
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Sus, saya mau hitung rincian biaya berobat Ibu saya selama disini," ucap Sandra.
Gadis itu membawa amplop berwarna coklat ditangannya, itu pemberian Bima. Dia akan mencicipi biaya rumah sakit sang Ibu.
"Sebentar Nona," sang perawat tampak mengotak-atik komputer nya. "Atas nama Nyonya Fatmala?"
"Iya Sus," sahut Sandra. Ia menghela nafas panjang. Semoga saja uang ini bisa sedikit membantu.
"Maaf Nona, tapi semua biaya administrasi atas nama Nyonya Fatmala sudah dilunasi," jelas sang suster.
Sandra terkejut. "Maaf Sus, boleh di ulangi lagi," ucap Sandra. Apa dia tidak salah dengar.
"Pasien atas nama Nyonya Fatmala, semua biaya administrasi nya sudah di lunasi," ulang nya sekali lagi.
Sandra benar-benar terkejut. Siapa orang yang sudah melunasi biaya rumah sakit Ibu nya? Apakah Bima? Tapi tidak mungkin, lelaki itu pasti akan jujur padanya jika melakukan sesuatu.
"Sus, kalau boleh tahu siapa yang melunasi nya ya?" tanya Sandra penasaran dan juga bingung. Tidak mungkin ada orang baik yang tiba-tiba melunasi biaya administrasi Ibu nya tanpa ada ikatan apapun dengan nya.
"Disini tertanda atas nama Dokter Sandy Wijaya," sahut sang suster.
Sandra mendengar tak percaya. Sandy? Dokter dingin itu melunasi biaya rumah sakit Ibu nya? Benarkah? Atau salah informasi! Bagaimana mungkin dokter tak tersentuh itu mau menolongnya.
"Terima kasih Sus. Saya permisi," pamitnya.
"Sama-sama Nona,"
Sandra melangkah sambil bergumam seperti orang gila. Ia tampak berpikir kuat, bagaimana bisa Sandy tiba-tiba berbaik hati mau menolong nya? Ia sama sekali tak dekat dengan lelaki itu. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa saja jarang jika tidak ada sesuatu yang penting.
Sandra duduk dibangku tunggu depan ruangan Ibu nya. Malam ini dia ship malam jadi siang nya bisa menjaga sang Ibu.
"Apa iya Dokter Sandy yang melunasi biaya rumah sakit Ibu?" gumam nya. "Tapi, bagaimana mungkin?" terdengar helaan nafas panjang.
__ADS_1
Sandra adalah gadis pekerja keras dan keras kepala. Ia selalu tak mudah menerima bantuan dari orang lain kecuali Bima. Sandra tak mau berhutang budi apalagi pada orang yang tidak dia kenal jauh seperti Sandy.
"Aku harus menemui Dokter Sandy. Bagaimana pun aku telah berhutang padanya dan aku akan menyicil," ucap nya.
Sandra menuju ruangan Sandy. Ia berdiri tepat didepan ruangan lelaki itu. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu namun ia sedikit ragu. Takut jika nanti malah menganggu dokter yang satu itu.
"Tapi, kalau bukan Dokter Sandy bagaimana? Bisa jadi, bukan dia," gumam nya tampak ragu. "Ahh tidak mungkin orang menggunakan nama nya sembarangan. Baiklah, aku harus menemuinya untuk mengucapkan terima kasih serta membayar dengan cara menyicil,"
Tok tok tok
"Masuk,"
Terdengar sahutan dari dalam untuk mempersilahkan Sandra masuk.
Sandra membuka pintu pelan dan masuk. Ahh sebenarnya ia tidak berani menatap wajah dingin Sandy. Sandra tak pernah melihat Sandy tersenyum.
"Selamat siang Dok," sapa nya ramah.
Kepala Sandy terangkat. Alis nya berkerut heran saat melihat gadis itu masuk kedalam ruangan nya.
"Dok, maaf menganggu waktu anda. Ada yang ingin saya bicarakan," ucap Sandra hati-hati. Sandy terkenal killer dan tegas. Jadi ia harus berbicara pelan takut menyinggung perasaan lelaki itu dan Sandra bisa kehilangan pekerjaan nya.
"Duduk," suruh Sandy tanpa melihat Sandra.
"Iya Dok," Sandra duduk di kursi depan meja Sandy.
Jadi jemari Sandra saling meremas satu sama lain. Sejujurnya dia sedikit gugup. Sandy adalah dokter yang dulu pernah menjadi atasan nya dibagian farmasi bedah. Jadi ia cukup mengenal seperti apa sifat lelaki itu.
"Ada apa?" Sandy menutup berkas nya. Ia sudah tahu kedatangan Sandra disini. Hanya saja sengaja membuat gadis itu mengatakan nya.
"Dok saya mau bertanya," ucap Sandra tanpa basa-basi. Gadis ini memang gadis yang berani dan tegas. Ia kalau bicara apa adanya. Tidak suka bertele-tele dan terkesan keras kepala.
"Apa?" Sandy melipat kedua tangannya didada. "Apa ada masalah denganpekerjaan mu?" tanya Sandy sambil menatap gadis didepannya dengan selidik.
__ADS_1
"Bukan," Sandra menggeleng dengan cepat. "Dok, apa anda yang melunasi biaya rumah sakit Ibu saya?" tanya Sandra.
"Kenapa?" Sandy seperti nya tertarik untuk mengerjai gadis ini.
"Tidak. Hanya saja saya penasaran. Apakah benar Dokter yang melunasi biaya Ibu?" tanya Sandra sekali lagi.
"Iya. Kenapa?" ucap Sandy
"Tidak. Saya sedikit berpikir, kenapa anda bisa melunasi biaya rumah sakit Ibu? Maksud saya, kita bukan keluarga bahkan rekan kerja pun tidak terlalu akrab. Apakah akan semudah itu menghamburkan uang untuk menolong orang yang tidak dikenal?" tanya Sandra bertubi-tubi.
Sandy mendelik mendengar pertanyaan wanita didepan nya ini. Ia pikir Sandra datang untuk menyanjung tinggi dirinya karena sudah membantu gadis itu. Tapi ternyata pertanyaan Sandra membuat Sandy sadar bahwa uang tidak membuat sebagian orang tertarik.
"Saya hanya ingin menolong. Itu saja tidak ada maksud lain," jawab Sandy. Kenapa dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Sandra?
Sandra mengangguk. "Sekali lagi terima kasih Dokter sudah menolong saya. Tapi saya tidak bisa menerima pemberian Dokter. Maaf bukan saya tidak menghargai. Saya hanya tidak biasa saja Dok. Dan saya akan mencicil uang yang sudah dokter keluarkan untuk melunasi biaya rumah sakit Ibu," Sandy meletakkan amplop berwarna coklat diatas meja Sandy lalu mendorong nya.
Sandy terkejut. Lalu menatap amplop didepannya.
"Dok, mungkin saya mencicil nya sedikit lama. Tapi Dokter tenang saja, saya pasti bayar sampai lunas," ucap Sandra menangkup kedua tangannya didada lalu membungkuk hormat.
Sandy menyembunyikan senyumnya. Entah kenapa, wanita ini mengingatkan nya pada Rachel? Sifat keras kepalanya sama dan tidak mau menerima bantuan orang lain padahal dia sangat perlu.
"Tidak perlu diganti. Ambil lah," Sandy mendorong kembali amplop itu pada Sandra.
"Tidak Dok. Saya harus tetap membayarnya," tolak Sandra menahan tangan Sandy yang mendorong amplop itu.
Sandra berdiri dari duduknya. "Kalau begitu saya permisi Dok. Sekali lagi terima kasih," ucap nya berpamitan sambil tersenyum hangat.
Sandy tak menjawab. Ia menatap punggung Sandra yang menghilang dibalik pintu lalu kembali menatap amplop ditangannya.
Sandy tersenyum tipis. "Gadis unik," gumam nya sambil menggeleng gemes. "Berapa isi nya?" Ia membuka amplop itu dan mengambil isi nya. "Dua juta?" Sandy geleng-geleng kepala sambil tersenyum. "Mau dia cicil berapa tahun?" Ia terkekeh sambil memasukkan kembali uang itu kedalam nya.
"Zaman sekarang masih ada juga wanita yang menolak uang. Dia benar-benar mirip seperti Rachel," Sandy lagi-lagi menghela nafas panjang. Ahh sulit sekali menghapus wanita itu dari bayangan nya.
__ADS_1
Bersambung....