
Happy Reading 🌺 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sandy keluar dari ruangan pemeriksaan wajahnya tampak lesu dan sendu. Terlihat frustasi dan berantakan.
"Mas bagaimana keadaan putriku Mas?" Cecar Rachel.
Sandy menatap Rachel kasihan. Tidak cukup penderitaan dihidup wanita tiga anak ini. Sekarang dia harus dihadapkan dengan kondisi putrinya.
"Rachel, Mas."
"Gerra kenapa Mas? Ayo cepat katakan?" Desak nya. Air mata Rachel juga berderai dipipinya.
Sandy menghela nafas panjang. Dia tersenyum kearah Rachel. Lalu tangannya terulur mengusap kepala wanita yang dia cintai dalam diam. Kenapa hanya mampu Sandy cintai dalam diam karena dia ssdar, Rachel adalah wanita yang sulit untuk digapai apalagi trauma beratnya terhadap pernikahan membuat Sandy memilih mencintai dalam diam. Dibanding dia mengungkapkan perasaan nya dan Rachel malah menjauhinya nanti.
"Gerra....."
"Gerra kenapa Mas?" Desak Rachel dengan isakkan tangis.
"Gerra menderita leukemia stadiun satu."
Deg
Tubuh Rachel langsung luruh. Jika saja Choky tidak menangkapnya dengan segera sudah pasti wanita itu akan terjerembab ke lantai karena mendengar ucapan dan penjelasan Sandy.
"Gerra."
"Gerra."
Rachel menangis histeris menangisi putri kecil itu. Bagaimana bisa anak usia lima tahun menderita penyakit mengerikan yang ditakuti semua orang? Bagaimana bisa utj terjadi pada putrinya. Padahal selama ini Rachel menjadi Ibu siaga yang selalu menjaga anak-anak nya baik dalam hal kebersihan mau pun makanan.
"Gerra." Wanita itu memberontak didalam pelukkan Choky.
"Arghhhhh."
"Rachel."
Choky dan Sandy berhambur menolong Rachel yang tersungkur dilantai sambil memegang bagian pinggangnya.
"Arghhhhh."
"Rachel."
"San, cepat bawa Rachel."
Seketika wanita itu hilang kesadaran dan pingsan didalam gendongan Sandy. Selain syok ginjalnya yang bermasalah batinnya juga kembali tertekan ketika mendengar kondisi putrinya.
"Rachel bangun Rachel." Choky menggenggam tangan Rachel "Kau harus kuat Mas tidak akan pernah meninggalkan mu." Dia mengecup punggung tangan wanita yang masih pingsan itu.
Sandy terdiam melihat Choky yang mencium punggung tangan Rachel. Setidaknya Choky lebih berani dari pada dirinya yang pengecut dan takut itu.
.
.
.
.
Sedangkan didalam toilet Gilbert dan Gerald masih sibuk mengutak-atik ponsel Choky. Kini giliran Gilbert yang mengotak-atik ponsel Choky.
__ADS_1
"Orang ini disuruh oleh pria yang tinggal dirumah ini," ucap Gilbert "Wajahnya sangat mirip dengan Daddy." Sambung nya kemudian.
"Apa menurut Kakak dia Daddy."
"Bukan." Sahut Gilbert cepat "Mungkin saudara Daddy." Timpalnya lagi.
"Sebentar Kakak akan cari identitas nya." Gilbert kembali mengotak-atik ponselnya.
"Ketemu." Seru Gilbert.
"Dia siapa Kak?" Tanya Gerald penasaran.
"Rayyan Horta Ozawa." Gerald membaca nama yang tertawa disana.
"Nama belakang nya sama dengan nama Daddy. Apa dia saudara Daddy?" Tanya Gerald
"Mungkin. Wajah nya juga sedikit mirip Daddy dan kita." Jawab Gilbert "Dan kenapa dia mengawasi Mommy? Apa selama ini dia mencari kita?" Ujar Gilbert.
"Seperti nya begitu Kak. Mungkin dia disuruh Daddy."
Gilbert menggeleng "Kakak rasa tidak. Dia pasti punya niat lain mengawasi Mommy." Jawab Gilbert "Kita harus cari tahu siapa dia sebenarnya? Apa maksudnya mengawasi Mommy? Apakah dia punya niat jahatnya."
Gerald mengangguk setuju. Kedua bocah itu terlalu asyik dengan ponselnya sehingga dia melupakan sang Ibu dan adik mereka yang sekarang tengah sama-sama rapuh dan butuh dukungan.
"Gerald kembalikan sistemnya seperti semula jangan sampai Ayah curiga kalau kita retas data."
"Iya Kak."
Gerald mengembalikan sistem ponsel Choky ke semula.
"Ya sudah ayo kita kembali. Takut Mommy mencari."
"Mommy sama Ayah dimana?" Gerald celingak-celinguk mencari keberadaan Ibunya.
"Mungkin diruangan Gerra." Jawab Gilbert
"Gilbert. Gerald." Panggil Sandy berjalan kearah dua bocah tampan itu.
"Papa."
"Ayo ikut Papa." Sandy menggandeng tangan kedua bocah itu.
"Kemana Pa?" Gerald mengangkat kepalanya melihat Sandy "Mommy kemana?"
"Ikut saja ya Son."
Keduanya mengikuti Sandy meski mereka tidak tahu kemana Sandy akan membawa kedua nya pergi.
"Mommy."
Rachel duduk dikursi dekat ranjang Gerra sambil menggenggam tangan putrinya yang tertidur dengan nyaman itu.
"Son." Rachel merentangkan kedua tangannya agar putra nya itu memeluk nya.
"Mommy." Gilbert dan Gerald berhambur memeluk Rachel.
Rachel memeluk kedua anaknya. Saat ini dia harus kuat dan tidak boleh lemah. Anak-anak nya butuh dia bukan air matanya.
"Mommy kenapa?"
__ADS_1
"Biarkan Mommy peluk kalian sebentar saja Son. Mommy lelah." Lirih Rachel.
"Iya Mom."
Choky dan Sandy turut prihatin dengan kehidupan Rachel. Tak pernah berhenti penderitaan menghampiri nya. Baru saja memulai hidup baru dengan ketiga anaknya tapi sekarang dia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit yang membuat jantung nya serasa berhenti berdebar.
Gilbert dan Gerald melepaskan pelukan mereka. Keduanya heran melihat pipi Rachel yang basah karena air mata.
"Mommy kenapa?" Tangan mungil dan lembut itu mengusap pipi Rachel.
"Siapa yang menyakiti mu Mom? Ayo katakan pada Kakak. Kakak akan hajar dia," ucap Gilbert khawatir melihat Rachel menangis.
Rachel tersenyum. Dia bangga pada anak-anak nya yang selalu paham pada dirinya. Anak-anak nya dewasa dan tak menuntut apapun.
"Mommy tidak apa-apa." Jawab Rachel
"Adik kenapa Mom? Kenapa dia dipasang selang-selang itu?" Tanya Gilbert melihat beberapa selang ditubuh adiknya.
"Son, adikmu..." Rachel berat sekali mengatakan ini, tapi anak-anak nya bukan anak-anak biasa.
"Gerra kenapa Mom?" Gerald itu bertanya tampak matanya sudah berkaca-kaca.
"Adik kalian menderita leukemia."
Kedua nya langsung terdiam. Mungkin diusia anak normal lainnya tidak tahu apa nama penyakit itu. Tapi Gilbert dan Gerald sudah paham dan mengerti.
"Pa." Gilbert menghampiri Sandy "Apakah ada metode penyembuhan selain pendonoran tulang sumsum belakang?"
.
.
.
.
.
"Hem, bagaimana?"
"Wanita itu melahirkan anak kembar tiga Tuan. Wajah mereka sangat mirip dengan Ayahnya." Sang asisten memberikan beberapa lembar foto yang dia ambil secara candid.
Pria itu menatap lembaran foto ditangan nya. Dia menggeleng kagum, bagaimana bisa wajah ketiga bocah itu sangat mirip dengan kedua orangtuanya? Seperti pinang dibelah dua.
"Apa yang mereka lakukan dirumah sakit?"
"Nona Kecil seperti nya sedang sakit Tuan. Karena saya melihat Nyonya Rachel menggendong putri nya." Jawab sang asisten.
"Apa Kak Sandy dan Choky menyadari bahwa kau mengawasi nya?"
"Tidak Tuan. Mereka tidak tahu sama sekali." Sahut sang asisten.
"Baik. Terus awasi mereka."
"Baik Tuan. Saya permisi."
Pria itu kembali menatap foto ditangan nya. Benar-benar mirip. Bahkan susah membedakan wajah kedua bocah lelaki itu.
"Kak Ramos aku sudah menemukan mereka. Tenanglah Kak. Mereka adalah milik mu. Mereka akan kembali kepada mu." Ucapnya penuh keyakinan.
__ADS_1
Bersambung.....