjaan nya yang sibuk dan suaminya juga yang sedang mengembangkan beberapa perusahaan disini.


"Minum obat Kak,"


Ramos meraba-raba gelas dan bulir obat ditangan adiknya.


"Sini, biar Raina bantu Kak,"


Raina membantu Ramos meminum obatnya. Raina sangat menyanyangi Ramos, karena dia memang lebih dekat dengan Ramos dari pada saudara kembarnya yang menyebalkan itu.


"Terima kasih Raina sudah merasa Kakak. Maaf merepotkan mu,"


"Sama sekali tidak Kak. Kau saja selalu menjagaku dulu waktu kecil bahkan sampai menikah. Sekarang biarkan aku yang menjaga dan merawat Kakak," Raina menyenderkan kepalanya manja di lengan Ramos.


"Iya Uncle. Alfa juga mau menjaga Uncle," sambung pria kecil itu.


"Alsya juga Uncle," sambung putri sulung Raina yang sudah berusia delapan tahun.

__ADS_1


Ramos tersenyum. Saat dirinya sedang rapuh seperti ini ternyata masih ada yang peduli dan perhatian padanya.


Bersambung...


__ADS_2